FITNA: A CIVILIZATIONAL REGRESSION

By : Laily Fitry

Setelah sekian lama, Penulis akhirnya menemukan sebuah bukti yang menyokong proposisi ‘sejarah akan berulang’. 2 April 2008, Penulis menonton ‘propaganda show’ yang berjudul Fitna, kumpulan potongan-potongan interpretasi terhadap beberapa ayat Al Qur’an yang kesemuanya dipelintir dan dihiasi dengan tebaran video indoktrinasi kelompok fundamentalis. Show tersebut disusun dalam bentuk sajian yang sangat membosankan, menawarkan zero possibility bagi mereka yang mengharapkan sentuhan artistik. Bahkan jika dilihat dari perspektif penyusunan argumentasi ilmiah show tersebut tak memenuhi syarat minimum-nya, yakni, assertion-reasoning-examples.

Tetapi tulisan ini tidak ditujukan untuk membahas nilai artistik show tersebut. Seperti yang telah tertulis di permulaan, terdapat lahan diskursus menarik lain dalam show itu, disamping perdebatan tentang fundamentalisme Islam dan kontroversi penayangannya – yang akhir-akhir ini mendapatkan banyak kecaman dari berbagai kalangan pemuka agama.

Kemunduran peradaban, itulah sisi lain yang tercermin dari plot adegan dalam show tersebut. Pihak pembuatnya sengaja menampilkan ayat-ayat Al Qur’an pada tampilan awal tiap sekuel doktrin fundamentalisme Islam yang menempati porsi terbesar dalam durasi pendek tayangan tersebut. Tampilan ayat-ayat Al Qur’an itu seakan dimaksudkan sebagai prinsip dasar beragama (Islam) yang wajib dipegang teguh oleh tiap pemeluknya. Implikasinya adalah, bahwasanya berbagai bentuk aksi teror yang selama ini terjadi ternyata berakar dari ‘sabda Tuhan’ itu sendiri. Doktrin ‘perangilah orang kafir (non-Islam)’ ternyata tidak murni berakar dari ideologi terorisme, bukan pula hasil rekaan ‘xenophob’ para pemimpin gerakan fundamentalis, seperti Abu Mushab Al-Zarqawi. Namun, lebih jauh, doktrin itu telah termaktub jelas dalam ayat-ayat sebuah kitab yang menjadi pedoman keseharian umat Islam. Kesimpulannya, bahwa para pelaku teror (yang berasal dari gerakan fundamentalis Islam) sebenarnya merupakan segerombolan manusia yang tak berdosa, tindakan teror itu tidak seharusnya dipandang sebagai ekspresi fatalistik mereka, tetapi lebih sebagai lelaku ritual (ibadah) yang memang diwajibkan dan diperintahkan oleh Tuhan mereka.

Konklusi yang mengarah kepada pendakwaan Islam sebagai agama yang mengijinkan – kalau tidak bisa disebut ‘mewajibkan’ – pembantaian tersebut tidak cukup memuaskan pihak pembuat tayangan, karena setelah tampilan ayat-ayat ‘doktrinasi’ tersebut menghilang maka adegan indoktrinasi ideologi teror pun tampil menggantikannya. Dan tayangan itu diakhiri dengan rangkaian himbauan (?), ajakan (?), atau provokasi (?) untuk membinasakan sebuah ideologi – setelah kehancuran Fasisme dan Komunisme – yakni ideologi Islam.

Tayangan tersebut – menurut pembuatnya – dibuat sebagai reaksi atas munculnya rencana dihapuskannya ‘larangan pemakaian atribut agama di tempat umum’, oleh Parlemen Belanda. Namun, rencana dihapuskannya larangan tersebut hanyalah satu diantara beberapa motivasi yang berada di belakang pembuatan tayangan tersebut, lebih jauh, Scarlet Pimpelners dan Geertz Wilders merasa terancam dengan peningkatan pemeluk agama Islam di Belanda.

Penyampaian pesan dalam balutan provokasi, penyelewengan makna dalam prinsip-prinsip keagamaan, dan narasi hiperbolis yang menyertainya, membuat keseluruhan tayangan tersebut sempurna sebagai contoh regresi peradaban, setidaknya dalam konteks kebebasan berpendapat. Dalil-dalil Demokrasi rupanya telah menjadi a new way out bagi beberapa orang untuk mentransformasi luapan amarahnya menjadi bentuk provokasi terhadap publik untuk mengulang lembar hitam ‘Holocaust’ dalam kerangka kepentingan bersama.

Tak pelak, publik – sedikit banyak – akan mempersepsikan Islam dan peningkatan pemeluknya (di Belanda) sebagai paket kejahatan yang tak dapat ditawar lagi keberadaannya. Kekejaman dan kebiadaban teroris (yang beragama) Islam merupakan aspek yang inheren di dalam Islam itu sendiri, kekejaman yang memang sudah dari ‘sono’nya, kebiadaban yang serupa dengan rasa asin pada garam, sesuatu yang tidak dapat dihapus, ‘embedded’ alias inheren. Dengan kata lain, untuk memusnahkan kebiadaban teroris (yang beragama) Islam satu-satunya cara yang efektif untuk dilakukan adalah memusnahkan pemeluknya, semacam Holocaust abad 21, karena kebiadaban, kejahatan, kekejaman, fanatisme buta, metodologi radikal, adalah banalitas dalam Islam itu sendiri.

Tentunya, perspektif fatalis tersebut sudah seharusnya kita hapus dari daftar ‘target perhatian dan target proses nalar’ kita. Bukan karena substansi oposan yang dikandungnya, namun lebih karena stigma inferior yang patut untuk dilekatkan terhadap tayangan tersebut, mengingat nol persen pertimbangan saintifik dan normatif dalam pembuatannya.

About iconoclasticme

sophisticated early 20s girl (?), with much shitty crisis that makes her so...different. and even though she might not get through it well i

One response to “FITNA: A CIVILIZATIONAL REGRESSION”

  1. dyananda says :

    seperti halnya film durasi pendek fitna yang penuh assertion tanpa mengungkap reasoning dan evidence, begitu pula dengan anda yang membela diri (harga diri keIslaman yang disentil) dengan cara menyerang tanpa menunjukkan klaim2 wilders yang salah dan patut diluruskan.
    terlepas bahwa setiap ayat Al Quran bersifat multiinterpretatif, namun pada kenyataannya MEMANG beberapa ‘hateful verses’ dimanfaatkan sebagai justifikasi atas tindak kekerasan yang mereka (gerakan fundamentalis) lakukan, atau malah menjadi sumber kebencian yang mereka rasakan pada orang non muslim. dan dari situ, ah sebenarnya saya tak ingin melempar tanya ini, siapa yang patut ditanya (bahasa halus untuk kata ‘dipersalahkan) adalah: sang pemeluk taklik yang menginterpretasi as the way it is, atau Sang Sabda yang selalu bermain-main dengan kekayaan kata dan bahasa??

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: