On the Process of Thought

Beberapa waktu yang lalu saya melontarkan sebuah pertanyaan sekaligus opini – kepada seorang teman – yang muncul begitu saja di benak saya, ‘apakah ini arti menjadi manusia modern?,’ saya heran mengapa selalu saja muncul pemikiran-pemikiran tentang berbagai aspek kehidupan di benak saya?’, mengapa diri saya rasanya tidak mau bersikap pasif dan ‘nrimo’ saja atas segala sesuatu yang terjadi?’ Baik itu terhadap diri saya, lingkungan sekitar saya, ilmu Hubungan Internasional, bahkan terhadap jagat raya sekalipun, kenapa saya selalu ‘menanggapi’?. Teman itu menjawab, ‘berpikir itu bukan merupakan sebuah konsekwensi dari menjadi manusia modern, namun lebih sebagai fase berkehidupan yang memang harus kita jalani’.

Pantang memang, untuk berhenti berfikir. Hal itu terbukti sejurus yang lalu, saya mendapati beberapa pemikiran melintas di benak kosong saya. Pemikiran tentang konteks perpolitikan nasional, keseimbangan ekosistem alam yang rusak, Islam dan keislaman diri saya, fenomena-fenomena sosial di sekitar saya, dan beberapa gagasan lainnya. Saya coba menekan semua pemikiran itu sekuat tenaga, berupaya keras konsisten dengan komitmen ‘pengistirahatan benak’ yang pernah saya lontarkan. Berkali-kali saya mengingatkan diri bahwa pemikiran tentang ‘keindonesiaan’, ‘keislaman’, atau ‘permasalahan sosial’, tidak berada dalam zona tanggung jawab utama saya, maka seharusnya saya tidak memberi porsi ‘premium’ bagi pemikiran-pemikiran tersebut dalam jam-jam kontemplasi saya. Selain itu, saya masih memiliki tanggung jawab yang lebih besar, yaitu penulisan skripsi. Namun, ‘warning’ tanggung jawab tersebut ternyata tidak cukup mempan untuk menjinakkan penjelajahan benak saya.

Ya, pemikiran saya itu memang lucu, kalau tidak mau dikatakan konyol. Bukankah peradaban manusia pun bisa terwujud gara-gara proses rumit yang disebut ‘berpikir’ itu?. Bukankah komputer yang memungkinkan saya menulis tanpa pena, obat asthma yang memperpendek rasa sakit yang saya derita, telepon genggam yang memperpendek batas ruang diantara saya dan teman-teman, bahkan internet yang menyediakan ruang pribadi bagi ide-ide saya, bukankah itu semua merupakan ‘anak kandung’ dari proses berpikir?, sintesa dari tanggapan manusia terhadap tantangan yang muncul di dalam kehidupan.

Keinginan untuk menghentikan pemikiran itu sendiri sebenarnya muncul dari apa-apa yang saya alami beberapa hari terakhir. Saya merasa begitu ‘membumi’, jauh dari aktifitas keseharian mahasiswa yang selalu bergelut dengan wacana. Akhirnya, sentuhan keseharian membuat saya kembali memikirkan substansi aktifitas diri, dan ternyata kegiatan ‘merenung’, kontemplasi, tafakkur, atau menalar itu tadi menempati porsi terbesar dalam jam-jam sibuk saya.

Hal yang membuat saya terlonjak adalah, temuan kesenjangan antara porsi waktu merenung dan kontribusi riil saya terhadap pemecahan seribu satu permasalahan objek renungan saya. Ternyata, saya hanya cakap berwacana, tak banyak hal nyata yang pernah saya lakukan untuk membuat bumi ini lebih baik. Jangankan bergerak dan mengambil langkah konkrit, menyuarakan gagasan dalam bentuk tulisan saja, jarang saya lakukan. Pendek kata, saya hanya bisa ‘membatin’, sampai akhirnya bingung dengan hasil ‘wawancara dengan diri sendiri’ itu.

Saya tidak sedang ingin mengatakan bahwa kegiatan ‘merenung’ itu buruk, namun, khusus untuk kasus saya, ‘merenung’ (dengan porsi waktu yang terlalu besar) terbukti kontraproduktif. Saya menjadi terlalu sibuk dengan diri saya sendiri, sampai akhirnya akar permasalahan yang awalnya menjadi titik tolak perenungan, semakin bertambah kusut dan tidak ketemu ujung pangkalnya. Mungkin saya harus menyeimbangkan kembali neraca aksi dan pikir saya. Mencoba untuk tidak hanya terorientasi kepada solusi dalam kerangka ide-ide besar. Solusi yang membutuhkan sumber daya yang masif dalam penerapannya. Saya harus membuka mata dan telinga, memperhatikan disrupsi-disrupsi kecil di sekeliling saya, dan melakukan apapun yang mungkin saya lakukan untuk mengurangi imbas negatifnya.

About iconoclasticme

sophisticated early 20s girl (?), with much shitty crisis that makes her so...different. and even though she might not get through it well i

One response to “On the Process of Thought”

  1. semuatentanghidup says :

    I think we all have shared the same thing. We are busy interviewing ourselves but then at the end we come to an end which is so contraproductive. What make it more interesting? write the process however absurd it is. Each step. I like making mind-map when I’m confused to something..

    About receiving, I think this sould not be always mean passive right? The same with ‘ikhlas’. Does it mean we just keep silent? Nope. Nrimo in my perspective is looking for better condition. I hate Mario teguh, but I like his opinion which says “segerakanlah niat anda, jangan berlama-lama tenggelam dalam pemikiran saja”. And that is the definition of nrimo.

    I signed in with my hubby’s account. My blog is here: http://nyismaknyus.blogspot.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: