Framing The Sky

Framing The Sky

“Lost opportunities, lost possibilities, feelings we can never get back. That’s part of what it means to be alive. But inside our heads – at least that’s where I imagine it – there’s a little room where we store those memories. A room like the stacks in this library. And to understand the workings of our own heart we have to keep on making new reference cards. We have to dust things off every once in awhile, let in fresh air, change the water in the flower vases. In other words, you’ll live forever in your own private library.”
― Haruki Murakami, Kafka on the Shore

The Persistence

The Persistence

“For most Muslim women, rejecting religion is not an option. We are believers, and as believers we want to find liberation, truth and justice from within our own faith. We feel strongly that we have a right to reclaim our religion, to redefine it, to participate and contribute to an understanding of Islam, … “

Forever Spring

Forever Spring

“Walking into the freshness of the day
Hearing the song that free birds sing
Wearing a dress with ruffles and bows
Enjoying the marvels of a joyous spring”
(Theresa Ann More: Girls Will Be Girls)

White Crown

White Crown

“Smiling prettily in front of the mirror
Placing a crown of woven flowers
Among carefully combed curls
Attaining a posture that empowers”
(Theresa Ann Moore: Girls Will Be Girls)

I Only Want To Be A Scholar, And I Don’t Know What’s Wrong With That

(posted for: GOD, to celebrate my 5 years in waiting for a chance..)

I only want to be a SCHOLAR,

as simple as that…

I only want to teach, write, and contribute…

Nourishing and nurturing the creative and brilliant minds,

finding magic while I am breathing the students’ thirst of knowledge,

and finding relieve to know that I am among the ones who could fulfil it

I only want to be a SCHOLAR and I don’t know what’s wrong with that.

I only want to ask questions, provide answers, and educate…

I’ve been working on my way to get there,

patching my dreams here and there,

praying,

studying,

I only want to be a SCHOLAR and I don’t know what’s wrong with that.

I only want to dedicate my life for education, for peace, for humanity…

I am dreaming to touch Sub-Saharan Africa, and being a mother for as many abandoned child as I can,

I am planning to be in Gaza, West Bank, and Jerusalem, to tell the people that they still have hopes for peace,

I am wishing to be in every parts of the world, on where I can meet my fellow unfortunate woman, sharing motivations and giving them access to education

I only want to be a SCHOLAR and I don’t know what’s wrong with that.

(Jember, 6/4/12, 5.21 am)

 

Happy Endings

When I remember the fairytales, read to me as treats..
I remember the scary bits, big bad wolf, three little piggies, squeeking in terror…, what big teeth you’ve got..
Mirror Mirror On The Wall, and they are all mixed up..
I chose to forget the pat happy endings: the Prince’s kiss, resting uncomfortably on my imagination, my memory forces him and his gallantry to get lost in the woods…
And I wished, out of wickedness, that Rapunzel had short cropped hair…
Tonight, my imagination gallops across moors wishing, she didn’t have to conjure up a happy ending…
Somewhere hanging tentatively on the edge of our pain, there must be something that edges close to happiness, and at least enters into love, and splashes in those fairytale words, demanding some strength out of this pain…
Sometimes we will ride on the crest of that powerful pain, and ease each other onto soft sand, our love rounding the hard edges of our downs into ups…
Whilst we lie on this solid bed, we make our own stories…

(Jackie Kay’s on The Feminist Review)

I AM A FEMINIST, THEREFORE I AM A MUSLIM (inspired by Dr. Muqtedar Khan’s famous quote, “I Think, Therefore I am A Muslim)

Jika saja Tuhan tidak memberikan kekuatan kepada saya untuk memberanikan diri bersikap kritis terhadap segala sesuatu, mungkin pada saat ini saya telah memilih sikap yang serupa dengan Ayaan Hirsi Ali, terjungkal dari satu titik ekstrim pemikiran menuju ekstrim pemikiran lainnya, bahkan tanpa pernah tahu kapan saya harus berhenti sejenak untuk memikirkan segalanya, mengendapkannya baik-baik dalam rasio dan rasa, untuk kemudian mengambil langkah lain yang lebih baik jika itu memang harus dilakukan.

Saya tidak sedang men-deduksi sebuah kesimpulan bahwa Tuhan lebih memberkati saya daripada Hirsi Ali, karena ini semua hanya tentang pilihan. Saya percaya bahwa – seperti halnya kecerdasan – Tuhan memberikan porsi kekuatan yang sama kepada setiap manusia, dan seperti ‘bahan mentah’ lain yang Tuhan bagikan untuk kita, kekuatan bersifat fleksibel dalam kegunaan maupun kapasitasnya. Ini berarti bahwa setiap orang memiliki kebebasan untuk menggunakannya dalam kerangka tujuan apapun (positif maupun negatif) dan berhak mengembangkan level kapabilitas kekuatan tersebut sampai pada titik yang ia kehendaki.

Hal ini juga berarti bahwa Tuhan memberkati Hirsi Ali dengan kekuatan yang sama dengan yang saya miliki. Hanya saja, pada akhirnya Hirsi Ali memilih untuk menerjemahkan kekuatan tersebut dalam ekspresi keberanian yang begitu naïf dan terburu-buru, sedangkan saya memilih transformasi bertahap yang masih membuka ruang bagi saya untuk berkontemplasi dan mengkritisi segalanya, termasuk pilihan-pilihan yang semula saya anggap benar.

Tumbuh di tengah keluarga relijius-tradisional yang mencampur-adukkan dimensi penyerahan diri kepada Tuhan dengan kultur kemasyarakatan yang misoginis, masa kecil perempuan-perempuan seperti kami jauh dari Barbie dan dunia dongeng Disney. Justifikasi ketuhanan dan bayang-bayang dikotomi Surga dan Neraka yang menyertai setiap peraturan yang dijejalkan kepada kami tak pelak membuat ‘pertanyaan-pertanyaan konyol’ tentang keadilan Tuhan dan posisi perempuan di dalam Islam bermunculan dalam benak.

Hirsi Ali memilih untuk menggunakan pengalaman masa kecil ini sebagai dasar langkah yang ia ambil di kala dewasa untuk mendeklarasikan diri sebagai Ateis dan mengecam Islam, sementara saya menggunakannya sebagai landasan untuk mulai menggali lebih dalam tentang Islam dan keislaman itu sendiri. Saya sendiri mengherankan langkah Hirsi Ali yang menggunakan visi prematur-nya di masa kanak-kanak sebagai dasar pergeseran perspektifnya. Bagi saya, tidak cukup adil bagi Tuhan ketika pandangan kita tentang-Nya dipengaruhi atau bahkan dibentuk oleh pandangan kita terhadap lingkungan sekitar dan – oleh – masa kecil kita. Tuhan lebih luas dari sekadar pengalaman menyakitkan pun trauma terdalam kita, Tuhan bahkan lebih luas dari seluruh dimensi kehidupan, dan satu hal yang pasti Ia bukanlah pemadam harapan, Ia adalah sumber dari segala harapan, jawaban dari segala cita-cita.

Hirsi Ali menyatakan bahwa pilihannya terhadap Ateisme merupakan konsekwensi dari kekecewaannya terhadap Islam dan pertemuannya dengan Feminisme. Keputusan tersebut ia ambil beberapa saat setelah ia menonton tayangan runtuhnya menara kembar WTC pada peristiwa 9/11. Sebuah keputusan yang patut disayangkan bagi seseorang dengan kualitas intelektual dan orisinalitas independensi diri seperti Hirsi Ali. Kekecewaannya pada Islam dan momen pengambilan keputusan yang terjadi setelah 9/11 merefleksikan ketergesa-gesaan dan kesimpulan yang prematur.

Pada titik tertentu, kebiadaban yang dilakukan atas nama agama merupakan fakta yang tidak dapat lagi diperdebatkan. Akan tetapi, generalisasi klaim yang hanya didasarkan kepada segenggam fakta yang menampilkan sedikit sisi dari suatu konsep yang luas juga merupakan sesuatu yang tidak dapat dibenarkan. Ini karena, ketika kita berbicara tentang Muslim – sebagai pelaku ritus agama Islam – maka kita sedang berhadapan dengan subyek yang sangat heterogen. Kalaupun sebagian besar Muslim di dunia terbukti memilih sikap pro-kekerasan dan sepakat dengan aksi teror yang mengatasnamakan Islam, asumsi Hirsi Ali terhadap agama ini – yang menurutnya mengandung nilai-nilai keterpurukan yang inheren – masih tidak dapat dibenarkan dan tidak dapat dikatakan adil bagi Muslim yang memegang teguh nilai anti-kekerasan. Prinsip yang akan lebih mudah dipahami dalam bahasa logika: No matter how many instances of white swans we may have observed, this doesn’t justify the conclusion that all swans are white.

The Feminist Muslim

Pokok dari perspektif feminis adalah komitmen terhadap nilai dan sikap emansipatif. (Oxford Advanced Learner’s Dictionary: Emancipate = “to free somebody, especially from legal, political or social restrictions”) Yaitu seperangkat nilai dan sikap yang mendukung pembebasan beragam suara dari berbagai kelompok sosial, budaya, ekonomi, politik, jender, agama dan sistem kepercayaan, seks dan orientasi seksual, maupun ras dan etnis.

Walaupun pada awalnya Feminisme lahir dari gerakan advokasi kesetaraan jender antara laki-laki dan perempuan dalam riuh-rendah ledakan Gerakan Sosial Baru, akan tetapi perkembangan selanjutnya dari perspektif Feminisme tidak hanya menitik-beratkan diskursusnya pada isyu-isyu kesetaraan jender. Dikotomi ‘feminin-maskulin’ yang menjadi poros utama dari paradigma ini digali inti maknanya untuk kemudian diterapkan sebagai alat untuk menjabarkan berbagai bentuk kesenjangan dan kekerasan struktural – tangible maupun tidak – yang ternyata hadir dan dapat ditemui dalam hampir semua sendi kehidupan. Dengan demikian, nilai dan sikap yang terorientasi kepada penghapusan kesenjangan dan kekerasan struktural di seluruh lini kehidupan merupakan nilai dan sikap emansipatif yang merupakan makna dari menjadi feminis di tataran individual.

Kebudayaan, sistem sosial, dan dunia keilmuan Islam, sebagai tiga hal utama yang membentuk peradaban, merupakan dimensi-dimensi yang pernah akrab dengan nilai emansipatif. Hal ini juga merupakan salah satu alasan dibalik luasnya penerimaan peradaban Islam (yang memiliki pengertian SANGAT BERBEDA dengan agama Islam) hampir di seluruh penjuru dunia pada masa yang lalu.

Dari ketiga dimensi tersebut, dimensi keilmuan merupakan peletak batu pertama nilai emansipatif dalam bangunan peradaban Islam. Tradisi keilmuan filsafat dan sains dalam perkembangan awal dari dunia akademik Islam mendapatkan benihnya dari tradisi filsafat Yunani yang datang melalui program penerjemahan karya-karya filsuf Yunani secara masif yang disponsori oleh kekhalifahan Islam antara abad ke-8 sampai ke-9 masehi. Langkah penerjemahan tersebut merupakan bentuk konservasi atas kekayaan intelektual Yunani yang terancam musnah akibat maraknya kebencian antar-agama (religious bigotry) yang kental mewarnai Eropa di abad pertengahan. Sampai kemudian para pemikir rasional awal Eropa meng-klaim kembali pengetahuan tersebut melalui penerjemahan karya-karya berbahasa Arab ke bahasa Latin. Maka, jika kemudian observasi tentang pewaris pertama Socrates, Plato, dan Aristoteles memang perlu untuk dilakukan, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa mereka adalah Al-Farabi (339/950), Ibn Rushd (1126/1198), Ibn Sina (980/1037), Abu Hanifa (699/767) serta sederet ilmuwan dan filsuf muslim lainnya.

Kosmopolit-nya dunia pemikiran Islam saat itu dapat dirasakan pula dari munculnya berbagai aliran filsafat, yang diantaranya, Masha’iyyah, Ishraqiyyah, dan Wujudiyyah. Aliran filsafat Ishraqiyyah (al-ida fat al-ishraqiyyah) merupakan salah satu yang terpopuler dan mendapatkan julukan sebagai Filsafat Iluminasi pada puncak perkembangannya. Aliran Ishraqiyyah membuka ruang luas bagi munculnya pendekatan-pendekatan alternatif dalam aspek ontologi, kosmologi, dan perkembangan ilmu pengetahuan secara keseluruhan.

Suburnya pluralisme pemikiran dan terbukanya ruang diskursus publik di masa itu merupakan bukti kuat dari hadirnya sikap emansipatif di kalangan masyarakat. Tak hanya puas dengan pengetahuan dari Yunani, para ilmuwan Islam di masa itu juga tidak segan untuk melakukan perjalanan jauh dan melelahkan untuk mencari pengetahuan-pengetahuan baru dari India dan Timur Jauh. Demikianlah pada akhirnya peradaban Islam tumbuh menjadi sistem kehidupan yang dielu-elukan oleh berbagai bangsa tanpa harus ‘menjejalkannya’ pada dunia.

 

Sejak semula tulisan ini lebih ditujukan untuk refleksi personal saya dalam mewujudkan pribadi muslim yang lebih baik. Pada prinsipnya, sampai detik ini saya yakin bahwa seluruh agama pasti akan menuju pada muara perdamaian dan bahwa esensi ketuhanan yang menjadi pusat kepatuhan dan sumber kesalihan kita masing-masing adalah esensi yang sama. Agama adalah semacam ‘manual lengkap’ yang kita masing-masing miliki untuk bersentuhan dengan esensi tersebut, dan kembali, hingga saat ini saya masih merasa nyaman dengan ‘manual’ yang saya ikuti dan InshaAllah akan terus saya ikuti.

Mengapa tidak? Setiap upaya yang saya lakukan untuk mempelajari agama ini selalu mempertemukan saya pada pengetahuan-pengetahuan baru tentangnya yang memperkuat visi kemanusiaan saya, mengasah sikap emansipatif saya, dan pada akhirnya memperteguh keyakinan saya tentang Tuhan, bahwa Ia adalah Sang Maha Pengasih dan Penyayang pada seluruh makhluknya, bahwa Ia adalah Sang Feminis.

Untuk menutup tulisan ini saya ingin ber-rendezvous dengan femininitas saya sendiri, karena merasakan dan merayakan keperempuanan saya adalah bagian dari ‘ritus’ syukur saya kepada-Nya.

“Smiling prettily in front of the mirror

Placing a crown of woven flowers

Among carefully combed curls

Attaining a posture that empowers”

 

“Walking into the freshness of the day

Hearing the song that free birds sing

Wearing a dress with ruffles and bows

Enjoying the marvels of a joyous spring”

 

“Returning home…passing a diamond

Enhanced with emerald green grass

Hanging her delicate frock in the closet

Putting on jeans and a T-shirt at last”

 

“A brimmed baseball cap firmly flattens

The girlish traces of feminine familiarity

With enthusiasm she bounds to the field

Soon the crack of the bat rings with clarity”

 

“Girls Will Be Girls”

(Theresa Ann Moore)  

 

Reading List:

Carol R. Ember, Melvin Ember (eds.). 2003. Encyclopedia of Sex and Gender: Men and Women In The World’s Cultures. Kluwer Academic-Plenum Publishers.New York

Abdul Aziz Said, Mohammed Abu-Nimer, Meena Sharify-Funk (eds.). 2006. Contemporary Islam: Dynamic Not Static. Routledge

Ellen T. Armour, Susan M. ST. Ville, (eds.). 2006. Bodily Citations: Religion and Judith Butler. Columbia University Press

MY REFLECTIVIST HESITATION I: The Not-So-Enlightened Academic World

Saya selalu percaya bahwa dunia akademis merupakan tempat di mana sesuatu yang bernama ‘kemurnian’ masih bisa dipertahankan. Satu-satunya tempat di mana Tuhan mau berkompromi untuk hanya memberikan reward pada mereka yang benar-benar melakukan usaha terbaiknya dan menyingkirkan si pemalas dan tipe manusia ‘parasit’ lainnya. Saya yakin tidak ada konsep ‘jalan pintas’ maupun ‘free rider’ di dalam dunia akademis.

Keyakinan ini menjadi salah satu alasan utama saya untuk memilih karir di bidang akademik sebagai tumpuan masa depan. Enggan saya berkotor-kotor dengan noda politis ataupun terjerembab dalam kubangan obsesif target ekonomi di dunia bisnis. Lagipula, saya hanya ingin mewujudkan a rewarding life dengan buku-buku dan kepuasan batin yang saya dapatkan dari melakukan riset dan mengajar, itu saja.

Namun, lagi-lagi, sepertinya saya harus berkompromi dan menarik khayalan romantisis saya. Karena ternyata idealisme itu juga masih mengambang di dunia akademik barat (Eropa dan Amerika Utara) yang selama ini saya harapkan menjadi konteks akademik terakhir yang masih berpegang teguh pada ‘puritanisme progresif’-nya. Ironisnya, gejala ini saya ketahui dalam upaya yang saya lakukan untuk mencari kesempatan studi di Amerika. Tentu saja, tanpa mengurangi rasa hormat pada sedikit ilmuwan yang masih memegang teguh komitmennya untuk memperbaiki dan membangun ranah keilmuan di Indonesia, saya ingin menyatakan bahwasanya saya tidak lagi memiliki ekspektasi tentang integritas dunia akademis di Tanah Air, setidaknya untuk saat ini.

Symbolic Power At Its Finest

Tidak salah jika ada yang menyatakan bahwa setiap keberhasilan paradigma akan selalu diikuti oleh dominasi paradigma baru tersebut, walaupun misi gerakan oposan itu pada awalnya adalah untuk mengakhiri hegemoni. Kesetaraan dalam arti yang sebenarnya sulit untuk terwujud secara total, karena pengakuan terhadap eksistensi suatu perspektif hampir secara otomatis membawa serta implikasi kekuasaan. Dan kekuasaan akan menjadi landasan dominasi lalu hegemoni. Viscious cycle kata orang.

Dikatakan sebagai salah satu produk Era Pencerahan di Eropa, proses dan institusionalisasi pendidikan menjadi tumpuan harapan banyak orang untuk mencapai konteks kehidupan yang lebih baik, dan untuk menjadi satu-satunya ruang bersuara bagi individu-individu berbakat dari kalangan minoritas pada waktu itu. Beberapa gerakan egalitarian juga bermula dari kampus-kampus ataupun kompleks pendidikan lainnya di kala itu.

Di Perancis, upaya penulisan ilmu pengetahuan secara sistematis dalam bentuk buku cetak dimulai dari kafe-kafe dan klub sosial yang disebut Salon, yang sekaligus menjadi tempat kelahiran literatur feminis pertama di negara itu. Di Inggris, kodifikasi undang-undang pekerja pertama yang berisi pelarangan terhadap pekerja di bawah umur dan pembatasan jam kerja bagi pekerja wanita juga muncul dari obrolan di rumah-rumah minum kopi di sekitar kampus Oxford yang berujung pada munculnya gerakan advokasi buruh. Pada dekade 1960an, gerakan sosial baru (new social movements) yang mengusung isyu-isyu kekinian dari perlindungan hak-hak hewan sampai gerakan anti-senjata nuklir juga muncul dari kampus-kampus.

Akan tetapi, situasi ini tidak bertahan lama. Seiring dengan institusionalisasi dan pembentukan birokrasi di dalam badan-badan pendidikan semangat apresiasi terhadap kreatifitas dan independensi pemikiran mengalami degradasi secara drastis. Lembaga pendidikan mulai disambangi oleh dimensi rasionalitas-birokratik dan bertransformasi dari fungsi nurturing menuju fungsi demanding. Lembaga pendidikan tidak lagi menjadi tempat untuk mengasah diri. Generasi muda yang masuk di dalam proses pendidikan dituntut untuk menunjukkan superioritas diri bahkan sebelum mereka menjalani pendidikan. Tugas institusi pada akhirnya hanya membungkus talenta mereka dengan tampilan yang diinginkan pasar, karena memang inilah tujuan akhir dari pendidikan. Jauh dari tujuan-tujuan ideal seperti, pembentukan kepribadian ataupun menumbuhkan empati sosial, lembaga pendidikan hanya berperan sebagai wadah ‘pemolesan’ bakat-bakat tersebut supaya siap jual di pasaran.

Tak dinyana, dua ilmuwan besar Amerika Serikat dan beberapa ilmuwan klasik Eropa juga telah memprediksikan perkembangan ini bahkan jauh sebelum pendidikan tinggi (higher education) menjadi kebutuhan primer bagi sebagian besar masyarakat. C. W. Mills datang dengan analisanya terhadap sistem pendidikan tinggi di Amerika Serikat yang semakin lama semakin terkooptasi oleh keinginan korporat dan tuntutan pasar kerja, sementara Robert K. Merton mengungkapkan aspek yang disebutnya sebagai ‘The Matthew Effect’, yaitu efek kesenjangan manfaat dan ‘kepemilikan intelektual’ yang membentuk stratifikasi sosial di dalam komunitas ilmiah.

C.W. Mills dan The Cheerful Robot

Mills adalah Sosiolog terkemuka Amerika Serikat yang dinyatakan sebagai salah satu dari sedikit ilmuwan sosial yang mampu memprediksikan kemunculan Posmodernisme sejak Modernisme masih berada di puncak kejayaannya. Tidak seperti ilmuwan kritis lainnya yang merayakan Posmodernisme, Mills menyimpan kesedihan tersendiri terhadap gejala kemunculan Posmodernisme yang ia tangkap saat itu.
Menatah gambaran dunia pendidikan tinggi Amerika Serikat dalam konteks Posmodernisme di alam pikirnya, Mills mengkhawatirkan munculnya koalisi antara lembaga pendidikan tinggi dengan korporasi dan lembaga-lembaga militer pemerintah. Jika ini terjadi, dengan berada di dalam cengkeraman tiga kaki kekuasaan (korporat, militer, dan pemerintah) maka lembaga pendidikan tinggi akan kehilangan fungsinya secara total.

Dengan skenario Mills, dapat dibayangkan bahwa para pembelajar akan terklasifikasikan menjadi dua bagian. Pembelajar teknokrat, yang dipersiapkan dan – memang – mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk dapat diserap oleh pasar kerja korporasi setelah kelulusannya, dan pembelajar ‘ilmuwan’ yang akan menghabiskan hampir seluruh hidupnya hanya di dua tempat – kampus dan situs penelitian – demi menjalankan fungsi ‘pelestarian’ kekuasaan pemerintah dan menjamin suplai ‘justifikasi’ ilmiah untuk berbagai proyek militer – di mana sepertinya saya akan segera masuk dalam klasifikasi ini.

Mills kemudian mengaitkan kondisi menyedihkan yang terjadi pada lembaga pendidikan tinggi ini dengan kelahiran Posmodernisme secara keseluruhan. Ia menulis tentang matinya kreativitas dan orisinalitas pemikiran sebagai implikasi dari komodifikasi dimensi emosional manusia, terutama individu yang sedang berada pada usia produktif kerja dan yang sibuk memenuhi tuntutan karir. Korporasi tidak lagi hanya ‘menjual’ produk mereka, dan tuntutan untuk ‘bekerja dengan baik’ tak hanya terbatas pada evaluasi kinerja. Korporasi juga ‘menjarah’ dimensi emosional pekerjanya – “Jangan membawa masalah pribadi ke kantor” – dan dengan demikian ‘bekerja maksimal’ juga meliputi ‘senyuman palsu’ dan ‘kebahagiaan pura-pura’ yang harus ditunjukkan pekerja untuk memenuhi fungsi profesionalnya. Mills menyebut mereka sebagai the Cheerful Robots, generasi terbaru manusia posmodernis yang dapat tersenyum tanpa kemampuan untuk ‘merasa’.

The Matthew Effect: Ketika Raja-Raja Kecil Muncul

Ketika Mills membandingkan fungsi ideal lembaga pendidikan dengan kenyataan yang tersaji di Amerika Serikat saat itu, Merton menemukan aspek destruktif lainnya di dalam dunia pendidikan yang tak kalah mengerikan dengan skenario Mills tentang Cheerful Robots.

The Matthew Effect, demikian Merton menyebutnya, merupakan hasil analisa Merton terhadap dinamika sosial yang terjadi di kalangan ilmuwan. Ia menyebutkan bahwa The Matthew Effect ditandai oleh adanya penghargaan dan apresiasi ilmiah yang diberikan secara disproporsional. Dan fenomena ini lebih dari sekadar jeritan tentang kesenjangan apresiasi saja.

Fenomena ini membawa implikasi mendalam terhadap apa yang sebenarnya terjadi pada kalangan komunitas ilmiah, bagaimana lingkungan struktural feodalis yang terbentuk di kalangan ilmuwan mempengaruhi perkembangan ruang intelektual seseorang, dan bahkan menunjukkan peran fundamental perspektif feodalis tersebut dalam proses ‘alienasi’ tak-langsung terhadap individu-individu yang tidak dapat menunjukkan bakatnya – Merton menyebut individu-individu ini sebagai ‘The Late Bloomers’.

Pendek kata, Merton menyibak empat prinsip institusional yang berlaku di kalangan komunitas ilmiah, yaitu, norma ‘komunis’ yang mengejawantah dalam kewajiban untuk mempublikasikan setiap temuan ilmiah; norma ‘universalis’ yang mewajibkan setiap klaim ilmiah untuk menjalani uji validitas impersonal terlebih dahulu sebelum mendapatkan pengakuan luas; norma ‘obyektifitas’, mendoktrinkan bahwasanya temuan ilmiah harus bebas dari nilai-nilai pribadi ilmuwan; dan terakhir, norma skeptisisme yang telah terorganisir dan terlembaga.

Prinsip-prinsip tersebut saling terkait satu sama lain untuk memastikan bahwa hanya para ilmuwan tertentu saja yang mampu menembus berbagai tahapan evaluatif untuk akhirnya dapat dikatakan pantas menerima pengakuan publik atas temuan ilmiahnya. Dengan demikian, kalangan ilmuwan tetap merupakan sekelompok elit dan klaim atas hak-hak istimewa yang berlaku atas kelompok inipun masih tetap dapat dipertahankan.

Seluruh analisa Merton merujuk pada praktek terlembaga di dalam komunitas ilmiah yang mengagungkan nama-nama besar dan memberikan apresiasi yang cenderung berlebihan terhadap nama-nama tertentu, dan di sisi lain meremehkan potensi-potensi ilmuwan yunior dengan menerapkan skeptisisme berlebihan terhadap karya-karya mereka, atau bahkan lebih buruk dari itu, meng’alienasi’ nama-nama yunior dan meng’hilang’kan kontribusi mereka untuk menonjolkan nama-nama senior.

Sisi gelap dunia pendidikan dan kompetisi keilmuan tersebut pada akhirnya hanya akan memusnahkan potensi-potensi brilian yang mungkin dapat menyumbangkan kontribusi keilmuan yang signifikan di masa yang akan datang. Lebih dari itu, secara prinsipil, praktek yang tak terkodifikasi – namun terlembaga – ini telah menghancurkan nilai-nilai utama yang harus dijunjung tinggi oleh dunia pendidikan itu sendiri. Karena ‘pemberhalaan’ adalah pangkal dari semua kebodohan.

Mutatis Mutandis!

Reading List:
Merton, R. 1938. “Social Structure and Anomie,” American Sociological Review 3:672-682.
Mills, C.W. 1964. Sociology and Pragmatism: The Higher Learning in America. New York: Paine-Whitman Publishers.
Mills, C.W. [1951]2002. White Collar: The American Middle Class. New York: Oxford University Press.

ANTARA ETTORE, SHOSHANA, DAN SAYA: A READER’S NOTE

“Jin kritik telah lepas dari botolnya, dan sekarang tanpa bisa dihentikan dia meluncur ke sana ke mari secara acak dalam keisengannya”

(Herbert W. Simons, dan Michael Billig ed., After Postmodernism: Reconstructing Ideology Critique, 1994)

Saya baru membeli sebuah novel terjemahan berjudul ‘Terbunuhnya Seorang Profesor Posmo’, karya Arthur Asa Berger. Novel yang lumayan menarik, dan saya lahap habis dalam semalam. Melalui kisah Ettore Gnocchi (Profesor Posmodernisme di UC-Berkeley), Berger mengajak pembacanya untuk mengenal Posmodernisme. Semacam Dunia Sophie-nya Joostein Gaarder.

Berkaitan dengan kegilaan saya terhadap Posmodernisme akhir-akhir ini, maka saya pun membeli buku tersebut dengan prediksi penuh keyakinan bahwa saya hanya akan semakin jatuh cinta dengan hasil pemikiran Lyotard dan kawan-kawan tersebut. Saya bahkan berharap dapat menemukan ide-ide unik untuk memproliferasikan Posmodernisme. Saya – sebelumnya – berpikir bahwa Posmodernisme merupakan ‘necessary evil’ yang harus disebarluaskan untuk membangkitkan kritisisme (sungguh, saya merupakan kandidat evangelist yang baik). Saya benar-benar tidak menduga bahwa buku ini akan membawa antidote yang kuat bagi saya. Benar-benar membangunkan saya dari mimpi fanatisme gila dan membawa saya kembali pada ranah obyektifitas.

Saya dan Posmodernisme

Benar kata seorang teman, jangan pernah tenggelam dengan label-label, keep your options open (prinsip ini mungkin juga berlaku untuk ideologi sampai isyu pasangan). Sayangnya, teman ini berujar pada saya, seorang romantisis keras-kepala yang selalu mengaitkan diri dengan isme-isme apapun yang sedang saya pelajari. Tak hanya mengidentifikasi diri dengan isme-isme tersebut, saya juga akan mengadopsi isme-isme itu menjadi bagian dari identitas saya. Kelihatan sangat intelek di permukaan, namun tidak jauh berbeda dengan para fans K-Pop yang mati-matian meniru gaya rambut atau model busana artis idola mereka.

Maka saya pun merayakan Posmodernisme. Menikmati stand-up comedy, memburu foto-foto dan artikel tentang karya-karya Andy Warhol, memesan merchandise dari MOCA (Museum of Contemporary Art, Los Angeles), dan mengembangkan gejala psikosomatis tertentu ketika mendengar kata-kata ‘metanarasi’. Sampai akhirnya deskripsi Shoshana tentang Posmodernisme untuk Detektif Hunter, dan kuliah umum terakhir Ettore Gnocchi mengakhiri private party saya dengan ideology of the absurd ini.

Sesi Brainstorm Dengan Shoshana dan Ettore

“Hubungan kuat antara media dan masyarakat telah membuahkan sebentuk kesadaran yang secara radikal berbeda – kesadaran yang menolak ide soal kemajuan, yang merayakan ironi, yang bergelimang riasan dan segala sesuatu yang sifatnya instan dan dangkal, yang memadukan berbagai potongan dan cuplikan sampai membentuk kolase. Orang-orang yang hidup dalam masyarakat posmodernis itu menjalani hidup mereka dengan cara yang sama, dalam penggalan dan potongan, … tidak ada kepaduan, tidak ada lagi hubungan linear. Tak ada lagi narasi yang punya makna apapun, dan seiring dengan hilangnya narasi, hidup kita pun kehilangan maknanya.”

Demikian Shoshana menjelaskan Posmodernisme untuk Hunter. Pada titik ini saya masih bersikap resisten, mengamini pernyataannya tentang perayaan ironi dan menolak penjelasannya tentang deskripsi kehidupan masyarakat posmodernis yang serupa kolase. Saya yakin bahwa kehidupan saya masih tertata rapi seperti sistem koleksi pustaka di perpustakaan, dan toh hal itu tidak menghalangi saya untuk menjadi posmodernis. Kehidupan saya masih sangat bermakna dan bertujuan. Saya meyakini nilai-nilai tertentu yang ingin saya perjuangkan. Saya masih politis.

“Bagaimana kita mempertahankan identitas kita … di hadapan perubahan terus-menerus?”

Pertanyaan pertama dari rangkaian ceramah Ettore yang membuat saya tercenung.

“Terutama dalam masyarakat yang … segala sesuatunya tereduksi ke dalam komodifikasi. Ketika kita semua menjadi komoditas, dan menciptakan identitas kita melalui apa yang kita konsumsi, secara umum berarti kita menjual diri kepada penawar tertinggi. Dengan satu dan lain cara hal ini mencerminkan alienasi kita.”

Saya mulai merasa galau. Ettore terus berceloteh,

“Kita … mempelajarinya secara tidak langsung dari media, dari simulasi yang tanpa terasa menyita sebagian besar waktu kita, dan yang tanpa kita sadari telah membentuk kepribadian dan sistem hasrat kita. Kita telah mengembangkan sebuah masyarakat yang mementingkan gambaran mental serta penampilan visual, di mana melihat itu dianggap lebih penting daripada mengada…”

Dan simpati saya terhadap posmodernisme lumer seketika.

Klarifikasi yang Mengkonfirmasi

Tergagap dengan apa yang dikatakan oleh Shoshana dan Ettore tentang Posmodernisme, saya mencari dukungan dari figur-figur posmodernis non-fiksi yang telah mengusung gerakan ini sedari awal, dan inilah apa kata mereka:

Michel Foucault dalam Madness and Civilization: A History of Insanity in the Age of Reason
“Antara apa yang terungkap melalui bahasa dan apa yang terucap dalam wujud pejal, kesatuan mulai luluh. Pemaknaan tunggal dan identik tidak lagi menjadi sesuatu yang berlaku umum bagi keduanya. Dan jika seandainya benar bahwa citra masih memiliki fungsi untuk bertutur, … harus kita sadari bahwa citra sudah tidak lagi mengucapkan hal yang sama”

Zygmunt Bauman dalam Intimations of Posmodernity:
“Penghancuran adalah satu-satunya hal yang dikuasai dengan baik oleh pemikiran posmodern”

Douglas Kellner dalam Postmodernism as Social Theory: Some Challenges and Problems:
“Bertentangan dengan keseriusan modernisme tinggi, posmodern mempertontonkan suatu bentuk kejahilan, keisengan, dan eklektisisme baru, … , keseriusan moral modernisme tinggi digantikan oleh ironi, kolase, sinisme, komersialisme, dan pada beberapa kasus malah dengan telak digantikan oleh nihilisme”

Jean-Francois Lyotard dalam The Postmodern Condition: A Report on Knowledge:
“Seniman, pemilik galeri, kritikus, dan masyarakat ramai-ramai berkubang dalam mentalitas ‘apa saja boleh’, dan suasana zaman ini adalah suasana kemerosotan. Namun kenyataan yang mendasari sikap ‘apa saja boleh’ ini sesungguhnya adalah uang. Dengan tiadanya kriteria-kriteria estetik, satu-satunya cara yang mungkin dan berguna untuk menilai karya seni adalah berdasarkan laba yang dihasilkannya. Paradigma seperti itu mengakomodasi semua aliran, sebagaimana modal mengakomodasi semua ‘kebutuhan’, dengan syarat aliran dan kebutuhan tersebut harus punya daya beli. Sedangkan mengenai selera, orang tak perlu berselera tinggi ketika sedang mengadu nasib atau menghibur dirinya sendiri”

Jean Baudrillard dalam On Nihilism:
“Dibanding masalah lainnya, posmodernitas lebih merupakan masalah bertahan hidup di antara sisa-sisa reruntuhan”

Ah, tampaknya memang itulah Posmodernisme. Apresiasi terhadap eklektisisme dan budaya pop yang berfungsi untuk mem-profan-kan makna bangunan kultus modernitas. Tak cukup hanya berpegang pada ‘hermeneutika kecurigaan’ seperti kata Ricoeur, lebih dari itu saya harus membiarkan kritisisme itu berlari bebas tanpa ada arahan politik. Tapi, apakah benar posmodernisme tak butuh arahan politik ataupun bersifat politis?

Fredric Jameson dalam Postmodernism and Consumer Society:
“Yang paling jelas terlihat adalah terkikisnya perbedaan yang dulu ada antara kebudayaan tinggi dan kebudayaan populer. Hal ini mungkin perkembangan yang paling menggundahkan dari sudut pandang dunia akademis, yang secara turun-temurun punya kepentingan tersendiri untuk melestarikan tatanan kebudayaan tinggi dari situasi merebaknya sikap filistinisme yang anti-intelektual dan anti-estetik…”

Apparently, we’re always going to be political unless we choose to be apathetic.

Bibliografi:
Asa Berger, Arthur, Terbunuhnya Seorang Profesor Posmo, Marjin Kiri, 2006
Baudrillard, Jean, On Nihilism, On The Beach 6, 1984
Foucault, Michel, Madness and Civilization: A History of Insanity in the Age of Reason, New York: Vintage Books, 1973
Jameson, Fredric, Postmodernism and Consumer Society, dalam H. Foster ed., The Anti-Aesthetic: Essays on Postmodern Culture, Bay Press, 1983
Kellner, Douglas, Postmodernism as Social Theory: Some Challenges and Problems, Theory, Culture and Society, 5:2-3, 1988
Lyotard, Jean-Francois, The Postmodern Condition: A Report on Knowledge, University of Minnesota Press, 1984
Simons, Herbert S., dan Michael Billig ed., After Postmodernism: Reconstructing Ideology Critique, Sage Publications, 1994

Tragedi Sampang dan ‘Relijiusitas Warisan’

Ketika saya menuliskan hasil pengamatan dan pengalaman saya tentang ‘otoritas politik lokal’ yang dirangkum sebagian – orang yang merasa dirinya pantas untuk disebut sebagai – tokoh agama di Jawa Timur melalui representasi diri dan keluarga dekat mereka sebagai ‘keluarga Keraton’ yang berperan sebagai penentu baik-buruknya nilai keberagamaan, bahkan terkadang (baik-buruknya) moral, masyarakat sekitar tempat tinggalnya, saya tidak menyangka (apalagi berharap) bahwa hasil dari persekutuan busuk antara penyalahgunaan ajaran Ilahiah dan rakusnya ambisi manusia akan kekuasaan tersebut akan benar-benar terwujud seperti ini. Begitu gamblang dan begitu ‘dekat’ dengan saya.

Tragedi Sampang, menjadi contoh nyata bahwa penyalahgunaan ‘otoritas Ilahiah’ oleh sebagian – orang yang merasa dirinya pantas untuk disebut sebagai – tokoh agama dapat membawa kerusakan barbar yang sama sekali jauh dari nilai kemanusiaan, dan jelas-jelas mencoreng eksistensi ketuhanan. Betapa tidak, pencabutan hak asasi manusia atas pendidikan, atas tempat tinggal dan rasa aman, atas penghidupan yang layak, dan atas hak untuk menjalankan peribadatan serta mengekspresikan rasa cinta kepada Tuhan, yang kesemuanya muncul sebagai konsekuensi dari pembakaran komplek pesantren tersebut tentu saja merupakan bentuk pelecehan terhadap eksistensi Tuhan itu sendiri. Bahkan Richard Dawkins dengan segala penghinaannya terhadap para pemeluk agama – yang tentu saja tidak serta-merta dapat dibenarkan juga – terlihat lebih manusiawi daripada ‘tokoh agama’ haus darah tersebut.

Bagi saya, semua klaim yang dilakukan pribadi-pribadi tertentu terhadap status ‘tokoh agama’ yang selama ini saya temui tidak memiliki secuilpun basis logika dan landasan kemanusiaan, apalagi ketuhanan. Apa yang bisa anda katakan tentang integritas kemanusiaan dan nilai relijiusitas seseorang dari garis keturunannya? Apa yang dapat anda jaminkan sebagai garansi atas posisi seseorang sebagai ‘pewaris para nabi’ ketika itu semua hanya ditarik dari garis silsilahnya yang memang dengan satu atau beberapa cara bersambung dengan Nabi Muhammad S.A.W? Bukti konkrit apa yang anda dapati tentang peran seorang Muslim sebagai ‘rahmatan lil-‘alamin’ hanya dari kepemilikan orang tua ataupun keluarganya terhadap sebuah pesantren dengan ratusan atau bahkan ribuan santri? Tak perlu menjadi filsuf untuk menyimpulkan bahwa jawaban dari seluruh pertanyaan tersebut adalah, nihil. Tidak ada garansi atas nilai relijiusitas dan kemanusiaan seseorang yang bisa kita tarik hanya berdasarkan garis keturunan. Karena kualitas kesalihan (piety) itu harus DIPEROLEH bukan DIWARISKAN.

Kenyataan bahwa sebagian besar masyarakat masih terlena dengan ‘relijiusitas warisan’ yang digunakan beberapa ‘tokoh agama’ untuk meraup kekuasaan (baca: besaran umat yang dapat ia raih dan nyatakan sebagai ‘pengikutnya’) merupakan faktor penting lain yang menyuburkan ‘fasisme keagamaan’ tersebut. Apa yang saya maksud dengan ‘fasisme keagamaan’ adalah perilaku untuk menggunakan kontrol otoritarian dan diktatorial terhadap masyarakat dengan kekuasaan yang berbasis dari klaim-klaim keagamaan. Dan Tragedi Sampang lagi-lagi adalah bentuk terbaru dari kebodohan massal ini, ketika sekelompok orang dengan mudahnya melukai manusia lainnya atas nama penjernihan agama Tuhan, yang pada akhirnya diketahui sebagai hasil dari fatwa konyol ‘sang tokoh agama’ yang sedang berebut kekuasaan dengan ‘tokoh agama’ lainnya.

Teladan Bening Dari Muhammad

Entah sampai kapan kebodohan tersebut akan berlanjut, namun satu hal yang pasti, Tuhan tidak pernah menginginkan umat-Nya untuk terjerumus ke dalam tingkah laku barbar yang lahir dari apatisme relijius. Ratusan ayat mewajibkan manusia untuk berpikir, belajar, menggunakan akalnya, dan mengembangkan kritisisme. Tuhan tidak pernah dengan sendiri-Nya mendogmakan sesuatu. Ia menghendaki umat-Nya untuk terus mencari dan membaca tanda-tandaNya. Ia adalah Dzat yang sangat mempercayai umatNya, bahwa kita mampu berproses, dan menjadi makhluk yang lebih beradab. Ia hanya menetapkan satu target besar bagi kita semua, untuk menjadi representasi kasih-sayangNya bagi seluruh penghuni alam semesta, untuk menjadi ‘rahmatan lil-‘alamin’.

Pesan yang sama ditampakkan Tuhan melalui pilihanNya atas pribadi-pribadi yang menjadi nabi dan rasul. Sebut saja Muhammad S.A.W, kehadirannya ke dunia sebagai seorang yatim-piatu yang tumbuh di tengah kebiadaban Quraisy, adalah pelajaran pertama yang harus dapat kita pahami sebagai pertanda bahwa Tuhan menciptakan kualitas kasih-sayang itu di dalam diri setiap manusia. Bahwa kemampuan untuk menjadi kontributor positif bagi manusia lainnya sama sekali tidak berhubungan dengan konteks di mana ia tumbuh. Muhammad tumbuh tanpa kasih sayang orang tua dan berhadapan langsung dengan kebiadaban nilai kehidupan Quraisy setiap harinya, akan tetapi itu semua tidak mengurangi kualitas nilai kemanusiaannya. Bahkan sebelum periode kenabiannya, Muhammad muda telah menjadi pribadi yang penyayang, tak hanya kepada sesama manusia melainkan juga kepada seluruh makhluk Tuhan lainnya.

Contoh lainnya ditunjukkan Muhammad melalui kepemimpinannya terhadap negara-kota Madinah. Penerimaan dan pengakuan – bukan sekedar penghormatan – terhadap eksistensi kepercayaan lainnya adalah salah satu dari hal-hal awal yang ia kelola dan tetapkan. Muhammad sangat mencintai keberagaman, dan karena ia adalah pribadi terpilih yang ditetapkan Tuhan sebagai salah satu penyeru nilai-nilaiNya, maka tak berlebihan jika kita menyimpulkan bahwa Tuhan juga mencintai perbedaan, dan Tuhan memang mencintai perbedaan.

Ketika otoritas ketuhanan digunakan sebagai landasan untuk menyeru manusia lainnya menuju serangkaian dogma yang kita anggap benar (baca: agama, atau aliran-aliran tertentu dalam agama), maka teladan selanjutnya yang perlu kita ambil dari Muhammad adalah bahwasanya ia berdakwah dengan menggunakan dirinya sendiri sebagai inkubator realisasi nyata nilai-nilai kemanusiaan. Muhammad bertindak sebagai Uswatun Hasanah (role model), contoh hidup dari nilai-nilai kebaikan dan kesalihan. Sehingga orang-orang yang memutuskan untuk menjadi pengikutnya sebenarnya adalah orang-orang yang ‘tercerahkan’ dengan ide-ide perdamaian, kemanusiaan, kesalihan, dan kasih-sayang, bukan manusia-manusia berpikiran sempit yang mencari metode instan untuk menjadi relijius dan akhirnya terjebak pada fanatisme buta yang malah menjauhkan mereka dari nilai inti keagamaan itu sendiri, yaitu nilai kemanusiaan dan kasih-sayang.

Adalah benar bahwasanya agama tidak akan pernah bisa lepas dari sesuatu yang transcendental, sehingga sebagian besar dari kita mungkin membutuhkan penyuluh untuk dapat memahami eksistensi ketuhanan. Tapi ini bukan berarti bahwa pemahaman akan Tuhan dan segala sesuatu yang transenden yang berkaitan denganNya hanya bisa dimiliki oleh beberapa orang saja. Tidak pula ini berarti bahwa pemahaman tersebut hanya dapat diakses oleh keturunan keluarga-keluarga tertentu ataupun individu-individu yang dapat membuktikan garis keturunannya bertemu dengan Sang Pencerah, Nabi Muhammad S.A.W.

Tuhan mencintai semua makhlukNya, Ia berkenan membasuh seluruh makhluk yang telah Ia tiupkan ruh kepadanya. Ia adalah Dzat yang tak berbatas. Dengan demikian, masing-masing dari kita pasti akan sampai pada pemahaman tentangNya, dengan terus berupaya menjernihkan sisi keagamaan kita, dengan terus menyebarkan pesan tentang cinta-kasihNya. Muhammad bisa jadi terlalu sempurna bagi kita, akan tetapi kita juga memiliki dimensi kasih-sayang yang inheren seperti Muhammad. Jika saja kita mau sedikit bersusah-payah untuk menyelamatkan diri kita sendiri dari fanatisme buta, dan mengasah dimensi kesalihan dalam diri, mungkin Tuhan akan berbangga dengan ciptaanNya.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.