“Menjadi” Israel

Beberapa bentuk kebijakan agresif dan non-humanis yang kembali dilancarkan Israel dalam beberapa waktu terakhir ini kembali mengundang datangnya kecaman keras dari seluruh penjuru dunia. Isolasi Gaza dan blokade bantuan kemanusiaan yang dilakukan oleh militer Israel atas instruksi langsung pemerintahnya, benar-benar tak bisa dinalar dengan logika pembentukan kebijakan dalam negri pada umumnya, kalkulasi politik-strategis nasional juga tak mampu menyediakan jawaban yang memuaskan.

Resiko reaksi negatif publik internasional yang dengan ‘gagah-berani’ ditanggung oleh Israel hanya untuk mempertahankan isolasi total terhadap Gaza menimbulkan pertanyaan tersendiri yang selama ini seringkali luput dari perhatian publik. Lebih dari sekedar pertanyaan “apa yang diinginkan Israel dari kebijakan militeristik-nya terhadap Gaza?”, tulisan ini ingin menganalisa permasalahan fundamental lainnya yang turut membentuk dan mengarahkan kecenderungan pola kebijakan luar negri Israel menjadi kebijakan yang agresif, bersifat militeristik, dan tidak mengindahkan nilai-nilai humaniter internasional.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, dalam kalkulasi politik sederhana, sebuah negara akan membentuk kebijakan luar negrinya dari dua komposisi utama, yaitu kepentingan nasional (national interest) dan konteks internasional (international context). Di tahap awal pembentukan kebijakan, negara akan melakukan ‘inventarisasi’ kepentingan nasional yang disarikan dari dinamika politik domestik. Selanjutnya, negara akan menyusun skala prioritas untuk menetapkan kepentingan apakah yang harus dicapai terlebih dulu. Pada tahap berikutnya, barulah negara melakukan analisa terhadap konteks internasional yang sedang berlangsung sembari menyesuaikan target pencapaian kepentingannya terhadap sumber daya yang dimiliki dan konteks internasional yang tersaji di hadapannya.

Dengan berdasarkan kepada logika strategis sederhana tersebut, langkah Israel untuk melanggar rambu-rambu nilai kemanusiaan merupakan hal yang sangat tidak biasa. Di tengah konteks internasional yang sedang bergerak cepat menuju afirmasi nilai-nilai kemanusiaan dan pembentukan rezim-rezim khusus untuk menjamin terpenuhinya nilai-nilai tersebut, Israel seperti ‘menyabung nyawa’ hanya demi mempertahankan tindakan militeristiknya terhadap sepotong wilayah kecil bernama Gaza.

Apalagi, ketika bahasan tentang pelanggaran nilai-nilai HAM ini dibingkai dalam kerangka tesis Perdamaian Demokratis – tesis yang menyatakan bahwa negara-negara demokratis akan berkecenderungan untuk menjaga perdamaian di antara sesamanya, dan bahwa negara demokratis akan menghindari pola kebijakan koersif-agresif dan ekspansionis terhadap negara-negara non-demokratis – maka kebijakan non-humanis Israel tidak hanya menodai dinamika pembentukan tata internasional (international order) yang lebih baik, namun juga ‘mengkhianati’ adopsi nilai-nilai demokratis yang telah mewarnai praktek kenegaraan Israel hingga saat ini.

Irasionalitas kebijakan Israel tentunya tidak dapat dipahami melalui kacamata politik-strategis konvensional, namun, lebih jauh dari itu, harus dipahami dari perspektif politik-strategis alternatif yang tidak hanya memperhitungkan kalkulasi kepentingan konkrit melainkan juga kepentingan tak nampak (intangible interest), yang tidak hanya melihat dinamika politik domestik sebagai satu-satunya sumber kepentingan, melainkan juga mempertimbangkan faktor-faktor tak kasat mata lainnya yang inheren dan dapat mempengaruhi pembentukan kebijakan luar negri suatu negara.

Adalah Konstruktivisme, sebuah perspektif yang terbilang baru dalam ranah kajian Politik dan Hubungan Internasional, yang mungkin dapat menyajikan eksplanasi yang lebih baik dalam analisa kebijakan luar negri Israel. Sebagai perspektif Post-Positivistik, Konstruktivisme memungkinkan kita untuk menganalisa faktor-faktor intangible yang turut menentukan arah kebijakan negara.

Konstruktivisme menaruh ‘identitas’ sebagai variabel utama yang harus dianalisa dalam pembentukan kebijakan luar negri suatu negara. Dalam artian, negara menentukan kepentingan nasional-nya berdasarkan kepada sudut pandangnya terhadap dunia dan bagaimana ia – negara – memposisikan dirinya dalam konstelasi politik internasional yang ia yakini saat itu.

Kembali pada Israel, melalui bingkai Konstruktivisme kita dapat mencerna dan melogikakan pola kebijakan luar negri Israel yang terlihat menentang arus normatif global dan berbuah lebih banyak kecaman daripada keuntungan. Bagi Israel, langkah okupasinya terhadap Palestina bukan sekedar tentang penguasaan wilayah per se. Palestina merupakan wilayah pertarungan zero-sum, di mana kompromi adalah sesuatu yang tidak dapat diterima. Israel akan menguasai seluruh wilayah Palestina, atau tidak sama sekali.

Posisi geografis Israel yang terletak di timur-tengah dan dikelilingi oleh negara-negara Arab Pro-Palestina (sebut saja Syria, Turki, Mesir, dll) paling tidak, menghasilkan dua implikasi langsung yang memperkuat perspektif Israel tentang diri, posisi, dan konteks internasional yang ia hadapi. Pertama, Israel merasa sebagai ‘domba di tengah kawanan serigala’. Tidak ada satupun negara yang berbatasan langsung dengan wilayah teritorialnya, yang berada di pihaknya. Beberapa negara tetangga bahkan secara eksplisit menyuarakan kecaman mereka terhadap Israel. Dalam pandangan geo-strategis Israel, ancaman (militer maupun non-militer) dapat menyerang kapan saja dari arah manapun. Kondisi geo-strategis yang tidak menguntungkan tersebut menjadi pembenaran bagi Israel untuk mengambil tindakan preemptive demi mewujudkan jaminan keamanan nasional dan melancarkan jalan yang ia tempuh untuk menguasai Palestina.

Kedua, Israel memandang konstelasi politik internasional sebagai tata politik yang murni bersifat anarkis, sehingga tak ada satupun badan atau negara yang dapat dipercaya mampu menjamin posisi kepentingan Israel, apabila jalan negosiasi dipilih sebagai media resolusi atas krisis Palestina. Pada gilirannya, perspektif Israel terhadap konstelasi politik internasional ini memperkokoh justifikasinya untuk mengambil langkah kebijakan yang bersifat koersif, atau bahkan kebijakan non-humanis.

Pesimisme Israel terhadap konstelasi politik internasional ini terbukti dari langkah ‘pengkhianatan’ Israel dalam skenario-skenario rekonsiliasi damai yang diupayakan oleh beberapa pihak. Payung keamanan super-power – Amerika Serikat – tak cukup kuat untuk menimbulkan rasa ‘aman’ bagi Israel, karena sejatinya, tidak ada ‘relasi pertemanan’ yang bersifat abadi di dalam perspektif politik internasional realis a la Israel. Satu-satunya hal yang abadi dalam konstelasi politik internasional adalah kepentingan nasional masing-masing negara, yang mana negara-negara tersebut dapat menggunakan media apapun untuk mencapai dan mewujudkannya. Mengutip Hobbes, di mata Israel konteks politik antar-negara saat ini merupakan konteks peperangan satu melawan lainnya (war of all against all).

Dengan kedua perspektif Israel tentang konteks perpolitikan antar-negara di level regional maupun global tersebut, maka kebijakan non-humanis Israel dapat dicerna secara lebih gamblang. Sebagai sebuah negara dengan sumber daya geo-strategis yang terbatas dan dikelilingi oleh negara-negara ‘musuh ideologis’-nya, dapat dipahami jika perasaan ‘aman’ merupakan sesuatu yang langka bagi Israel. Satu hal yang dilupakan Israel adalah bahwa dinamika tata internasional sedang bergerak menuju orientasi normatif di mana hal-hal idealistis seperti penegakan nilai-nilai HAM menjadi salah satu karakteristik utamanya. Israel harus menyadari bahwa perspektif realisme tidak lagi sesuai sebagai bingkai konstelasi politik internasional, karena perspektif-perspektif alternatif mulai mendapatkan tempatnya dalam menentukan arah dinamika perpolitikan global.

About iconoclasticme

sophisticated early 20s girl (?), with much shitty crisis that makes her so...different. and even though she might not get through it well i

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: