ANTARA ETTORE, SHOSHANA, DAN SAYA: A READER’S NOTE

“Jin kritik telah lepas dari botolnya, dan sekarang tanpa bisa dihentikan dia meluncur ke sana ke mari secara acak dalam keisengannya”

(Herbert W. Simons, dan Michael Billig ed., After Postmodernism: Reconstructing Ideology Critique, 1994)

Saya baru membeli sebuah novel terjemahan berjudul ‘Terbunuhnya Seorang Profesor Posmo’, karya Arthur Asa Berger. Novel yang lumayan menarik, dan saya lahap habis dalam semalam. Melalui kisah Ettore Gnocchi (Profesor Posmodernisme di UC-Berkeley), Berger mengajak pembacanya untuk mengenal Posmodernisme. Semacam Dunia Sophie-nya Joostein Gaarder.

Berkaitan dengan kegilaan saya terhadap Posmodernisme akhir-akhir ini, maka saya pun membeli buku tersebut dengan prediksi penuh keyakinan bahwa saya hanya akan semakin jatuh cinta dengan hasil pemikiran Lyotard dan kawan-kawan tersebut. Saya bahkan berharap dapat menemukan ide-ide unik untuk memproliferasikan Posmodernisme. Saya – sebelumnya – berpikir bahwa Posmodernisme merupakan ‘necessary evil’ yang harus disebarluaskan untuk membangkitkan kritisisme (sungguh, saya merupakan kandidat evangelist yang baik). Saya benar-benar tidak menduga bahwa buku ini akan membawa antidote yang kuat bagi saya. Benar-benar membangunkan saya dari mimpi fanatisme gila dan membawa saya kembali pada ranah obyektifitas.

Saya dan Posmodernisme

Benar kata seorang teman, jangan pernah tenggelam dengan label-label, keep your options open (prinsip ini mungkin juga berlaku untuk ideologi sampai isyu pasangan). Sayangnya, teman ini berujar pada saya, seorang romantisis keras-kepala yang selalu mengaitkan diri dengan isme-isme apapun yang sedang saya pelajari. Tak hanya mengidentifikasi diri dengan isme-isme tersebut, saya juga akan mengadopsi isme-isme itu menjadi bagian dari identitas saya. Kelihatan sangat intelek di permukaan, namun tidak jauh berbeda dengan para fans K-Pop yang mati-matian meniru gaya rambut atau model busana artis idola mereka.

Maka saya pun merayakan Posmodernisme. Menikmati stand-up comedy, memburu foto-foto dan artikel tentang karya-karya Andy Warhol, memesan merchandise dari MOCA (Museum of Contemporary Art, Los Angeles), dan mengembangkan gejala psikosomatis tertentu ketika mendengar kata-kata ‘metanarasi’. Sampai akhirnya deskripsi Shoshana tentang Posmodernisme untuk Detektif Hunter, dan kuliah umum terakhir Ettore Gnocchi mengakhiri private party saya dengan ideology of the absurd ini.

Sesi Brainstorm Dengan Shoshana dan Ettore

“Hubungan kuat antara media dan masyarakat telah membuahkan sebentuk kesadaran yang secara radikal berbeda – kesadaran yang menolak ide soal kemajuan, yang merayakan ironi, yang bergelimang riasan dan segala sesuatu yang sifatnya instan dan dangkal, yang memadukan berbagai potongan dan cuplikan sampai membentuk kolase. Orang-orang yang hidup dalam masyarakat posmodernis itu menjalani hidup mereka dengan cara yang sama, dalam penggalan dan potongan, … tidak ada kepaduan, tidak ada lagi hubungan linear. Tak ada lagi narasi yang punya makna apapun, dan seiring dengan hilangnya narasi, hidup kita pun kehilangan maknanya.”

Demikian Shoshana menjelaskan Posmodernisme untuk Hunter. Pada titik ini saya masih bersikap resisten, mengamini pernyataannya tentang perayaan ironi dan menolak penjelasannya tentang deskripsi kehidupan masyarakat posmodernis yang serupa kolase. Saya yakin bahwa kehidupan saya masih tertata rapi seperti sistem koleksi pustaka di perpustakaan, dan toh hal itu tidak menghalangi saya untuk menjadi posmodernis. Kehidupan saya masih sangat bermakna dan bertujuan. Saya meyakini nilai-nilai tertentu yang ingin saya perjuangkan. Saya masih politis.

“Bagaimana kita mempertahankan identitas kita … di hadapan perubahan terus-menerus?”

Pertanyaan pertama dari rangkaian ceramah Ettore yang membuat saya tercenung.

“Terutama dalam masyarakat yang … segala sesuatunya tereduksi ke dalam komodifikasi. Ketika kita semua menjadi komoditas, dan menciptakan identitas kita melalui apa yang kita konsumsi, secara umum berarti kita menjual diri kepada penawar tertinggi. Dengan satu dan lain cara hal ini mencerminkan alienasi kita.”

Saya mulai merasa galau. Ettore terus berceloteh,

“Kita … mempelajarinya secara tidak langsung dari media, dari simulasi yang tanpa terasa menyita sebagian besar waktu kita, dan yang tanpa kita sadari telah membentuk kepribadian dan sistem hasrat kita. Kita telah mengembangkan sebuah masyarakat yang mementingkan gambaran mental serta penampilan visual, di mana melihat itu dianggap lebih penting daripada mengada…”

Dan simpati saya terhadap posmodernisme lumer seketika.

Klarifikasi yang Mengkonfirmasi

Tergagap dengan apa yang dikatakan oleh Shoshana dan Ettore tentang Posmodernisme, saya mencari dukungan dari figur-figur posmodernis non-fiksi yang telah mengusung gerakan ini sedari awal, dan inilah apa kata mereka:

Michel Foucault dalam Madness and Civilization: A History of Insanity in the Age of Reason
“Antara apa yang terungkap melalui bahasa dan apa yang terucap dalam wujud pejal, kesatuan mulai luluh. Pemaknaan tunggal dan identik tidak lagi menjadi sesuatu yang berlaku umum bagi keduanya. Dan jika seandainya benar bahwa citra masih memiliki fungsi untuk bertutur, … harus kita sadari bahwa citra sudah tidak lagi mengucapkan hal yang sama”

Zygmunt Bauman dalam Intimations of Posmodernity:
“Penghancuran adalah satu-satunya hal yang dikuasai dengan baik oleh pemikiran posmodern”

Douglas Kellner dalam Postmodernism as Social Theory: Some Challenges and Problems:
“Bertentangan dengan keseriusan modernisme tinggi, posmodern mempertontonkan suatu bentuk kejahilan, keisengan, dan eklektisisme baru, … , keseriusan moral modernisme tinggi digantikan oleh ironi, kolase, sinisme, komersialisme, dan pada beberapa kasus malah dengan telak digantikan oleh nihilisme”

Jean-Francois Lyotard dalam The Postmodern Condition: A Report on Knowledge:
“Seniman, pemilik galeri, kritikus, dan masyarakat ramai-ramai berkubang dalam mentalitas ‘apa saja boleh’, dan suasana zaman ini adalah suasana kemerosotan. Namun kenyataan yang mendasari sikap ‘apa saja boleh’ ini sesungguhnya adalah uang. Dengan tiadanya kriteria-kriteria estetik, satu-satunya cara yang mungkin dan berguna untuk menilai karya seni adalah berdasarkan laba yang dihasilkannya. Paradigma seperti itu mengakomodasi semua aliran, sebagaimana modal mengakomodasi semua ‘kebutuhan’, dengan syarat aliran dan kebutuhan tersebut harus punya daya beli. Sedangkan mengenai selera, orang tak perlu berselera tinggi ketika sedang mengadu nasib atau menghibur dirinya sendiri”

Jean Baudrillard dalam On Nihilism:
“Dibanding masalah lainnya, posmodernitas lebih merupakan masalah bertahan hidup di antara sisa-sisa reruntuhan”

Ah, tampaknya memang itulah Posmodernisme. Apresiasi terhadap eklektisisme dan budaya pop yang berfungsi untuk mem-profan-kan makna bangunan kultus modernitas. Tak cukup hanya berpegang pada ‘hermeneutika kecurigaan’ seperti kata Ricoeur, lebih dari itu saya harus membiarkan kritisisme itu berlari bebas tanpa ada arahan politik. Tapi, apakah benar posmodernisme tak butuh arahan politik ataupun bersifat politis?

Fredric Jameson dalam Postmodernism and Consumer Society:
“Yang paling jelas terlihat adalah terkikisnya perbedaan yang dulu ada antara kebudayaan tinggi dan kebudayaan populer. Hal ini mungkin perkembangan yang paling menggundahkan dari sudut pandang dunia akademis, yang secara turun-temurun punya kepentingan tersendiri untuk melestarikan tatanan kebudayaan tinggi dari situasi merebaknya sikap filistinisme yang anti-intelektual dan anti-estetik…”

Apparently, we’re always going to be political unless we choose to be apathetic.

Bibliografi:
Asa Berger, Arthur, Terbunuhnya Seorang Profesor Posmo, Marjin Kiri, 2006
Baudrillard, Jean, On Nihilism, On The Beach 6, 1984
Foucault, Michel, Madness and Civilization: A History of Insanity in the Age of Reason, New York: Vintage Books, 1973
Jameson, Fredric, Postmodernism and Consumer Society, dalam H. Foster ed., The Anti-Aesthetic: Essays on Postmodern Culture, Bay Press, 1983
Kellner, Douglas, Postmodernism as Social Theory: Some Challenges and Problems, Theory, Culture and Society, 5:2-3, 1988
Lyotard, Jean-Francois, The Postmodern Condition: A Report on Knowledge, University of Minnesota Press, 1984
Simons, Herbert S., dan Michael Billig ed., After Postmodernism: Reconstructing Ideology Critique, Sage Publications, 1994

About iconoclasticme

sophisticated early 20s girl (?), with much shitty crisis that makes her so...different. and even though she might not get through it well i

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: