MY REFLECTIVIST HESITATION I: The Not-So-Enlightened Academic World

Saya selalu percaya bahwa dunia akademis merupakan tempat di mana sesuatu yang bernama ‘kemurnian’ masih bisa dipertahankan. Satu-satunya tempat di mana Tuhan mau berkompromi untuk hanya memberikan reward pada mereka yang benar-benar melakukan usaha terbaiknya dan menyingkirkan si pemalas dan tipe manusia ‘parasit’ lainnya. Saya yakin tidak ada konsep ‘jalan pintas’ maupun ‘free rider’ di dalam dunia akademis.

Keyakinan ini menjadi salah satu alasan utama saya untuk memilih karir di bidang akademik sebagai tumpuan masa depan. Enggan saya berkotor-kotor dengan noda politis ataupun terjerembab dalam kubangan obsesif target ekonomi di dunia bisnis. Lagipula, saya hanya ingin mewujudkan a rewarding life dengan buku-buku dan kepuasan batin yang saya dapatkan dari melakukan riset dan mengajar, itu saja.

Namun, lagi-lagi, sepertinya saya harus berkompromi dan menarik khayalan romantisis saya. Karena ternyata idealisme itu juga masih mengambang di dunia akademik barat (Eropa dan Amerika Utara) yang selama ini saya harapkan menjadi konteks akademik terakhir yang masih berpegang teguh pada ‘puritanisme progresif’-nya. Ironisnya, gejala ini saya ketahui dalam upaya yang saya lakukan untuk mencari kesempatan studi di Amerika. Tentu saja, tanpa mengurangi rasa hormat pada sedikit ilmuwan yang masih memegang teguh komitmennya untuk memperbaiki dan membangun ranah keilmuan di Indonesia, saya ingin menyatakan bahwasanya saya tidak lagi memiliki ekspektasi tentang integritas dunia akademis di Tanah Air, setidaknya untuk saat ini.

Symbolic Power At Its Finest

Tidak salah jika ada yang menyatakan bahwa setiap keberhasilan paradigma akan selalu diikuti oleh dominasi paradigma baru tersebut, walaupun misi gerakan oposan itu pada awalnya adalah untuk mengakhiri hegemoni. Kesetaraan dalam arti yang sebenarnya sulit untuk terwujud secara total, karena pengakuan terhadap eksistensi suatu perspektif hampir secara otomatis membawa serta implikasi kekuasaan. Dan kekuasaan akan menjadi landasan dominasi lalu hegemoni. Viscious cycle kata orang.

Dikatakan sebagai salah satu produk Era Pencerahan di Eropa, proses dan institusionalisasi pendidikan menjadi tumpuan harapan banyak orang untuk mencapai konteks kehidupan yang lebih baik, dan untuk menjadi satu-satunya ruang bersuara bagi individu-individu berbakat dari kalangan minoritas pada waktu itu. Beberapa gerakan egalitarian juga bermula dari kampus-kampus ataupun kompleks pendidikan lainnya di kala itu.

Di Perancis, upaya penulisan ilmu pengetahuan secara sistematis dalam bentuk buku cetak dimulai dari kafe-kafe dan klub sosial yang disebut Salon, yang sekaligus menjadi tempat kelahiran literatur feminis pertama di negara itu. Di Inggris, kodifikasi undang-undang pekerja pertama yang berisi pelarangan terhadap pekerja di bawah umur dan pembatasan jam kerja bagi pekerja wanita juga muncul dari obrolan di rumah-rumah minum kopi di sekitar kampus Oxford yang berujung pada munculnya gerakan advokasi buruh. Pada dekade 1960an, gerakan sosial baru (new social movements) yang mengusung isyu-isyu kekinian dari perlindungan hak-hak hewan sampai gerakan anti-senjata nuklir juga muncul dari kampus-kampus.

Akan tetapi, situasi ini tidak bertahan lama. Seiring dengan institusionalisasi dan pembentukan birokrasi di dalam badan-badan pendidikan semangat apresiasi terhadap kreatifitas dan independensi pemikiran mengalami degradasi secara drastis. Lembaga pendidikan mulai disambangi oleh dimensi rasionalitas-birokratik dan bertransformasi dari fungsi nurturing menuju fungsi demanding. Lembaga pendidikan tidak lagi menjadi tempat untuk mengasah diri. Generasi muda yang masuk di dalam proses pendidikan dituntut untuk menunjukkan superioritas diri bahkan sebelum mereka menjalani pendidikan. Tugas institusi pada akhirnya hanya membungkus talenta mereka dengan tampilan yang diinginkan pasar, karena memang inilah tujuan akhir dari pendidikan. Jauh dari tujuan-tujuan ideal seperti, pembentukan kepribadian ataupun menumbuhkan empati sosial, lembaga pendidikan hanya berperan sebagai wadah ‘pemolesan’ bakat-bakat tersebut supaya siap jual di pasaran.

Tak dinyana, dua ilmuwan besar Amerika Serikat dan beberapa ilmuwan klasik Eropa juga telah memprediksikan perkembangan ini bahkan jauh sebelum pendidikan tinggi (higher education) menjadi kebutuhan primer bagi sebagian besar masyarakat. C. W. Mills datang dengan analisanya terhadap sistem pendidikan tinggi di Amerika Serikat yang semakin lama semakin terkooptasi oleh keinginan korporat dan tuntutan pasar kerja, sementara Robert K. Merton mengungkapkan aspek yang disebutnya sebagai ‘The Matthew Effect’, yaitu efek kesenjangan manfaat dan ‘kepemilikan intelektual’ yang membentuk stratifikasi sosial di dalam komunitas ilmiah.

C.W. Mills dan The Cheerful Robot

Mills adalah Sosiolog terkemuka Amerika Serikat yang dinyatakan sebagai salah satu dari sedikit ilmuwan sosial yang mampu memprediksikan kemunculan Posmodernisme sejak Modernisme masih berada di puncak kejayaannya. Tidak seperti ilmuwan kritis lainnya yang merayakan Posmodernisme, Mills menyimpan kesedihan tersendiri terhadap gejala kemunculan Posmodernisme yang ia tangkap saat itu.
Menatah gambaran dunia pendidikan tinggi Amerika Serikat dalam konteks Posmodernisme di alam pikirnya, Mills mengkhawatirkan munculnya koalisi antara lembaga pendidikan tinggi dengan korporasi dan lembaga-lembaga militer pemerintah. Jika ini terjadi, dengan berada di dalam cengkeraman tiga kaki kekuasaan (korporat, militer, dan pemerintah) maka lembaga pendidikan tinggi akan kehilangan fungsinya secara total.

Dengan skenario Mills, dapat dibayangkan bahwa para pembelajar akan terklasifikasikan menjadi dua bagian. Pembelajar teknokrat, yang dipersiapkan dan – memang – mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk dapat diserap oleh pasar kerja korporasi setelah kelulusannya, dan pembelajar ‘ilmuwan’ yang akan menghabiskan hampir seluruh hidupnya hanya di dua tempat – kampus dan situs penelitian – demi menjalankan fungsi ‘pelestarian’ kekuasaan pemerintah dan menjamin suplai ‘justifikasi’ ilmiah untuk berbagai proyek militer – di mana sepertinya saya akan segera masuk dalam klasifikasi ini.

Mills kemudian mengaitkan kondisi menyedihkan yang terjadi pada lembaga pendidikan tinggi ini dengan kelahiran Posmodernisme secara keseluruhan. Ia menulis tentang matinya kreativitas dan orisinalitas pemikiran sebagai implikasi dari komodifikasi dimensi emosional manusia, terutama individu yang sedang berada pada usia produktif kerja dan yang sibuk memenuhi tuntutan karir. Korporasi tidak lagi hanya ‘menjual’ produk mereka, dan tuntutan untuk ‘bekerja dengan baik’ tak hanya terbatas pada evaluasi kinerja. Korporasi juga ‘menjarah’ dimensi emosional pekerjanya – “Jangan membawa masalah pribadi ke kantor” – dan dengan demikian ‘bekerja maksimal’ juga meliputi ‘senyuman palsu’ dan ‘kebahagiaan pura-pura’ yang harus ditunjukkan pekerja untuk memenuhi fungsi profesionalnya. Mills menyebut mereka sebagai the Cheerful Robots, generasi terbaru manusia posmodernis yang dapat tersenyum tanpa kemampuan untuk ‘merasa’.

The Matthew Effect: Ketika Raja-Raja Kecil Muncul

Ketika Mills membandingkan fungsi ideal lembaga pendidikan dengan kenyataan yang tersaji di Amerika Serikat saat itu, Merton menemukan aspek destruktif lainnya di dalam dunia pendidikan yang tak kalah mengerikan dengan skenario Mills tentang Cheerful Robots.

The Matthew Effect, demikian Merton menyebutnya, merupakan hasil analisa Merton terhadap dinamika sosial yang terjadi di kalangan ilmuwan. Ia menyebutkan bahwa The Matthew Effect ditandai oleh adanya penghargaan dan apresiasi ilmiah yang diberikan secara disproporsional. Dan fenomena ini lebih dari sekadar jeritan tentang kesenjangan apresiasi saja.

Fenomena ini membawa implikasi mendalam terhadap apa yang sebenarnya terjadi pada kalangan komunitas ilmiah, bagaimana lingkungan struktural feodalis yang terbentuk di kalangan ilmuwan mempengaruhi perkembangan ruang intelektual seseorang, dan bahkan menunjukkan peran fundamental perspektif feodalis tersebut dalam proses ‘alienasi’ tak-langsung terhadap individu-individu yang tidak dapat menunjukkan bakatnya – Merton menyebut individu-individu ini sebagai ‘The Late Bloomers’.

Pendek kata, Merton menyibak empat prinsip institusional yang berlaku di kalangan komunitas ilmiah, yaitu, norma ‘komunis’ yang mengejawantah dalam kewajiban untuk mempublikasikan setiap temuan ilmiah; norma ‘universalis’ yang mewajibkan setiap klaim ilmiah untuk menjalani uji validitas impersonal terlebih dahulu sebelum mendapatkan pengakuan luas; norma ‘obyektifitas’, mendoktrinkan bahwasanya temuan ilmiah harus bebas dari nilai-nilai pribadi ilmuwan; dan terakhir, norma skeptisisme yang telah terorganisir dan terlembaga.

Prinsip-prinsip tersebut saling terkait satu sama lain untuk memastikan bahwa hanya para ilmuwan tertentu saja yang mampu menembus berbagai tahapan evaluatif untuk akhirnya dapat dikatakan pantas menerima pengakuan publik atas temuan ilmiahnya. Dengan demikian, kalangan ilmuwan tetap merupakan sekelompok elit dan klaim atas hak-hak istimewa yang berlaku atas kelompok inipun masih tetap dapat dipertahankan.

Seluruh analisa Merton merujuk pada praktek terlembaga di dalam komunitas ilmiah yang mengagungkan nama-nama besar dan memberikan apresiasi yang cenderung berlebihan terhadap nama-nama tertentu, dan di sisi lain meremehkan potensi-potensi ilmuwan yunior dengan menerapkan skeptisisme berlebihan terhadap karya-karya mereka, atau bahkan lebih buruk dari itu, meng’alienasi’ nama-nama yunior dan meng’hilang’kan kontribusi mereka untuk menonjolkan nama-nama senior.

Sisi gelap dunia pendidikan dan kompetisi keilmuan tersebut pada akhirnya hanya akan memusnahkan potensi-potensi brilian yang mungkin dapat menyumbangkan kontribusi keilmuan yang signifikan di masa yang akan datang. Lebih dari itu, secara prinsipil, praktek yang tak terkodifikasi – namun terlembaga – ini telah menghancurkan nilai-nilai utama yang harus dijunjung tinggi oleh dunia pendidikan itu sendiri. Karena ‘pemberhalaan’ adalah pangkal dari semua kebodohan.

Mutatis Mutandis!

Reading List:
Merton, R. 1938. “Social Structure and Anomie,” American Sociological Review 3:672-682.
Mills, C.W. 1964. Sociology and Pragmatism: The Higher Learning in America. New York: Paine-Whitman Publishers.
Mills, C.W. [1951]2002. White Collar: The American Middle Class. New York: Oxford University Press.

About iconoclasticme

sophisticated early 20s girl (?), with much shitty crisis that makes her so...different. and even though she might not get through it well i

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: