Tragedi Sampang dan ‘Relijiusitas Warisan’

Ketika saya menuliskan hasil pengamatan dan pengalaman saya tentang ‘otoritas politik lokal’ yang dirangkum sebagian – orang yang merasa dirinya pantas untuk disebut sebagai – tokoh agama di Jawa Timur melalui representasi diri dan keluarga dekat mereka sebagai ‘keluarga Keraton’ yang berperan sebagai penentu baik-buruknya nilai keberagamaan, bahkan terkadang (baik-buruknya) moral, masyarakat sekitar tempat tinggalnya, saya tidak menyangka (apalagi berharap) bahwa hasil dari persekutuan busuk antara penyalahgunaan ajaran Ilahiah dan rakusnya ambisi manusia akan kekuasaan tersebut akan benar-benar terwujud seperti ini. Begitu gamblang dan begitu ‘dekat’ dengan saya.

Tragedi Sampang, menjadi contoh nyata bahwa penyalahgunaan ‘otoritas Ilahiah’ oleh sebagian – orang yang merasa dirinya pantas untuk disebut sebagai – tokoh agama dapat membawa kerusakan barbar yang sama sekali jauh dari nilai kemanusiaan, dan jelas-jelas mencoreng eksistensi ketuhanan. Betapa tidak, pencabutan hak asasi manusia atas pendidikan, atas tempat tinggal dan rasa aman, atas penghidupan yang layak, dan atas hak untuk menjalankan peribadatan serta mengekspresikan rasa cinta kepada Tuhan, yang kesemuanya muncul sebagai konsekuensi dari pembakaran komplek pesantren tersebut tentu saja merupakan bentuk pelecehan terhadap eksistensi Tuhan itu sendiri. Bahkan Richard Dawkins dengan segala penghinaannya terhadap para pemeluk agama – yang tentu saja tidak serta-merta dapat dibenarkan juga – terlihat lebih manusiawi daripada ‘tokoh agama’ haus darah tersebut.

Bagi saya, semua klaim yang dilakukan pribadi-pribadi tertentu terhadap status ‘tokoh agama’ yang selama ini saya temui tidak memiliki secuilpun basis logika dan landasan kemanusiaan, apalagi ketuhanan. Apa yang bisa anda katakan tentang integritas kemanusiaan dan nilai relijiusitas seseorang dari garis keturunannya? Apa yang dapat anda jaminkan sebagai garansi atas posisi seseorang sebagai ‘pewaris para nabi’ ketika itu semua hanya ditarik dari garis silsilahnya yang memang dengan satu atau beberapa cara bersambung dengan Nabi Muhammad S.A.W? Bukti konkrit apa yang anda dapati tentang peran seorang Muslim sebagai ‘rahmatan lil-‘alamin’ hanya dari kepemilikan orang tua ataupun keluarganya terhadap sebuah pesantren dengan ratusan atau bahkan ribuan santri? Tak perlu menjadi filsuf untuk menyimpulkan bahwa jawaban dari seluruh pertanyaan tersebut adalah, nihil. Tidak ada garansi atas nilai relijiusitas dan kemanusiaan seseorang yang bisa kita tarik hanya berdasarkan garis keturunan. Karena kualitas kesalihan (piety) itu harus DIPEROLEH bukan DIWARISKAN.

Kenyataan bahwa sebagian besar masyarakat masih terlena dengan ‘relijiusitas warisan’ yang digunakan beberapa ‘tokoh agama’ untuk meraup kekuasaan (baca: besaran umat yang dapat ia raih dan nyatakan sebagai ‘pengikutnya’) merupakan faktor penting lain yang menyuburkan ‘fasisme keagamaan’ tersebut. Apa yang saya maksud dengan ‘fasisme keagamaan’ adalah perilaku untuk menggunakan kontrol otoritarian dan diktatorial terhadap masyarakat dengan kekuasaan yang berbasis dari klaim-klaim keagamaan. Dan Tragedi Sampang lagi-lagi adalah bentuk terbaru dari kebodohan massal ini, ketika sekelompok orang dengan mudahnya melukai manusia lainnya atas nama penjernihan agama Tuhan, yang pada akhirnya diketahui sebagai hasil dari fatwa konyol ‘sang tokoh agama’ yang sedang berebut kekuasaan dengan ‘tokoh agama’ lainnya.

Teladan Bening Dari Muhammad

Entah sampai kapan kebodohan tersebut akan berlanjut, namun satu hal yang pasti, Tuhan tidak pernah menginginkan umat-Nya untuk terjerumus ke dalam tingkah laku barbar yang lahir dari apatisme relijius. Ratusan ayat mewajibkan manusia untuk berpikir, belajar, menggunakan akalnya, dan mengembangkan kritisisme. Tuhan tidak pernah dengan sendiri-Nya mendogmakan sesuatu. Ia menghendaki umat-Nya untuk terus mencari dan membaca tanda-tandaNya. Ia adalah Dzat yang sangat mempercayai umatNya, bahwa kita mampu berproses, dan menjadi makhluk yang lebih beradab. Ia hanya menetapkan satu target besar bagi kita semua, untuk menjadi representasi kasih-sayangNya bagi seluruh penghuni alam semesta, untuk menjadi ‘rahmatan lil-‘alamin’.

Pesan yang sama ditampakkan Tuhan melalui pilihanNya atas pribadi-pribadi yang menjadi nabi dan rasul. Sebut saja Muhammad S.A.W, kehadirannya ke dunia sebagai seorang yatim-piatu yang tumbuh di tengah kebiadaban Quraisy, adalah pelajaran pertama yang harus dapat kita pahami sebagai pertanda bahwa Tuhan menciptakan kualitas kasih-sayang itu di dalam diri setiap manusia. Bahwa kemampuan untuk menjadi kontributor positif bagi manusia lainnya sama sekali tidak berhubungan dengan konteks di mana ia tumbuh. Muhammad tumbuh tanpa kasih sayang orang tua dan berhadapan langsung dengan kebiadaban nilai kehidupan Quraisy setiap harinya, akan tetapi itu semua tidak mengurangi kualitas nilai kemanusiaannya. Bahkan sebelum periode kenabiannya, Muhammad muda telah menjadi pribadi yang penyayang, tak hanya kepada sesama manusia melainkan juga kepada seluruh makhluk Tuhan lainnya.

Contoh lainnya ditunjukkan Muhammad melalui kepemimpinannya terhadap negara-kota Madinah. Penerimaan dan pengakuan – bukan sekedar penghormatan – terhadap eksistensi kepercayaan lainnya adalah salah satu dari hal-hal awal yang ia kelola dan tetapkan. Muhammad sangat mencintai keberagaman, dan karena ia adalah pribadi terpilih yang ditetapkan Tuhan sebagai salah satu penyeru nilai-nilaiNya, maka tak berlebihan jika kita menyimpulkan bahwa Tuhan juga mencintai perbedaan, dan Tuhan memang mencintai perbedaan.

Ketika otoritas ketuhanan digunakan sebagai landasan untuk menyeru manusia lainnya menuju serangkaian dogma yang kita anggap benar (baca: agama, atau aliran-aliran tertentu dalam agama), maka teladan selanjutnya yang perlu kita ambil dari Muhammad adalah bahwasanya ia berdakwah dengan menggunakan dirinya sendiri sebagai inkubator realisasi nyata nilai-nilai kemanusiaan. Muhammad bertindak sebagai Uswatun Hasanah (role model), contoh hidup dari nilai-nilai kebaikan dan kesalihan. Sehingga orang-orang yang memutuskan untuk menjadi pengikutnya sebenarnya adalah orang-orang yang ‘tercerahkan’ dengan ide-ide perdamaian, kemanusiaan, kesalihan, dan kasih-sayang, bukan manusia-manusia berpikiran sempit yang mencari metode instan untuk menjadi relijius dan akhirnya terjebak pada fanatisme buta yang malah menjauhkan mereka dari nilai inti keagamaan itu sendiri, yaitu nilai kemanusiaan dan kasih-sayang.

Adalah benar bahwasanya agama tidak akan pernah bisa lepas dari sesuatu yang transcendental, sehingga sebagian besar dari kita mungkin membutuhkan penyuluh untuk dapat memahami eksistensi ketuhanan. Tapi ini bukan berarti bahwa pemahaman akan Tuhan dan segala sesuatu yang transenden yang berkaitan denganNya hanya bisa dimiliki oleh beberapa orang saja. Tidak pula ini berarti bahwa pemahaman tersebut hanya dapat diakses oleh keturunan keluarga-keluarga tertentu ataupun individu-individu yang dapat membuktikan garis keturunannya bertemu dengan Sang Pencerah, Nabi Muhammad S.A.W.

Tuhan mencintai semua makhlukNya, Ia berkenan membasuh seluruh makhluk yang telah Ia tiupkan ruh kepadanya. Ia adalah Dzat yang tak berbatas. Dengan demikian, masing-masing dari kita pasti akan sampai pada pemahaman tentangNya, dengan terus berupaya menjernihkan sisi keagamaan kita, dengan terus menyebarkan pesan tentang cinta-kasihNya. Muhammad bisa jadi terlalu sempurna bagi kita, akan tetapi kita juga memiliki dimensi kasih-sayang yang inheren seperti Muhammad. Jika saja kita mau sedikit bersusah-payah untuk menyelamatkan diri kita sendiri dari fanatisme buta, dan mengasah dimensi kesalihan dalam diri, mungkin Tuhan akan berbangga dengan ciptaanNya.

About iconoclasticme

sophisticated early 20s girl (?), with much shitty crisis that makes her so...different. and even though she might not get through it well i

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: