Between ‘Rose Revolution’ and Moscow Domination

“Tease of Oil…..one mean that will change Geopolitical game of major states, soon…”
(Mikhael Khodorkovsky)
CEO of Gazprom & Lukoil Russia Corp.
Penculikan empat intelijen Rusia yang sedang menjalankan misi spionasenya di teritorial Georgia, oleh aparat keamanan Georgia, ternyata berbuntut panjang. Tak cukup dengan gertakan, Rusia memberlakukan embargo, civilian sweeping, pencabutan paspor, bahkan pemutusan hubungan diplomatik dengan pemerintah Georgia dan rakyatnya. Tulisan ini akan memberi paparan singkat mengenai konflik bilateral tersebut dari aspek Hubungan Internasional, khususnya, di level analisa sistem dan individu.
Konflik Georgia-Rusia (Level Analisa Sistem)
Pada level ini, konflik tersebut terjadi karena beberapa preposisi dasar, yaitu:
Kepentingan Amerika Serikat.
Georgia adalah titik utama ‘sphere of influence’ AS di Kaukasia, yang membentuk mata rantai politik luar negri AS di Timur Tengah dan Eurasia, wilayah Georgia yang juga merupakan jalur minyak Kaspia dan Laut Hitam menambah pentingnya posisi Georgia di mata AS. Kepentingan energi AS di Kaukasus (yang juga menyangkut Kazakstan dan Turkmenistan) bersinggungan langsung dengan kepentingan Rusia untuk mendominasi ladang-ladang minyak disana, di sisi lain, AS terus mendukung negara-negara Kaukasia untuk menyalurkan minyak dan gasnya langsung pada AS, tanpa melewati jalur yang telah ditetapkan Rusia.
Kepentingan Rusia.
Ambisi Rusia untuk tetap mendominasi negara-negara ex-Soviet di Kaukasia telah terlihat sejak tahun 1999, di mana Rusia mencoba untuk memberi sanksi terhadap semua negara-negara Baltik, hal ini berkaitan erat dengan program perluasan NATO yang mulai ingin menancapkan pengaruhnya di sana. Sayangnya, upaya itu masih terhambat oleh kondisi Rusia yang baru saja lepas dari krisis ekonomi dan pergolakan politik domestik. Selain itu, kepentingan Rusia untuk terus mencari ladang minyak baru di Kaukasia sangat besar, mengingat posisi Rusia sebagai pemyuplai gas terbesar bagi UE dan penyalur minyak terbesar kedua setelah Arab Saudi untuk AS. Aspek ketergantungan energi UE dan AS ini dipandang vital oleh Rusia, karena bagaimanapun, Rusia masih menyimpan keinginannya untuk kembali menjadi negara superpower.
Keanggotaan UE dan NATO.
Preposisi ketiga ini menyoroti program perluasan keanggotaan yang kini sedang gencar dilakukan NATO di wilayah negara ex-Soviet. Program ini muncul berkaitan dengan keinginan NATO untuk memperluas peran militernya di seluruh Eropa, juga untuk membuka jalur yang lebih efisien terkait dengan akses menuju Timur Tengah. Perluasan keanggotaan ini, yang tentunya menyertakan Georgia sebagai negara ex-Soviet, ditolak mentah-mentah oleh Rusia yang masih menyimpan ambisi untuk menjalankan peran militernya di negara-negara bekas Soviet, hal ini nampak jelas dalam penolakan Rusia atas permintaan Georgia untuk mengurangi personil militernya di wilayah Georgia.
Banyaknya negara bekas Soviet yang ingin menjadi anggota UE juga sangat mengkhawatirkan Rusia, karena dengan integrasi negara-negara tersebut ke dalam UE, maka otomatis Rusia akan kehilangan kesempatannya secara total untuk kembali mendominasi negara-negara tersebut. Walaupun UE tidak menjalankan program perluasannya seagresif NATO, tetapi, penolakan keras Rusia terhadap keinginan Georgia untuk menjadi anggota keduanya (baik NATO maupun UE) cukup menjadi bukti tekad Rusia untuk berupaya membangun kembali hegemoninya di Kaukasus, sekaligus membendung aliran dukungan negara-negara barat kepada negara-negara Kaukasia.
Konflik Georgia-Rusia (Level Analisa Personal)
Faktor Vladimir Putin. Konflik Georgia-Rusia ini juga berkaitan erat dengan ambisi pribadi Putin. Perbedaan jalur politik luar negri yang dipilih oleh Shakashvilii yang lebih pro-Barat, membuat Putin selalu mencurigai dan menentang tiap manuver politik luar negri yang dilakukan Shakashvilii. Selain itu, visi politik Putin yang ingin mewujudkan kembali persatuan Soviet walaupun secara gradual, membuat kebijakan yang diambil Putin terhadap negara ex-Soviet cenderung ekspansif dan berpola militeristik. Hal ini terlihat dari dukungan militer besar-besaran yang diberikan Putin terhadap 3 etnis   yang menuntut independensi dari Georgia, yaitu etnis Azeri di wilayah Adjaria, etnis Ossets di Ossetia Selatan, dan etnis Abkhaz di Abkhazia.
Semangat nasionalisme yang sangat kuat dari Putin mendapat dukungan dari sebagian rakyat Rusia, kecenderungan untuk mengembalikan Rusia kepada pola Soviet tersebut terlihat dari dirubahnya hari libur nasional kemerdekaan di Rusia, yang sebelumnya jatuh pada tanggal 7 November (tanggal Revolusi Bolshevik) menjadi tanggal 4 November yang disebut Putin sebagai hari kemerdekaan persatuan nasional. Perubahan perayaan kemerdekaan tersebut adalah satu dari sekian janji politik Putin pada rakyatnya, yang pada garis besarnya menjanjikan kembalinya Rusia yang besar, bersatu, dan berpengaruh di dunia internasional. Janji politik Putin, saat ini sedang berada dalam masa pengujian yang ketat, karena pada Maret 2008 nanti Rusia akan menjalankan pemilihan Presiden, jadi, dapat dibayangkan besarnya ancaman atas posisi Putin, jika Putin terbukti tak dapat menuntaskan masalah ’kecil’ seperti Georgia.
Faktor Mikhael Shakashvilii. Pemimpin Georgia yang mendapatkan posisinya melalui Revolusi ‘Mawar’ ini mempunyai latar belakang pendidikan di Amerika, Shakashvilii adalah seorang lulusan Columbia University yang juga menjadi aktivis Open Society, sebuah NGO AS yang berusaha mengembangkan demokratisasi di negara-negara ex-Soviet. Jalur politik pro-Barat yang dijalankan Shakashvilii setelah menjabat menjadi Presiden adalah salah satu proses pembuktian janji politiknya pada rakyat Georgia untuk merubah pemerintahan Georgia, yang sebelumnya terkenal sangat korup dan cenderung represif. Jalur itu juga dipilih Shakashvilii untuk menunjukkan perbedaan dirinya dengan Presiden sebelumnya yang digulingkan, yaitu Eduard Shevarnadze yang cenderung mengikuti Moskow (Shevarnadze adalah mantan penasihat Putin). Perbedaan jalur politik ini cukup menjadi alasan bagi Putin untuk memasukkan pemerintahan Georgia yang sekarang dalam daftar ‘tetangga buruk’nya.
Namun, di sisi lain, kurangnya perhatian Shakashvilii terhadap titik-titik disintegrasi di wilayahnya seperti, Abkhazia, Ossetia Selatan, dan Adjaria, membuat legitimasi Shakashvilii sebagai Presiden tak diakui di wilayah-wilayah itu. Celah ini dimanfaatkan dengan baik oleh Putin dengan suplai bantuan total terhadap ketiga wilayah tersebut.
Manuver-manuver Putin dilawan Shakashvilii melalui penentangannya terhadap kehadiran Rusia sebagai anggota beberapa forum internasional, seperti WTO. Tentangan tersebut menunjukkan satu nilai lebih Shakashvilii yang tak dimiliki Putin yakni, kapabilitas lobby internasional.
  
Daftar Pustaka
Dymarsky, Vitaly, Outside View: Russia-Georgia Conflict Fraught with Dangers, From Europe  Peace and Conflict Journal, 12th Oct 2006 issue.
King, Charles, A Rose Among Thorns: Georgia Makes Good, from Foreign Affairs Journal, March/April 2004 issue.
Kwok, James, Red Blues; Strive in Post Soviet Georgia, from Energy Journal, vol.26 (4)-winter 2005.
Goldman, Marshall I, Putin and the Oligarchs, from Foreign Affairs Journal, November/December 2004 issue.
Pipes, Richard, Flight from Freedom: What Russian Think and Want, from Foreign Affairs Journal, May/June 2004 issue.
 freedom-What-russian-think-and-want.html
Ebel, Robert, Untapped Potential the Future of Russia’s Oil Industry, from Development and Modernization Journal, Vol.25 (1)-Spring 2003.
Morse, Edward L, James Richard, the Battle for Energy Dominance, from Foreign Affairs Journal, March/April 2002 issue, http//. www.foreignaffairs.org
Corso, Molly, Tbilisi Claims Victory in Wine War, 30 October 2006, www.tol.cz
Cohen, Ariel, Washington Challenged by Georgian-Russian Crisis, 19 October 2006, www.tol.cz
Petriashvilii, Diana, Ruling Party Coasts to Victory, 9 October 2006, www.tol.cz
Petriashvilii, Diana, Opposition Blames Coup Arrests on Campaign Tactics, 14 September 2006, www.tol.cz

About iconoclasticme

sophisticated early 20s girl (?), with much shitty crisis that makes her so...different. and even though she might not get through it well i

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: