BEBERAPA OVERLOADS

Overload = Penuhnya Pemikiran

mungkin apa yang disebut sebagai ‘white paper syndrome’ memang patut dipercayai adanya

terbukti, dalam beberapa hari ini saya hampir-hampir tidak mampu menuliskan gagasan-gagasan yang ‘ngendon’ di labirin benak saya,…

bukannya tak ada kerling ide nakal yang melintas, namun, for God’s sake!!! benak saya rasanya seperti berhenti mencerna, immediately inaction, ketika saya mulai melihat ruang putih yang kosong melompong itu, lembar digital MS word yang ‘nampang’ dengan naif-nya di raut wajah PC kesayangan saya…

entahlah, apa yang sebenarnya sedang bergolak di jalinan syaraf neuron saya, tapi yang pasti…saya tidak mampu menerjemahkan beribu pikiran, ide, protes, dan rasa yang sudah menggila. banyak sebenarnya yang ingin dituliskan, namun mungkin manusia memang diberi kecenderungan untuk lebih banyak mempergunakan lidahnya untuk berbicara, daripada benaknya untuk merasa-mencerna-berpikir-mengejawantah-dan menulis, atau mungkin juga saya merupakan sesosok manusia posmodern (walaupun saya tidak mengidentifikasi diri seperti itu…g’ gw bangget) yang percaya bahwa kata akan mereduksi makna, atau mungkin konsep ‘ke-posmo-an manusia’ dan konsep ‘white paper syndrome’ itu tadi merupakan dua smart excuse bagi orang2 seperti saya (orang2 yang lebih suka menggunakan kata-kata tajam, namun bersikap sok ‘virtual’ dengan mem-blog-kan segala apa yang dicerna…)

entahlah, yang pasti, seperti apa yang saya dan teman saya diskusikan tadi malam di kamar kos perjuangan kami, ‘bahwa karya tulis akan menjadi milik publik ketika kita mempublishkannya’, artinya adalah, bahwa ketika saya memutuskan untuk menuliskan apa yang saya rasa dan cerna dalam bentuk sebuah blog, maka konsekuensi yang harus saya terima adalah bahwa ‘rasa dan cerna’ itu bukan lagi milik saya, namun milik siapa saja yang mampir ke rumah karya saya itu.

ini artinya, saya harus siap dikomentari apapun oleh para blogger lain yang mampir untuk sekedar menengok betapa menyedihkannya saya dan ‘white paper syndrome’ yang saya derita itu, atau betapa sengsaranya hidup saya menjadi ‘sosok manusia posmodern’ yang tak lagi dihinggapi keberanian untuk sekedar menerjemahkan rasa.

About iconoclasticme

sophisticated early 20s girl (?), with much shitty crisis that makes her so...different. and even though she might not get through it well i

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: