Promising Concepts To Be Explored

DEKONSTRUKSI SYARIAH

Lahir dari premis dasar yang meyakini bahwasanya ‘syariah’ hanyalah bagian kecil dari konteks keagamaan seseorang, konsep dekonstruksi syariah menawarkan sudut pandang menarik untuk melihat dan menyikapi perdebatan di seputar tema kesesuaian Islam dengan modernitas dunia.

Pada intinya konsep ini menawarkan proposal reformis untuk menselaraskan aspek-aspek syariah Islam yang selama ini berseberangan dengan norma-norma internasional, sehingga kondisi tak nyaman yang selama ini selalu dihadapi Muslim dalam kesehariannya – terkait dengan gesekan antara kewajiban untuk menaati syariah dan tuntutan hidup sehari-hari – dapat diatasi dengan baik. Sehingga tidak ada lagi pertentangan pendapat dalam peran wanita di ruang publik, tentang aturan menutup aurat, tentang pembagian hak waris, dan sebagainya, yang selama ini menjadi titik sentral perdebatan antara kelompok Moderat Islam dengan Konservatif Islam, pun antara kelompok relijius Muslim dengan kelompok sekuler.

Lebih jauh, konsep dekonstruksi syariah didasarkan pada kemungkinan untuk melakukan reformasi terhadap seluruh aspek hukum syariah dengan justifikasi sebagaimana berikut:

1. Hukum syariah yang selama ini menjadi pedoman hidup bagi keseharian Muslim kontemporer merupakan ‘hukum syariah historis’ yang merupakan hasil interpretasi dan konsepsi para Cendekiawan Islam terhadap dua sumber utama, yakni Al-Quran dan Sunnah Nabi. Sehingga, dengan demikian umat Islam saat ini dapat melakukan hal yang sama, yakni interpretasi dan konsepsi syariah yang turut mempertimbangkan konteks kehidupan kontemporer.

2. Karena ‘beragama’ meliputi dimensi yang lebih luas dari sekedar menaati syariah dan menjalankan ritual, maka mereformasi syariah tidak memiliki arti yang sepadan dengan meruntuhkan atau mengkhianati agama. Premis inilah yang menjadi ganjalan utama bagi umat Islam untuk melakukan penyesuaian aspek hukum syariah dengan tuntutan kehidupan modern selama ini. Sebagian besar umat Islam terlanjur meyakini bahwa hukum syariah historis adalah sesuatu yang memiliki legitimasi ilahiah, sehingga mengevaluasi atau mereformasi – bahkan mempertanyakan – syariah bermakna sama dengan mengevaluasi, mereformasi, dan mempertanyakan legitimasi ilahiah.

AGAMA SEBAGAI KONTEKS INTERPRETATIF

(Religion as Interpretive Communities)

Pendekatan ini melihat agama dalam posisinya sebagai sistem kepercayaan yang bersifat dinamis. Pun demikian, para pengikutnya tidak berada dalam kondisi statis yang bebas dari pengaruh modernisasi ataupun globalisasi. Bahkan, interpretasi relijius tidak dapat dipisahkan dari aspek politis. Agama-agama besar di dunia memiliki kitab-kitab sucinya masing-masing – yang bersifat statis secara tekstual – , namun interpretasi – yang pada akhirnya membentuk sistem kepercayaan – terhadap teks-teks suci itu, adalah bersifat dinamis.

Apa yang disebut ‘agama’ merupakan sebuah ‘entitas interpretatif’ yang selalu berinteraksi dalam kerangka dialog dengan pengikutnya, dan (dengan) kelompok masyarakat lain yang berada di sekitarnya. ‘Dialog’ itu dilaksanakan dalam rangka mempertahankan relevansi ‘agama’ tersebut dalam konteks lingkungan yang lebih luas, serta untuk mempertahankan ikatan kohesivitas di antara para pengikutnya.

Pendekatan ini muncul sebagai respon atas kelemahan yang ditunjukkan oleh dua pendekatan lainnya, yaitu pendekatan primordialis / esensialis-relijius (primordialist/religious-essentialism) dan pendekatan modernis/instrumentalis. Pendekatan primordialis menekankan kuatnya efek reliji dalam pembentukan identitas dan arah prilaku sosial individu. Dalam perspektif ini ‘agama’ merupakan komponen tak terpisahkan dari identitas individu. Sementara itu, pendekatan modernis cenderung melihat ‘agama’ sebagai ‘alat’ untuk mencapai kepentingan sosial, politik, ataupun ekonomi yang lebih luas.

Kedua pendekatan di atas – pada dasarnya – bersifat komplementer. Pendekatan primordialis dapat menjelaskan adanya ikatan-ikatan afektif yang tidak jarang mewarnai motivasi pergerakan keagamaan (religious resurgence) dengan berbagai teknik perlawanan radikalnya, sementara pendekatan modernis dapat dipakai untuk mengakomodir fenomena-fenomena politik keagamaan yang banyak ditemui di tataran intra-state, di mana sentimen-sentimen keagamaan sengaja dibangkitkan untuk mencapai kepentingan-kepentingan politik, sosial, dan ekonomi.

Kelemahan kedua pendekatan tersebut – yang akhirnya menjadi concern tersendiri bagi pendekatan ‘entitas interpretatif’ – adalah peletakan ‘agama’ di dalam kerangka kedua pendekatan tersebut. ‘Agama’, baik di dalam pendekatan primordialis maupun modernis, dilihat sebagai sesuatu yang statis. Bagi keduanya ‘agama’ adalah komponen identitas sosial dengan seperangkat doktrin, sistem kepercayaan, dan ritus yang terberi (given), sehingga kedua pendekatan itu juga memperlakukan ‘agama’ sebagai komponen statis dalam kultur politik, walaupun kultur politik itu sendiri merupakan sesuatu yang dinamis.

Sources:

An-Naim, Abdullahi Ahmed, “Toward an Islamic Reformation: Civil Liberties, Human Rights, and International Law, 1990.

Thomas, Scott, Religion and International Conflict, in Dark, K. R (ed.), “Religion and International Relations”, Macmillan Press, London, 2000.

About iconoclasticme

sophisticated early 20s girl (?), with much shitty crisis that makes her so...different. and even though she might not get through it well i

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: