‘RELIGIOCIDE’

‘RELIGIOCIDE’[*]

Semasa kecil saya selalu memandang ‘agama’ sebagai sebuah sekolah dengan kepala sekolah yang ber’tangan besi’ bernama Tuhan. Dan tentu saja, murid-murid sekolah itu adalah manusia dan segala makhluk yang telah diciptakan oleh sang kepala sekolah sendiri.

Seperti halnya sekolah pada umumnya, sekolah ini mendidik murid-muridnya dengan satu tujuan, untuk menjadi yang terbaik. Karena – entah bagaimana – sekolah ini merupakan ‘sekolah umum’, maka murid-murid yang dating untuk menimba ilmu pun memiliki latar belakang yang beragam. Mereka memberi nama panggilan yang berbeda-beda pula untuk Tuhan, sesuai dengan bahasa ibu dan cirri khas masing-masing.

Satu hal yang saat itu membuat saya bertanya, Tuhan tidak memberikan perhatian dan focus pengajarannya pada kami semua – muridnya – secara merata. Teman-teman saya yang memiliki latar belakang yang berbeda selalu mendapatkan porsi perhatian yang minimum, pun bimbingan yang terkesan asal-asalan. Hanya murid yang berasal dari ‘kelompok’ saya yang mendapatkan perhatian dan bimbingan penuh dari Tuhan, sementara murid lainnya hanya dibiarkan tumbuh liar laiknya rumput di jalanan. Saya bertanya-tanya, mengapa tuhan menciptakan mereka jika kemudian tuhan tidak mau memperhatikan mereka?

Seiring dengan usia yang menapak dewasa saya menyadari adanya fakta berbeda. Tuhan ternyata tidak menelantarkan ‘murid-murid berbeda’ itu. Ia juga memelihara mereka, membagi kasih-Nya, membasuh mereka dengan tangan-Nya. Pertanyaan saya pun bergeser dari ketidakmengertian tentang keputusan Tuhan untuk menciptakan murid-murid yang berbeda menjadi mengapa Tuhan menciptakan kami berbeda jika pada akhirnya Ia memperlakukan kami sama? Apa sebab Tuhan bersusah-payah mencipta gradasi itu? Dan jika Ia memang memaksudkan sesuatu dengan perbedaan itu, apa fungsi sebenar dari perbedaan tersebut?

Saya pontang-panting mencari jawaban atas pertanyaan itu, sementara madrasah dan orang-orang disekitar saya menawarkan jawaban yang sama, jawaban yang tidak menjawab pertanyaan tersebut, jawaban yang ‘membunuh’ pertanyaan itu. “perbedaan itu fungsinya jelas, untuk menunjukkan betapa istimewanya golongan kita dibandingkan dengan golongan manusia lainnya”, lalu beberapa menit selanjutnya mereka sibuk menasihati saya tentang pentingnya membuka kembali buku-buku pelajaran agama yang sepanjang ingatan saya juga hanya mengulang-ulang keistimewaan golongan saya dibandingkan dengan golongan manusia lainnya di sisi Tuhan.

Bukannya saya keras kepala dan tak mau menerima semua itu, saya hanya tak bisa melihat ‘keistimewaan’ golongan saya (jika hal itu memang ada). Telah saya kerahkan semua daya upaya untuk mengidentifikasi ‘keistimewaan’ dalam golongan saya itu, akan tetapi semakin dalam observasi yang saya lakukan, semakin menyeluruh analisa yang bangun, semakin kuat pula analisa dan observasi itu menghimpit saya dengan temuan-temuan yang kontradiktif. Apa yang saya temukan adalah banyak hal yang biasa. Kehidupan manusia yang biasa, rasa keagamaan yang biasa, kualitas relasi social yang biasa, kemanusiaan yang biasa. Tak ada satupun indikasi khusus keistimewaan yang dapat teridentifikasi oleh mata telanjang.

Mungkin beberapa orang beranggapan bahwa observasi yang saya lakukan adalah tindakan yang sangat naïf. Mempertanyakan sesuatu yang tidak mungkin – bukan tidak bisa – dipertanyakan. Dalam golongan kami, saya cukup yakin bahwa hal yang sama juga dapat ditemui pada golongan-golongan lain, terdapat hal-hal yang tidak dapat dipertanyakan namun harus diyakini. Selalu ada saat di mana ayah menghentikan berondongan pertanyaan yang keluar dari mulut saya dengan satu kalimat, “Hentikan, atau kamu murtad”, diikuti dengan ultimatum, “Jangan pernah berpikir lagi tentang hal itu”. Respon paling moderat yang pernah saya terima adalah, “ya, kita istimewa karena memang ditakdirkan untuk menjadi istimewa, tak usah kau cari tahu apa dan bagaimana-nya, itu urusan Yang di atas”. Urusan Yang di atas…, habis cerita.

Namun, bagi saya cerita belumlah berakhir. ‘radar’ untuk mengidentifikasi ‘keistimewaan’-‘keistimewaan’ itu tetap saya aktifkan, observasi saya belum usai. Sementara hasrat untuk mempertanyakan ‘hal-hal yang tidak mungkin dipertanyakan’ saya tuangkan dalam bentuk tulisan untuk saya baca, renungi, dan coba pecahkan. Kelimpungan? Jelas, saya tak pernah benar-benar berpijak di bumi, terkatung-katung oleh enigma dalam pikiran saya sendiri.

Bertahun-tahun saya hidup dengan memanggul beban keingin-tahuan, berjibaku dengan benak saya sendiri, bahkan beberapa kali meredam skeptisisme saya yang tak tahu ‘etika’, karena semakin diredam semakin ia ‘durhaka’. Pun, saya masih tidak mampu mengidentifikasi keistimewaan golongan saya.

Bagi saya, pernyataan tentang keistimewaan satu golongan dibandingkan dengan golongan yang lain benar-benar tak dapat diterima. Apa sebab, sebagian manusia tidak berhak atas surga Tuhan hanya karena ia bukan berasal dari golongan yang diistimewakan Tuhan? Penjelasan macam apa yang dapat menjustifikasi kondisi ‘naas’ yang dimiliki oleh sebagian golongan ini? Dan jika memang perbedaan antar-golongan ini dicipta Tuhan untuk membedakan kelompok yang ‘beruntung’ dari yang ‘buntung’, maka sungguh manusia tidak lahir dengan berkah kebebasan (baca: free will) sedikitpun. Bukan hanya takdirnya telah ditentukan, melainkan ia juga dapat mengetahui pelabuhan terakhirnya (surga/neraka) sejak hari ia dilahirkan, dan tidak dapat melakukan apapun untuk merubahnya.

Kegelisahan itu terus saya bawa, hingga pada satu titik saya mendapatkan jawaban sementara atas pertanyaan saya tentang guna perbedaan itu. Sungguh, perbedaan itu merupakan bahasa simbolis Tuhan yang menyatakan afirmasi-Nya terhadap kebebasan. Perbedaan itu adalah bentuk penolakan Tuhan atas homogenitas, atas penyeragaman, atas matinya kreatifitas.

Afirmasi ini tidak hanya bisa kita temukan pada fakta keberagaman, melainkan juga pada cara Tuhan untuk menyampaikan ajarannya. Betapa tidak, lebih dari ribuan cara komunikasi dan media penyampaian yang dapat Tuhan gunakan – bahkan mungkin lebih dari ribuan, mengingat konsep ‘keterbatasan’ yang tidak berlaku bagiNya – Ia memilih untuk menyampaikan ajaranNya melalui ‘wahyu’, sebuah media paling abstrak dan simbolis yang pernah ada. Pilihan yang ‘aneh’ bagi Dzat yang tak memiliki keterbatasan, jika tidak ada motivasi ‘pembebasan’ di dalamnya.

Walaupun tak dapat dipungkiri, terdapat peran nabi sebagai ‘penerjemah’ dan penyampai wahyu Tuhan kepada umatnya, namun apa yang kita lihat sebagai hasil akhir penerjemahan para nabi terhadap wahyu Tuhan – yang tertuang dalam kitab suci, naskah suci, lempeng wahyu, dll – juga masih bersifat multi-interpretatif, tertulis dalam bahasa-bahasa puitis, dan pekat dengan metaphor-metafor simbolis. Kitab atau naskah suci saja tak akan pernah melahirkan ‘golongan’ (baca: agama), pemaknaan manusia terhadap naskah dan kitab suci itulah yang melahirkan doktrin-doktrin operasional tentang ibadah, ritus, dan perangkat system keagamaan lainnya. Pemaknaan humanis yang sama juga telah melabeli ‘golongan’ saya sebagai ‘yang teristimewa’, mereduksi martabat kemanusiaan menjadi semacam properti pendukung bagi identitas golongan, di mana martabat kemanusiaan si A tidak patut dihargai karena ia tidak berasal dari golongan yang sama.

Golonganlah yang kemudian berada di atas segalanya. Berbagai nilai kebaikan, kemanusiaan, dan prinsip moral, tersubordinasikan di bawah nama golongan. Seorang guru di masa kecil saya pernah mengatakan, “kasihan sekali orang di luar golongan kita, beribu kebaikan yang mereka lakukan pun tak akan ada artinya, karena toh mereka akan menjadi penduduk neraka”, mengomentari seorang warga di lingkungan kami yang berasal dari golongan berbeda, namun gemar berbuat amal-kebajikan terhadap sesamanya. Pernyataan yang, lagi-lagi, merefleksikan ‘superioritas’ golongan kami di atas golongan lainnya. Pernyataan yang membuat saya merasa sangat jahat, layaknya seorang Nazi.

Tak cukup dengan menyalahgunakan pemaknaan wahyu Tuhan dengan menarik kesimpulan yang pragmatis, serta menggunakan kesimpulan itu untuk ‘menentukan’ nilai kemanusiaan orang lain, beberapa orang dari golongan saya juga menggunakan pemaknaan itu sebagai sumber otoritas semi-Ilahiah untuk mengajak orang-orang di luar golongan kami supaya turut meyakini apa yang kami yakini (yang sejatinya hanya terdiri dari hasil interpretasi kami terhadap naskah-naskah suci) dengan berbagai cara, bahkan dengan kekerasan – karena toh martabat kemanusiaan yang mereka miliki tak perlu dihargai.

Sebagian orang dari golongan saya menyebut – dan memandang – kegiatan pemaksaan keyakinan itu sebagai ‘jihad’. Saya sendiri menyebut dan menganggapnya sebagai ‘Religiocide’, pemberantasan golongan yang berbeda dengan berbagai cara demi mempertahankan, menjustifikasi, dan melegitimasi ‘superioritas-semu’ yang diyakini oleh golongan kami.

Jember, February, 12, 2011


[*] Pemikiran Penulis tentang keberagaman keyakinan dalam bingkai Tragedi Cikeusik

About iconoclasticme

sophisticated early 20s girl (?), with much shitty crisis that makes her so...different. and even though she might not get through it well i

2 responses to “‘RELIGIOCIDE’”

  1. arnissilvia says :

    Hi there,
    It’s always exciting to read the thinking of curiosity. A critical thinking, and such. Especially yours.
    Boleh menanggapi ya? (tentu saja ini dalam frame pemikiran personal, tanpa mengatasnamakan Islam merah, putih, abu-abu, atau bahkan hitam).
    Pertama, tentang rasa keunggulan akan golongan.
    Saya yakin, siapapun yang terlahir dalam manipulated situation (lingkungan yang disusun sedemikian rupa), saya yakin pada akhirnya akan mempertanyakan keabsahan keyakinan yang dipegang teguh oleh anchestor. Sayangnya saya tidak terlahir dalam lingkungan pesantren (entah sesuatu yang perlu saya syukuri atau saya iri dari mbak lel), but still, I feel that I might become a better person if I were born in such condition.
    Well, salahnya apa yang terjadi kebanyakan di sekitar kita adalah _agama, tata cara ibadah, dan sistem dogma- diturunkan secara turun temurun berdasarkan asas hormat, yakin, patuh pada generasi sebelumnya. Jadinya ya.. Kalau nggak seperti ala kami, berarti ya jelek atau salah. Terjadi kenapa? karena kritis masih dianggap sebagai pembangkangan. Andai orang tua, kakek nenek kita dulu mau juga untuk mengkaji ulang asal muasal, nahwu saraf, asbabun nuzul, shirah nabawiyah, Insya Allah mereka akan bisa menjelaskan kenapa ayat ini begini begitu, dan dalam konteks yang bagaimana seharusnya ayat ini dimaknai dan diamalkan.
    Padahal, andai saja mau merunut semuanya kembali lagi ke titik awal, ke ajaran termurni sebelum diinterpretasikan, akan ditemui begitu jernih agama ini seharusnya.
    bagaimana kita menemui ajaran termurni ini? Yang pasti bukan dari jurnal yang dibuat oleh sembarang intelek, akan tetapi oleh ulama (ahli ilmu yang valid, yang hafalannya luar biasa, dan yang pengetahuan tentang ilmu tafsir dan hadist bisa diandalkan).
    Syarah (terjemah) dari hadist pun beragam, tafsir Alqur’an, bisa ribuan versi. Maka itu, kita harus jeli memilihnya. Begitu mendapatkan versi yang valid-pun, tetap saja, dalam menafsirkannya kita tidak langsung bisa independen ( I have tried to interprete myself one certain ayah, and I got lost with my own enigma, and long time afterwards I listened an Ahlussunnah ceramah streaming, and I got it clear).
    Nabi nggak pernah menunggulkan golongan satu dengan yang lain kecuali yang satu adalah golongan yang bertaqwa dan yang lain adalah golongan kafir/jahil.
    In my memory, saat satu golongan merasa lebih baik dari golongan yang lain, saat itulah ia menjadi golongan yang paling buruk karena dalam hatinya telah ada ‘ujub’ (bangga diri) yang merupakan penyakit hati yang bisa menghilangkan pahala amal.

    generasi dulu dan generasi sekarang, tentu saja mempunyai tingkat iman yang berbeda. Orang dulu lebih “sami’na waata’na” pastinya dari sekarang. Namun siapa yang tahu bobot pahala kita? Di suatu ta’lim yang saya ikuti, sang ustadz berkata “generasi sekarang mengalami cobaan yang jauuuh lebih sulit dari generasi terdahulu. Namun tidak berarti semua generasi sekarang akan masuk neraka karena banyaknya godaan tersebut. Barang siapa yang tetap berpegang teguh pada Qur’an dan Hadist pada derasnya godaan (baik materi, pemikiran, ideologi, dan sebagainya), maka sesungguhnya ia adalah lebih mulia dari generasi terdahulu.”

    Kedua, tentang tragedi on the news.
    Beberapa hari saya mengikuti beberapa stasiiun TV, terutama TV*ne, yang terkenal mendatangkan narasumber yang ternama. Namun, yang saya dapati adalah, narasumber tersebut (yang mengatasnamakan atau diklaim oleh pihka TV sebagai perwakilan dari Islam), justru tidak dapat dijadikan hujjah (sandaran opini). Mengapa saya katakan demikian?
    1. Bukannya suudzon, tapi seringkali yang saya amati di v tsb adalah narasumber yang diundang memang kredibel, namun seringkali tidak shahih terhadap isu yang diperdebatkan.
    2. Saat narasumber menyampaikan sesuatu tidak secara holistik, makna ayatnya apa, sejarahnya bagaimana, implementasinya gimana (entah karena ketidaksengajaan beliau atau karena terbatasnya waktu yang diberikan oleh media), jadinya opini beliau sangat parsial, dan as a result, justru menimbulkan drawback bagi ayat atau hadist yang disampaikannya..
    bagaimana kita menyikapinya? mengkritisinya atau mencari juga apa maksud dibaliknya dengan sumber yang lebih valid?

    Hey, I’ve got a kewl book. I believe that you must like the discussion about takdir and many more. Some of your questions might got a little answer. (or it left you a bigger question? God knows, hehe.) but it’s worth to try.
    It’s called “Ensiklopedi Islam Al Kamil”.

    • iconoclasticme says :

      Thanks for commenting.
      Tentang terlahir dalam ‘manipulated situation’ (if i may use ur term)
      Saya sendiri sebenarnya menuliskan ‘golongan’ dalam esai di atas sebagai representasi muslim indonesia (regardless my position as a given-inheritor of a traditional-quasi-feudalistic-islamic cultural branch’, panjang amat yak, he3x). namun, ya sudahlah, interpretasi atas teks memang berada dalam lingkup otoritas reader which i may not control.
      terlahir dalam situasi seperti ini, ya saya memang tidak terlalu menikmatinya. Banyak tanya yang terbungkam begitu saja, ditambah adanya beban ‘peran sosial’ yang harus terus saya panggul sampai mati, peran sosial yang sering kali muncul lebih karena aroma feudalis dalam keluarga dibandingkan karena peran saya sebagai umat tuhan, if u know what i mean. Tapi, sekali lagi…ya sudahlah, fakta tak dapat dihapuskan, paling mentok ia akan jadi sejarah.
      Yang jelas, saya bersyukur atas sedikit kritisisme dan curiousity yang Tuhan berikan dalam benak saya (thought it also been a root for many problems i had), paling tidak, saya masih bisa memfilter, menimbang, lalu memutuskan, apakah saya akan conform saja atau go on my own way. Kebanyakan saudara saya memutuskan untuk conform karena mereka tidak punya ‘akar masalah’ itu, sebagian lagi malah tidak sadar dengan belenggu yang kami pakai sejak lahir, beberapa dari mereka malah menikmatinya🙂 ah…semua memang relatif.
      Tentang Ulama di TV..
      apapun alasannya, saya tidak setuju dengan cara mereka yang berbicara dengan membabi buta dan akhirnya malah membakar semangat pengorbanan bodoh di kalangan rakyat jelata. Entah disadari atau tidak, seharusnya mereka tahu resiko yang mengiringi ‘legitimasi ketuhanan’ yang berada di tangan mereka. Seperti halnya selebritis yang harus sadar dengan resiko ketenarannya. Tiap kewenangan, membawa kuasa, juga membawa harga. Apalah artinya peran mereka sebagai cermin kebijakan, jika mereka tidak cukup bijak untuk memaknai peran mereka sendiri.
      Tentang siapa yang berhak menjawab pertanyaan…
      Saya sendiri berpendapat bahwa jawaban atas seluruh tanya yang saya miliki, bisa saya dapatkan dari berbagai orang, atau bahkan berbagai hal. Saya berpandangan bahwa otoritas interpretasi keagamaan tidak hanya dimiliki oleh beberapa orang saja (entah anda sebut ulama, ustadz, kyai, lora, agus, dll). Agama adalah ranah yang sangat-sangat personal, sehingga interpretasi itupun akan muncul dari konteks privat. Saya menemukan beberapa jawaban bijak dari rekan sesama muslim, kristen, yahudi, agnostik, atau bahkan ateis.
      seperti halnya ketidak-yakinan saya terhadap paradigma saintifikasi pengetahuan (yang mengukur kredibilitas seseorang dari capaian ilmiahnya untuk menentukan nilai pernyataan ilmiah yang ia keluarkan), saya meyakini bahwa interpretasi relijius juga dapat dimiliki oleh semua orang. lagi-lagi….semuanya relatif…

      Lee

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: