Book of Eli & Kerinduan Pada ‘Sang Nabi’

Book of Eli[i] dan Kerinduan Pada ‘Sang Nabi’

 

Seorang pria paruh baya[ii], dengan wajah teduh yang menyiratkan kebijaksanaan, berjalan selama puluhan tahun untuk memenuhi misinya menyelamatkan kitab suci terakhir yang tersisa di muka bumi setelah dua peristiwa besar yang memusnahkan, tak hanya sebagian besar populasi manusia, melainkan juga keseimbangan ekosistem dan semua hasil peradaban yang telah berhasil dicapai manusia. Dengan bimbingan kata hatinya, pria tersebut menemukan kitab suci itu dibawah reruntuhan sebuah gedung dan membawanya ke arah barat[iii], ke sebuah tempat di mana kitab itu dapat disimpan dengan aman.

 

Di sisi lain, bumi dan kehidupan manusia saat itu berada pada titik nadir. Musnahnya seluruh produk peradaban manusia, termasuk pustaka, dalam peristiwa ledakan besar, dan banyaknya korban jiwa yang berjatuhan dalam perang global sesudahnya, membuat kehidupan manusia kembali lagi pada era pra-peradaban. Hampir seluruh orang – yang merupakan generasi yang lahir pasca-ledakan besar – tidak lagi bisa membaca dan menulis. Berakhirnya era baca-tulis berarti berakhirnya seluruh etika kemanusiaan, tak ada pengetahuan yang dapat diajarkan, tak ada kebijakan yang dapat diwariskan, tak ada kodifikasi hukum, dan tak ada media diskursus. Semua orang pada saat itu hidup secara subsisten, mencari apa yang dapat dimakan saat ini tanpa memiliki perencanaan untuk esok, dan sibuk menyelamatkan diri dari kekejaman kelompok-kelompok geng yang berkeliaran mencari mangsa dan selalu berebut wilayah kekuasaan.

 

Alkisah, di suatu wilayah hiduplah seorang pria yang berasal dari era pra-ledakan besar. Tokoh bernama Carnegie ini[iv], entah dengan cara apa, mampu menyelamatkan diri dari ledakan besar dan perang global lalu kembali mencoba mendirikan puing kekuasaannya di wilayah tersebut. Ialah satu-satunya orang yang memiliki kemampuan baca-tulis dan memiliki komoditas langka produk peradaban manusia pra-ledakan besar, seperti sabun, parfum, dan buku. Carnegie menguasai wilayah itu melalui monopolinya atas air, barang langka penunjang kehidupan yang di kala itu mempunyai nilai ekonomis layaknya berlian. Namun, Carnegie masih memiliki ambisi tertingginya untuk menguasai seluruh dunia, tidak hanya melalui penguasaannya terhadap ‘syarat kehidupan’ (i.e. air) namun lebih dari itu, melalui penguasaannya atas ‘alasan kehidupan’ (reason for living), yaitu otoritas dan eksistensi ketuhanan. Carnegie, yang mengetahui akan adanya satu Injil yang terselamatkan tanpa tahu di mana benda tersebut berada, ingin ‘terlahir kembali’ sebagai ‘Yesus’. Tentu saja, ambisi Carnegie dapat dikalahkan oleh sang pembawa misi yang berhasil mengantarkan kitab suci itu ke tempat tujuannya.

 

Film-film bertema apokaliptik telah sering kita jumpai dalam produk Hollywood. Sebut saja, Independence Day, The Day After Tomorrow, dan beberapa film bertemakan datangnya hari kiamat lainnya. Umumnya film-film itu terpusat pada cerita tentang rusaknya keseimbangan alam akibat perkembangan teknologi dan laju industrialisasi manusia yang tak lagi bisa dibendung. ‘Kiamat’ itu sendiri digambarkan sebagai bencana global yang dimulai dari negara-negara maju yang kemudian merembet menuju kawasan lainnya. Di akhir cerita, kesigapan para petugas dan pejabat pemerintahan Amerika Serikat selalu menjadi solusi yang dapat membendung bencana global tersebut.

Apa yang membuat Book of Eli berbeda adalah kondisi kerusakan pasca-‘kiamat’ yang berada pada ‘point of no return’ dan titik ‘solusi’ yang tidak lagi berada pada kesigapan petugas pemerintah, melainkan di tangan seorang penyelamat yang entah bagaimana telah ditakdirkan untuk menjalankan peran tersebut. Bijak, tenang, berhati mulia, berjiwa martir, cerdas, kekuatan fisik yang mengagumkan, memiliki pesona dan karismatik. Pendek kata, ia menggambarkan figur manusia pilihan, the chosen man.

 

Dari perspektif Teori Globalisasi[v] eksistensi peran ‘the chosen man’ sebagai solusi pasca-bencana apokaliptik dalam film Book of Eli menjadi menarik untuk dibahas. Secara garis besar, kehadiran ‘the chosen man’ dapat mengindikasikan pergeseran dari keyakinan milenialis klasik, yang ditengarai muncul di tataran global untuk pertama kalinya pada dekade 1970an[vi], menuju keyakinan post-milenialis yang salah satu ciri terbesarnya adalah kehadiran figur mesianik, yakni figur penyelamat yang dapat mengembalikan kehidupan manusia menuju konteks kehidupan ideal setelah sebelumnya mencapai titik klimaks kerusakan yang menyeluruh[vii].

 

Jika kita perbesar bingkai analisa ini dengan melibatkan konteks politik internasional, maka akan kita temui implikasi yang lebih menarik dari pergeseran perspektif milenial klasik, menuju dua cabang perspektif milenial modern, yaitu visi pre-milenial dan visi post-milenial. Dalam bingkai ini akan kita temui bahwa, pertama, dunia modern dan konteks politik internasional di dalamnya ternyata tidak pernah terlepas dari keyakinan apokaliptik; kedua, bahwasanya keyakinan apokaliptik itu sendiri ternyata bersifat dinamis; dan ketiga, bahwasanya pergeseran menuju perspektif post-milenialis ini juga akan membawa implikasi penting bagi politik internasional, mengingat posisi politik internasional sebagai elemen dari dunia modern dan mengingat pengaruh keyakinan apokaliptik yang tidak dapat kita pungkiri dari panggung kehidupan modern.

 

Namun, sebelum pembahasan ini beranjak lebih jauh terdapat penjelasan kecil tentang penggunaan film sebagai media analisa politik internasional yang harus dihadirkan sebagai bentuk penghargaan atas etika ilmiah.

 

Antara Ruang Sinema & Mitos Politik

 

Adalah Cynthia Weber, seorang Profesor International Studies di University of Lancaster yang memiliki inisiatif untuk menggunakan film sebagai media pembelajaran mahasiswanya dalam subjek Pengenalan Terhadap Teori-Teori Hubungan Internasional yang ia ajarkan[viii]. Mengapa film? Prof. Weber meyakini bahwa sejatinya seluruh teori dalam Ilmu Hubungan Internasional merupakan pisau analisis yang nihil substansi. Teori-teori itu hanyalah serangkaian asumsi para teorisi yang kemudian mengadopsi mitos-mitos tentang hubungan internasional yang bertebaran di luar sana. Mitos-mitos itulah yang nantinya akan kita telan mentah-mentah, dan dengan demikian membentuk substansi semu (apparent truth) dari teori itu sendiri. Di lain pihak, fakta yang terjadi di panggung internasional adalah fakta netral yang dapat dilihat dari berbagai sudut pandang.

 

Layaknya seorang ‘remaja labil’ yang selalu menelan mentah-mentah setiap tren yang sedang in, sebagian besar pembelajar awal Ilmu Hubungan Internasional tidak pernah mampu menolak pesona teori-teori besar Hubungan Internasional (seperti, Realisme, Liberalisme, dll) dan mengadopsinya hampir seketika, tanpa adanya upaya kritik terhadap teori-teori tersebut. Pada gilirannya, sebagian besar pembelajar terjebak dalam perdebatan antar-teori tanpa adanya pertumbuhan eksponensial dalam kualitas dan kuantitas teori-teori itu sendiri. Generasi pembelajar tersebut kemudian menjelma menjadi para ‘fanatik’ yang hanya menerima kebenaran relatif dalam perspektif teori yang mereka pilih tanpa mampu mengakomodasi perbedaan dalam kebenaran versi perspektif lainnya, apalagi melakukan otokritik terhadap perspektif mereka sendiri.

 

Kemunduran itulah yang membuat Weber berupaya mencari celah dalam ‘hegemoni kebenaran’ teori-teori besar Hubungan Internasional, sekaligus menciptakan metode pengajaran Teori-Teori Hubungan Internasional yang tidak menarik murid-muridnya ke arah fanatisme teoritis, melainkan ke arah yang berlawanan yaitu kritisisme teoritis.

 

Pada satu titik, Weber berpikir bahwa ruang dunia nyata tidak lagi dapat dipergunakan sebagai lahan aplikasi teori-teori yang ia ajarkan, karena pada akhirnya mereka – murid-murid Weber – hanya akan jatuh ke dalam perdebatan teoritis yang sama. Teori-teori tersebut harus diajarkan dalam wilayah aplikasi surealis yang benar-benar serupa dengan dunia nyata, sehingga ia dapat memantulkan refleksi-refleksi teoretis yang kemudian bisa dianalisa dengan lebih jernih oleh mahasiswanya. Film, adalah ruang aplikasi surealis yang dipilih Weber untuk menjadi media ajarnya.

 

Dari Bencana Ekologis, Kerajaan Tuhan di Bumi, Sampai Mesiah yang Dinanti

Kehadiran perspektif apokaliptik pertama di era modern dapat ditelusuri sampai pada karya fenomenal Rachel Carson yakni Silent Spring yang diterbitkan pada tahun 1962[ix]. Perspektif ini terbukti mendapatkan tanggapan yang cukup serius, bahkan di kalangan akademisi, sehingga sekelompok peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT) membentuk lingkar studi khusus yang memfokuskan penelitiannya terhadap dinamika keberlanjutan daya dukung bumi dan alam semesta dalam mengakomodir seluruh sendi kehidupan manusia – terutama elemen industrialisasi – yang sangat destruktif terhadap lingkungan sekitarnya. Kelompok studi yang diberi nama System Dynamic Groups tersebut kemudian menerbitkan laporan pertamanya yang berjudul Limits to Growth di tahun 1972[x].

 

Perkembangan perspektif apokaliptik pertama yang berupa kekhawatiran akan timbulnya bencana ekologis merupakan konsekuensi langsung dari wilayah persemaiannya, yaitu, Amerika Serikat. Silent Spring menandai dimulainya perlawanan environmentalis dengan industrialis (yakni, kalangan produsen pestisida dan herbisida). Skenario Carson tentang bencana global dari penggunaan pestisida dan herbisida secara terus-menerus menghentakkan kesadaran publik Amerika Serikat tentang efek negatif kontrol teknologi terhadap alam. Seketika itu publik terjaga dari buaian kenyamanan teknologi dan industri yang telah mempermudah hampir seluruh aspek kehidupan mereka selama ini. Bahwa terdapat harga mahal yang harus mereka bayar untuk semua itu, terdapat konsekuensi besar yang mengancam ambang batas survivabilitas seluruh sistem kehidupan dalam tiap detik kenyamanan yang mereka dapatkan, bahwa bagaimanapun juga, industrialisasi dan keseimbangan ekosistem merupakan dua hal yang tidak dapat direkonsiliasikan.

 

Monsanto, produsen besar pestisida, herbisida dan berbagai produk kimia lainnya melakukan serangan balik terhadap langkah revolusioner Carson. Tak kurang dari lima ribu lembar pamflet yang menjelaskan tentang efek positif pestisida dan herbisida, serta – yang menjelaskan tentang – kemunduran peradaban manusia kembali ke ‘zaman batu’, jika skenario Carson tentang gerakan ‘kembali ke alam’ dilaksanakan, disebarkan ke penjuru negri oleh Monsanto untuk menandai ‘perang abadi’ antara kelompok pecinta lingkungan dengan kelompok garda depan industri dan teknologi. Peristiwa ‘Three Mile Island’ di tahun 1979 semakin menegaskan jarak antara perkembangan teknologi dan lestarinya lingkungan, sekaligus mengkonfirmasi kekhawatiran publik internasional, bahwa ‘hari akhir’ itu lebih merupakan konsekuensi logis dari laju industrialisasi daripada buah dari ‘kekuatan Tuhan’. Ini berarti bahwa, segalanya mungkin bisa menjadi lebih baik jika saja pemahaman itu datang lebih awal. Dunia pun tenggelam dalam penyesalan klise yang penuh dengan frase tanya, ‘what if…’.

 

War On Terrorism yang dideklarasikan George W. Bush ke seluruh dunia pasca serangan 9/11 menyemai bibit milenialisme model baru. Pemerintahan Bush dengan lihai meramu trauma, ketakutan, dan sakit hati sebagian besar warga dunia menjadi satu ajakan perang melawan segala sesuatu yang ‘Arab’ dan yang ‘Islam’[xi]. Tiba-tiba saja bayangan peristiwa apokaliptik dalam benak setiap orang berubah, tidak lagi berada dalam bingkai bencana ekologis, melainkan berada di tangan sekelompok psikopat bersurban dan berjanggut yang gemar meneriakkan nama Tuhan sembari melakukan pembantaian.

 

Motivasi Bush untuk menciptakan jejaring kebijakan kontra-terorisme yang bernada anti-Islam didukung oleh jajaran pendeta Evangelis dari kelompok Kristen Ekstrem-Kanan (Christian Right)[xii] yang terus mengobarkan pesan-pesan milenialis dan mengemas kembali isyu terorisme dalam visi ‘crusaders’ abad 21. Semangat inilah yang kemudian diterjemahkan oleh Bush ke dalam gerakan perlawanan kontra-terorisme global yang terkesan tidak memiliki mekanisme operasi khusus selain serangan yang membabi-buta terhadap negara-negara yang diduga menjadi ‘safe-heaven’ para teroris dan pemberlakuan Patriot Act[xiii] di dalam negri yang memberangus kemerdekaan sipil warga negara AS sendiri, terutama mereka yang Muslim atau – yang berasal dari – kalangan imigran.

 

Serangan-serangan teroris selanjutnya di Eropa dan beberapa Negara di benua-benua lainnya mempertajam klaim Huntington[xiv]. Arah kebijakan kontra-terorisme global yang dipimpin AS melegitimasi klaim benturan peradaban tersebut. Telah ditetapkan, sumber malapetaka itu adalah Islam – dan dengan demikian jika manusia masih ingin hidup seribu tahun lagi, Islam harus diakhiri ‘riwayatnya’, dan penyelamat kehidupan adalah AS – satu-satunya negara yang mampu menanggung peran sebagai pemimpin perang suci global melawan Islam. AS tak ubahnya fragmen kerajaan tuhan di bumi yang membawa terang peradaban bagi umat manusia yang sedang berada di bibir jurang barbarisme kaum fundamentalis Islam.

Visi apokaliptik dan semangat milenialis terbukti tak pernah benar-benar padam dalam perjalanannya menyertai gulir peradaban manusia. Gambaran bencana semesta, peran mesianik, dan kanopi perlindungan Tuhan yang terbatas (dan dengan demikian perlu diperebutkan) menjadi warna tetap kehidupan manusia baik dengan latar belakang peradaban yang relijius, sekuler, saintifik, supranatural, nasionalis, feudal, tradisional, modern, bahkan postmodern. Nilai-nilai milenialis hanya mengalami perubahan kulit tanpa mengalami perubahan substantif yang berarti.

 

Bencana yang tak terhindarkan dan konteks perlindungan yang terbatas, adalah inti perspektif milenialis yang terus bergaung dalam rupa-rupa intrik politik. Legitimasi ketuhanan dengan janji-janji penyelamatan dan penyucian dosa masih menjadi rayuan ampuh untuk mendatangkan pengorbanan besar tanpa pamrih dari individu-individu yang terjebak dalam absurditas konsep identitas. Empati kemanusiaan akhirnya harus mengalah kalah dalam persaingan memperebutkan ‘perlindungan tuhan’, yang telah bertransformasi menjadi komoditas ekonomi di tangan ‘calo-calo’ akhirat. Bukan hal yang tak mungkin, jika nantinya tren perspektif milenialis terpusat pada figur/figur-figur mesianik yang menawarkan ‘perlindungan ilahiah’ dengan bayaran fanatisme buta. Sesosok figur Carnegie dengan Injil di tangan yang memuaskan hasrat kuasanya dengan menjual ayat-ayat tuhan.

 

Jember, akhir Februari, 2011

 

Endnotes

 


[i] Sony Pictures International, 2010, Directed by: Albert Hughes and Allen Hughes

[ii] Diperankan oleh Denzel Washington

[iii] Menariknya, daerah di ‘arah barat’ ini adalah sebuah gedung re-koleksi pustaka dan artefak yang tertinggal dari peristiwa ‘ledakan besar’ dan ‘perang global’ yang terletak di kawasan pantai barat (West Coast) Amerika Serikat

[iv] Diperankan oleh Gary Oldman

[v] Lihat, Model Fase Globalisasi, Roland Robertson, Globalization: Social Theory and Global Culture, Sage, London, 1992

[vi] Lihat: Simon Pearson, A Brief History of The End of The World: From Revelation to Ecodisaster, Robinson, London, 2006

[vii] Lihat: Roland Robertson, Global Millenialism: A Postmortem on Secularization, dalam Peter Beyer dan Lori Beaman (eds.), Religion, Globalization and Culture, Brill, Leiden, 2007

[viii] Lihat: Cynthia Weber, International Relations Theory: A Critical Introduction, Second Edition, Routledge, Oxon, 2005

[ix] Houghton Mifflin, 1962

[x] Lihat: J. Randers dan D. Meadows, Limits of Growth: The 30-year Update, Chelsea Green, White River Junction, 2004

[xi] Lihat: The Great Divide: How Westerners and Muslims View Each Other, Pew Global Attitudes Project, 22 Juni 2006

[xii] Merujuk pada sejumlah gerakan politik dan keagamaan di Amerika Serikat yang memiliki pandangan konservatif dan berada pada kelompok sayap-kanan. Beberapa nama terkemuka diantaranya, Rod Parsley, John Hagee, Jerry Falwell, dan Pat Robertson.

[xiii] USA PATRIOT ACT (Uniting and Strengthening America by Providing Appropriate Tools Required to Intercept and Obstruct Terrorism Act)

[xiv] ‘Clash of Civilization’, klaim yang menyatakan bahwa pada abad 21 pertentangan global tidak lagi didominasi oleh pertentangan antar-negara, melainkan – diramaikan oleh – ‘benturan antar-peradaban’ yang diantaranya, membelah konteks sosio-politik global menjadi kutub ‘Barat-Sekuler’ dan ‘Fundamentalis-Islam’. Lihat: Samuel P. Huntington (1993), The Clash of Civilizations?, Foreign Affairs, 72/Summer, hh. 22-49

About iconoclasticme

sophisticated early 20s girl (?), with much shitty crisis that makes her so...different. and even though she might not get through it well i

3 responses to “Book of Eli & Kerinduan Pada ‘Sang Nabi’”

  1. Yuli Nava says :

    Nice writing, Laily. Aku suka membacanya. Menurutku, kerinduan pada sosok messiah adalah sesuatu yang alamiah terjadi di saat situasi sudah genting dan orang2 nyaris putus asa dengan sistem yang tidak berjalan sebagaimana diharapkan. Massa yang histeria dengan sosok Obama dulu adalah cerminan kerinduan pada sosok messiah yang diharapkan mampu mengatasi carut-marut ekonomi AS yang berdarah-darah ditambah dengan citra AS yang babak belur akibat kecerobohan pemerintah Bush dalam merespon laporan palsu ttg keberadaan senjata pemusnah massal di Irak. Tapi Obama sebagai sosok “messiah” kini sudah pudar, dan kini orang fokus menagih janjinya untuk membuat perubahan nyata. Slogan “yes we can” sudah tidak ampuh lagi. Jadi dalam politik di sini, “messiah” bukan sosok yang selalu dibenarkan dan diamini. Obama bukan orang suci dalam sebuah masyarakat yang sudah matang dan melek politik.
    Beda halnya dengan sosok “messiah” dalam sebuah masyarakat yang tertutup dan otoriter, termasuk dalam masyarakat yang kental dengan ideologi religi. “Messiah” bisa menjelma menjadi the next dictator, yang menuntut kepatuhan mutlak dari rakyat kepadanya, dan membungkam suara minoritas atas nama kepentingan mayoritas.

    • iconoclasticme says :

      thank you for visiting mbak🙂
      yeah, saya menulis post ini dalam konteks saya, di mana sosok ‘mesiah’ itu adalah orang suci dengan legitimasi ilahiah. Entahlah kalau saya nanti sempat mengalami konteks kehidupan di eropa atau AS🙂 mungkin pemaknaan saya juga akan berbeda.
      anyway, menanggapi komentar mbak, ya, tentu saja, sosok mesiah adalah candu bagi manusia yang kelimpungan mencari perlindungan. Hanya saja, candu itu tentunya akan bersifat temporer dalam komunitas yang sudah evolved, seperti di States. Karena sebenarnya motivasi mereka dalam mempercayai sang ‘mesiah’ sendiri adalah motivasi pragmatis yang membutuhkan reward konkrit. jika sang mesiah terbukti tidak dapat menghentikan bencana, so, they’ll leave.
      khas masyarakat modern mbak🙂 pragmatisme (disini saya mengatakannya dalam frame value-free. saya pribadi tidak berpandangan bahwa pragmatisme adalah sesuatu yang negatif)
      , institusionalisasi, komodifikasi, sekat-sekat hak pribadi (ergo, individualisme), penghambaan pada rasionalitas dan saintifikasi, semuanya ‘makhluk-makhluk’ yang lahir dari rahim modernitas.
      makhluk-makhluk itu pula yang Insyaallah akan saya tulis dalam post berikutnya🙂

  2. ­­ (@pramcoker) says :

    memang benar penyelamat itu sang Messsiah .

    penyelamat Islam adalah AL Masih seorang nabi , org islam mengenalnya ISA alaih salam putra maryam Nabi terakhir di zaman akhir , yg membenarkan agama Allah yg benar dan lurus.

    penyelamat Kristen adalah jesus (juru selamat) , begitu Nashrani menyebutnya.

    jika yahudi menyebut nya Messiah sang penolong untuk mengembalikan kekuasaan.

    ketika badai perang besar itu akan melibatkan Imam Mahdi sbg amirul mukmin / pemimpin Islam / satria piningit yg melawan Yahudi dan Dajjal , ketika Dajjal menolong yahudi , Islam akan kalah dan mengalami kesulitan , kesulitan itu akan di ringankan oleh Allah , yaitu menurunkan Nabi ISA as untuk membantu memerangi Dajjal , ketika dajjal melihat messiah asli ia akan lemah dan mudah di bunuh , kematian Dajjal akan melemahkan yahudi , yahudi dlm keadaan terdesak krna mereka semua akan di habisi , hingga sehabis2nya tak akan disisakan. maka ketika itu umat Nashrani akan tertipu mana Isa As mana Jesus mana Dajjal ? mereka akan sadar ketika dajjal dan yahudi musnah maka Allah SWT akan mengeluarkan Hambanya yg bengis yaitu ya’juj ma’juj yg hobinya membunuh . hingga ketika itu Imam Mahdi As dan Nabi ISA as akan terdesak hingga ke bukit Thur , maka terkepunglah keduanya bersama umat lainnya , hingga umat muslim menyalakan api 7 tahun , dalam kepungan itu Nabi Isa As memohon kpd Allah untuk memusnahkan kaum perusak ya’juj ma’juj (gog magog) ini dengan mengirim penyakit kulit seperti cacing yg memakan tanah , hingga akhirnya mereka tewas dan mayat2 itu mengeluarkan bau yg menyengat maka hujan pun turun .

    lalu dimanakah umat kristen , umat kristen kala itu akan sadar dan masuk islam , ketika imam mahdi mempin ketika itu Umat muslim akan jaya , namun dlm kejayaannya tdk begitu lama karena akan banyak dari org2 mukmin itu wafat , saat itu ada angin yg sejuk mengangkat semua org Islam . termasuk Wafat Nabi Isa as , wali2 Allah (pejuang) . ketika itu Umat Nashrani akan berkhianat kpd Imam mahdi hingga akhirnya Imam Mahdi sampai wafat.
    maka tersisalah org2 munafik dan kafir (munafik dan kafir masih adakah !! tentu masih , siapa mereka !! merekalah para penyembah berhala patung2) . tahu sendirilah , agama non samawi (agam bukan dari langit). dan yg munafik itu adalah mereka yg berkhianat kpd Imam Mahdi .

    [islam] ISA Alahi Salam adalah seorang Nabi yg mengemban syari’ah Islam yaitu Tauhid , Allah itu Esa tiada sekutu baginya.

    [Nashrani] Jesus adalah seorang Tuhan yg menjelma menjadi manusia .

    [yahudi] Dajjal adalah seorang yang mengaku sbg Tuhan ,

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: