MATERIALIZING ME…

“If the modern ‘problem of identity’ is how to construct an identity and keep it stable, then the postmodern ‘problem of identity’ is primarily how to avoid fixation and keep the options open (Baumann, 1994: 18).”

dalam,

Jane Round, Altogether Different: From Black to Blonde and Back Again,

Feminist Review, 81, Palgrave Macmillan, 2005.

__________________________

 

Generasi saya adalah ‘generasi ninja’ kata Gordon Gekko (antagonis dalam film Wall Street: Money Never Sleeps (2010)), kami hidup dalam dunia kejam yang penuh persaingan, minus kasih saying, dan naasnya kami hidup di dalamnya dengan kondisi ‘telanjang’, tanpa bekal, tanpa modal, tanpa perlindungan. Gekko memang berbicara dalam konteks ekonomi dan persaingan kerja, namun ucapannya itu dapat dijustifikasi hampir dalam seluruh dimensi kehidupan, termasuk dimensi sosio-politik dan keagamaan. Paling tidak, saya telah menyaksikan keterpurukan demi keterpurukan yang mendatangi beberapa teman, mereka yang tak mampu menahan lelah, memutuskan untuk berhenti berlari, dan akhirnya benar-benar terjungkal dari arena. Dan untuk satu contoh global, masih segar dalam ingatan tentang gambaran seorang pemuda Tunisia yang aksi bunuh diri-nya menjadi pemantik revolusi hampir di seluruh Timur-Tengah dan Afrika Utara. Muda, berpendidikan, namun teralienasi secara struktural dari akses terhadap lapangan kerja yang baik – dan dengan tanggung jawab sebesar Everest yang ia pikul sendiri sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga – membuatnya memilih jalan bakar diri sebagai ekspresi kekecewaan pada pemerintah yang sudah demikian memuncak.

Persaingan, akumulasi materil, capaian target, penguasaan keterampilan baru, bangunan karir, level pendidikan, status dan eksistensi diri dalam ruang sosial, menjadi bukti bahwa kami benar-benar hidup dalam sebuah kotak sempit bernama dunia, di mana masing-masing kami harus memastikan sejengkal lahan hidup tersisa, bagi kami, keluarga, orang terkasih, dan – mungkin – keturunan kami nantinya.

Dunia kami bergerak cepat, budaya kami mengalir bagaikan air, denyut kehidupan kami berdetak seiring ketikan tuts keyboard dan desing lembut mesin penghitung lembaran uang. Entah bagaimana kami bisa sampai pada titik ini, yang jelas bayi-bayi yang lahir esok hari harus mulai mencari bakat apa yang tertanam dalam diri mereka, bahkan sebelum mereka mampu untuk berjalan di atas kedua kakinya.

Budaya yang cair mengharuskan kami untuk tunduk pada satu aturan main, yaitu konformitas. Kemampuan untuk beradaptasi dan mengambil peluang dari berbagai macam kondisi adalah keterampilan lain yang harus kami miliki. Kami harus tetap ‘baik-baik saja’, tak perduli seburuk apapun situasi yang sedang kami hadapi. Tak ada waktu untuk menjadi cengeng karena roda waktu selalu berhasil mencuri start untuk berada beberapa langkah di depan kami.

Di waktu yang sama, kami harus menjadi pribadi yang unik, one of a kind, stand out of the crowd, karena yang homogen tak akan lagi laku untuk ‘dijual’. Prinsipnya adalah, semua sendi kehidupan harus tunduk pada poros ekonomi pasar; untuk hidup (bahkan setelah kami mati) kami butuh uang; untuk mendapatkan uang kami harus bekerja, bukan hanya pekerjaan yang menghasilkan uang, tetapi pekerjaan yang menghasilkan ‘banyak’ uang sehingga kami bisa ‘membeli’ waktu untuk memenuhi kebutuhan primer lainnya – suatu waktu di masa lampau kebutuhan ini menduduki tangga kebutuhan tersier dan langsung merosot pada titik kebutuhan primer ketika seseorang dari kami yang memanggil dirinya Lady Gaga mengancam ruang ekspresi penduduk dunia dengan menghapuskan konsep ‘aneh’ dari terminologi kehidupan sehari-hari – yakni, aktualisasi diri; dan pemilik modal besar hanya akan mempekerjakan manusia-manusia unik dengan multi-talenta karena pada hakikatnya apa yang mereka inginkan adalah ‘komoditas’ (a.k.a sesuatu yang laku untuk dijual) dan ‘efisiensi’ (jika ada kemungkinan untuk menemukan seseorang yang mampu menjadi pemasar, analis, dan konseptor sekaligus mengapa harus mempekerjakan tiga orang untuk tiga fungsi yang berbeda itu). Maka kami menjadi komoditas unik yang tunduk pada satu hukum universal tentang komersialisme, komodifikasi, dan konsumerisme yang bermuara pada kapitalisme.

Di dalam kehidupan yang bertema ‘time is money’ ini kata kunci yang harus kami pegang adalah ‘efisiensi’. Berurat-akar dari prinsip kapitalisme, manusia yang hidup dalam konteks ini mengukur kemanfaatan berbagai aktifitas kehidupan berdasarkan nilai materil yang bisa dihasilkan darinya – berapa banyak kerja sama bisnis yang dapat kami hasilkan dari mengikuti reuni teman lama; seberapa efektif negosiasi informal yang dapat kami lakukan sembari menghadiri acara sakral bernama pernikahan; seberapa banyak peluang bisnis yang dapat kami rengkuh dari sebuah perjalanan wisata; bahkan, adakah kemungkinan untuk menyulap pengalaman spiritual kami menjadi ‘sinetron’? atau ‘reality show’? – semakin besar keuntungan materi yang dapat kami gali dari aktifitas tertentu, maka semakin ber’makna’ aktifitas itu[i] – dengan definisi ‘makna’ sebagai timbunan konkrit dari kejayaan materil, bukan sebagai capaian substantif moral, spiritual, atau kemanusiaan.

Sisi lain dalam kehidupan kami yang juga mengalami perubahan adalah ‘pengkaplingan dimensi waktu dan ruang’ yang kami miliki. Hugo van der Poel menyebut fenomena ini sebagai ‘modularization of the structure of life’[ii] – dan mungkin kata-kata ‘kapling’ yang saya gunakan tidak nyaman dibaca apabila disandingkan dengan ‘ruang’, seakan membentuk penguatan yang tidak perlu menjadi ‘ruang-ruang’ – yaitu terbentuknya sekat-sekat kehidupan oleh tuntutan sistem kehidupan modern.

Secara garis besar terdapat dua kapling utama yang ditempati oleh sebagian besar manusia – kecuali anak-anak, yang belum cukup terhimpit untuk menyekat kehidupan mereka – yakni kapling kehidupan publik dan kapling personal. Di dalam dua kapling utama itu seseorang masih dapat menyekat ruang untuk menjadi beberapa bilik kecil, misalnya, dalam kapling publik saya dapat membangun ‘bilik saya sebagai karyawan’, ‘bilik saya sebagai anggota klub buku’, dan ‘bilik saya sebagai anak’.

Berbeda dari beberapa dekade yang lalu ketika manusia masih bisa mencampur-adukkan kehidupan publik dan personal mereka – atau bahkan mem’personal’kan peran publiknya – , kami membangun tembok partisi yang tebal, tinggi dan kokoh di antara ruang kehidupan publik dan personal kami. Ketika pagi menjelang, kami ber’ganti kostum’ siap untuk memainkan ribuan peran profesional sesuai tuntutan karir masing-masing demi memenuhi keinginan ‘konsumen’. Warna-warni setelan yang kami pakai tak dapat menyembunyikan wujud asli kami sebagai komoditi korporasi yang mengejar satu tujuan, profit.

Hal inilah yang membuat kami haus akan ‘kepribadian’ (baca: sesuatu yang mencerminkan kedirian manusia, ruang yang kami miliki seutuhnya). Mati-matian kami mempertahankan sepersekian waktu dari 7×24 jam untuk menjadi diri kami sendiri, kami menyambut datangnya hari sabtu dan minggu dengan keceriaan anak-anak yang menemukan hadiah dari Santa dalam kaus kaki mereka di malam Natal. Bepergian jauh ke luar kota, berpetualang merambah hutan, laut dan gunung, atau bercengkrama bersama teman dan keluarga, kami semua berlomba mereguk ‘sensasi kemanusiaan’ sebanyak-banyaknya sebelum hari senin datang dan merubah kami kembali menjadi ‘komoditi’.

Dari lubuk hati yang terdalam, tak ada satupun dari kami yang ingin terjebak di dalam partisi sempit ala sarang lebah seperti ini. Jika mungkin, kami ingin menyuap hari senin supaya memperlambat kedatangannya. Kami memiliki berbagai phobia mengenai intrusi peran publik kami kepada ruang personal kami. Kami takut jika sewaktu-waktu ‘urusan kantor’, ‘bisnis’, ‘negosiasi’, fragmen apapun dari ruang publik menjarah ruang personal kami sehingga benar-benar tak ada lagi yang tersisa.

Setiap dari kami berusaha untuk memberikan label personal kami sekuat mungkin, layaknya hewan liar di hutan rimba yang menandai wilayah kekuasaannya dengan air kencing mereka. Bedanya, musuh kami tidak berasal dari rekan sendiri melainkan sebuah konsepsi ruang sempit yang membatasi kemungkinan cara hidup yang dapat kami jalankan dan dengan demikian mendikte cara apa yang harus kami lakukan untuk bertahan. Musuh kami berada di dalam alam pikir kami sendiri, kekuasaannya bersifat sistemik layaknya kanker. Kami sadar bahwa kami sedang dijajah tanpa sanggup memberi perlawanan, karena hal yang dipertaruhkan adalah ‘keberlanjutan hidup’ yang notabene adalah insting – bukan sekedar kebutuhan. Maka inilah kami, generasi yang membangun peradaban gilang-gemilang, mengkonfirmasi superioritas spesies manusia di atas makhluk hidup lainnya di muka bumi, yang ironisnya di sisi lain harus berjibaku dengan diri kami sendiri untuk sesuatu yang sangat primal, yakni ‘insting’. Bukankah ini adalah soliloquy yang sangat menyedihkan?

 

Jember, April, 11th, 2011

 


[i] Marx, Karl, Outline of A Critique of Political Economy, dalam Karl Marx and Friedrich Engels Collected Works, Vol. 28, New York: International Publishers, 1986.

[ii] Van der Poel, Hugo, Leisure and the Modularisation of Daily Life, dalam jurnal Time and Society, 6(2-3), hh.171-194, 1997.

About iconoclasticme

sophisticated early 20s girl (?), with much shitty crisis that makes her so...different. and even though she might not get through it well i

2 responses to “MATERIALIZING ME…”

  1. arnissilvia says :

    Sepertinya tulisan ini sangat tepat dilaunching pada May Day hari ini. 🙂 Labors of the worlds, Unite!

    Selamat menjadi buruh.. A same congrats to me as well..

    Btw, katanya pak ustadz, sertakan Allah dalam niat ibadahmu, sisipkan dzikir di sela-sela kesibukanmu, sempatkan dhuha dalam harimu, dan jaga sholatmu di antara harimu, dengan begitulah kau tak kan kehilangan DIRImu..

    • iconoclasticme says :

      kalaulah setiap sholat selalu berarti komunikasi dengan Tuhan, pastilah pak ustadz tak jauh dari kebenaran😀 bagaimana bila sholatpun telah menjadi komoditas? haha! thanks for your suggestions and warnings nis. Emang agak susah menjinakkan ‘skeptisisme’ -ku . Anyway, always happy to have you here😀 Merci

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: