European Union Strategy of Defence :

European Union Strategy of Defence :

A Short Analytical Review[*]

Dalam bukunya ‘The Dawn of Peace’, Michael Mandelbaum mengajukan suatu fenomena konsep pertahanan keamanan baru di Uni Eropa, yaitu konsep ‘common security’. Berdasarkan konsep ini – yang menurut Mandelbaum baru berlaku sejak masa pasca Cold War – keamanan dan pertahanan UE tidak lagi tergantung pada 2 metode penjagaan stabilitas yang telah menjadi ciri khasnya yaitu ‘balance of power’ ataupun ‘world government’. Dengan konsep ini – ‘common security’ yang pada akhirnya di kembangkan menjadi ‘cooperative security’ oleh sebuah lembaga riset, yakni The Brookings Institute – UE masih terdiri dari negara-negara berdaulat yang otonom, tanpa adanya otoritas supranasional. Negara-negara UE pun masih memiliki persenjataan konvensional, namun perdamaian dan keamanan di UE tidak lagi tergantung pada keseimbangan kekuatan konvensional ‘major states’, karena kapabilitas dan faktor stimulan untuk berperang telah berkurang.

Kapabilitas militer UE juga telah berkurang seiring dengan munculnya traktat-traktat ‘arms control’ yang di mulai dengan INF Agreement pada Desember 1987, dan mencapai puncaknya dengan START II pada Januari 1993. Traktat ‘arms control’ seperti ini memang telah banyak diratifikasi sebelumnya pada masa Cold War, tetapi ada beberapa karakter khusus dari 2 traktat terakhir yang membuat mekanisme ‘arms control’ menjadi lebih efektif di kalangan negara-negara anggota UE, yaitu :

  1. Kedua traktat tersebut memiliki unsur ‘defence dominance’, yaitu unsur yang membatasi kepemilikan senjata konvensional UE pada senjata-senjata defensif saja.
  2. Adanya mekanisme CBM (Confidence Building Measures) dalam tiap traktat yang mengharuskan diterapkannya ‘strategy informational exchange’ (pertukaran informasi strategis) melalui ‘defense policy publication’ (publikasi kebijakan pertahanan nasional / penerbitan Buku Putih Pertahanan).

Sayangnya, meningkatnya efektifitas mekanisme CBM sebagai penjaga stabilitas keamanan di UE tidak disertai dengan niatan baik dari AS sebagai satu-satunya ‘driving force’ yang bertahan setelah Soviet kolaps pada 1990-an. Hal ini ditandai dengan perluasan keanggotaan NATO yang – sekali lagi – ‘mengkhianati’ niatan baik Eropa untuk membangun mekanisme CBM, karena, pada tataran yang sangat mendasar, perluasan keanggotaan NATO di Eropa Timur tersebut telah membangkitkan kecurigaan UE terhadap munculnya preseden Cold War dari AS.

Wacana tentang strategi pertahanan-keamanan UE yang sama sekali terlepas dari ketergantungan terhadap AS – walaupun UE masih tetap mempertahankan keanggotaannya di NATO – muncul pada tahun 1989 dengan dibentuknya ESDI. Inisiatif pertahanan bersama tersebut kemudian diperkuat dengan Traktat Maastricht 9-10 Desember 1991 dalam sidang dewan UE yang menyatakan tujuan jangka panjangnya untuk membentuk suatu komunitas keamanan.

Traktat Maastricht ini sekaligus mengakhiri dominasi keamanan pertahanan Atlantik dengan pilar AS, dan mengubahnya kepada mekanisme pertahanan keamanan Eropa dengan pilar Eropa Barat. Penting untuk dicatat bahwa dalam tataran intra-Eropa Barat sendiri terjadi silang pendapat mengenai visi keamanan Eropa yang independen, hal ini terbukti dalam proses pembentukan Traktat Maastricht itu sendiri, di mana Perancis menolak mentah-mentah kehadiran AS dalam sidang dan posisi yang akan dijabatnya sebagai Observer bagi komunitas keamanan Eropa, Jerman berada di pihak Perancis, sedangkan Inggris walaupun mendukung pembentukan komunitas keamanan Eropa tetap tidak mau menghapus peranan AS di dalamnya.

Pada Juni 1992, muncullah Deklarasi Petersberg yang menyatakan peran Eropa Barat sebagai pemegang tanggung jawab pertama dan utama dalam komunitas keamanan Eropa, terutama dalam hal ‘conflict prevention’ dan ‘conflict management’.

Kompetisi peran sebagai penjaga stabilitas keamanan global antara UE dan NATO sekali lagi terlihat di sini. Pada 1993, UE membentuk Eurocorps, yaitu suatu unit personil militer – yang di dominasi oleh Eropa Barat – yang dapat menjalankan operasi stabilitas keamanan di wilayah negara manapun dengan mandat dari CSCE dan PBB, sementara itu pada waktu yang sama NATO tidak memiliki otoritas untuk melakukan hal serupa.

Pembentukan Eurocorps inilah yang kemudian pada saat ini menimbulkan sengketa otoritas di dalam NATO, karena, bagaimanapun juga negara-negara Eropa Barat masih terikat dengan keanggotaan mereka dalam NATO. Hal ini semakin diperumit dengan peran NATO yang telah sejajar dengan Eurocorps sebagai ‘conflict defuser’.

Perkembangan terakhir tentang penguatan aspek keamanan-pertahanan UE baik secara intern maupun peran ekstern-nya adalah :

  1. Pembentukan pola strategi keamanan-pertahanan UE – yang ‘khas Eropa’ – yang tetap dimotori oleh negara-negara Eropa Barat.
  2. Peningkatan kapabilitas militer tiap negara di UE sebagai inti pembentukan komunitas keamanan dan respon defensif terhadap dinamika keamanan global.
  3. Porsi peran negara-negara Eropa Barat – Eurocorps – yang lebih besar dalam struktur komando strategis NATO sebagai realisasi tuntutan UE terhadap NATO dan solusi sengketa otoritas di dalam NATO.

Dengan langkah-langkah kebijakan strategis yang proporsional serta peningkatan kohesivitas intern yang konsisten, UE semakin memantapkan langkahnya untuk memperkuat peran keamanan-pertahanannya di tataran global.

Annex I.

List of Concepts

Common Security

Konsep pertahanan keamanan kawasan yang di kembangkan UE dengan basis kepercayaan antar negara intra-kawasan.

World Government

Konsep penjagaan stabilitas perdamaian dengan pembentukan badan supranasional yang mempunyai otoritas untuk mengatur dan memberi sanksi pada negara anggotanya.

Arms Control

Mekanisme pembatasan kepemilikan persenjataan negara-negara melalui regulasi konsensus, traktat, perjanjian, dsb.

Defence Dominance

Sifat suatu rejim regulasi keamanan yang cenderung mempertahankan status quo (tidak ekspansif).

Strategy Informational Exchange

Salah satu mekanisme CBM yang mengharuskan negara-negara terkait saling bertukar informasi mengenai perkembangan strategi pertahanan-keamanan domestik.

Defense Policy Publication

Buku Putih Pertahanan Nasional.

Conflict Defuser

Negara-negara yang berperan sebagai promotor resolusi konflik.


[*] By : Laily Fitry

Student of International Relations Department – University of Jember

Member of IR studies community ‘FinReP Studies’

About iconoclasticme

sophisticated early 20s girl (?), with much shitty crisis that makes her so...different. and even though she might not get through it well i

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: