I AM A FEMINIST, THEREFORE I AM A MUSLIM (inspired by Dr. Muqtedar Khan’s famous quote, “I Think, Therefore I am A Muslim)

Jika saja Tuhan tidak memberikan kekuatan kepada saya untuk memberanikan diri bersikap kritis terhadap segala sesuatu, mungkin pada saat ini saya telah memilih sikap yang serupa dengan Ayaan Hirsi Ali, terjungkal dari satu titik ekstrim pemikiran menuju ekstrim pemikiran lainnya, bahkan tanpa pernah tahu kapan saya harus berhenti sejenak untuk memikirkan segalanya, mengendapkannya baik-baik dalam rasio dan rasa, untuk kemudian mengambil langkah lain yang lebih baik jika itu memang harus dilakukan.

Saya tidak sedang men-deduksi sebuah kesimpulan bahwa Tuhan lebih memberkati saya daripada Hirsi Ali, karena ini semua hanya tentang pilihan. Saya percaya bahwa – seperti halnya kecerdasan – Tuhan memberikan porsi kekuatan yang sama kepada setiap manusia, dan seperti ‘bahan mentah’ lain yang Tuhan bagikan untuk kita, kekuatan bersifat fleksibel dalam kegunaan maupun kapasitasnya. Ini berarti bahwa setiap orang memiliki kebebasan untuk menggunakannya dalam kerangka tujuan apapun (positif maupun negatif) dan berhak mengembangkan level kapabilitas kekuatan tersebut sampai pada titik yang ia kehendaki.

Hal ini juga berarti bahwa Tuhan memberkati Hirsi Ali dengan kekuatan yang sama dengan yang saya miliki. Hanya saja, pada akhirnya Hirsi Ali memilih untuk menerjemahkan kekuatan tersebut dalam ekspresi keberanian yang begitu naïf dan terburu-buru, sedangkan saya memilih transformasi bertahap yang masih membuka ruang bagi saya untuk berkontemplasi dan mengkritisi segalanya, termasuk pilihan-pilihan yang semula saya anggap benar.

Tumbuh di tengah keluarga relijius-tradisional yang mencampur-adukkan dimensi penyerahan diri kepada Tuhan dengan kultur kemasyarakatan yang misoginis, masa kecil perempuan-perempuan seperti kami jauh dari Barbie dan dunia dongeng Disney. Justifikasi ketuhanan dan bayang-bayang dikotomi Surga dan Neraka yang menyertai setiap peraturan yang dijejalkan kepada kami tak pelak membuat ‘pertanyaan-pertanyaan konyol’ tentang keadilan Tuhan dan posisi perempuan di dalam Islam bermunculan dalam benak.

Hirsi Ali memilih untuk menggunakan pengalaman masa kecil ini sebagai dasar langkah yang ia ambil di kala dewasa untuk mendeklarasikan diri sebagai Ateis dan mengecam Islam, sementara saya menggunakannya sebagai landasan untuk mulai menggali lebih dalam tentang Islam dan keislaman itu sendiri. Saya sendiri mengherankan langkah Hirsi Ali yang menggunakan visi prematur-nya di masa kanak-kanak sebagai dasar pergeseran perspektifnya. Bagi saya, tidak cukup adil bagi Tuhan ketika pandangan kita tentang-Nya dipengaruhi atau bahkan dibentuk oleh pandangan kita terhadap lingkungan sekitar dan – oleh – masa kecil kita. Tuhan lebih luas dari sekadar pengalaman menyakitkan pun trauma terdalam kita, Tuhan bahkan lebih luas dari seluruh dimensi kehidupan, dan satu hal yang pasti Ia bukanlah pemadam harapan, Ia adalah sumber dari segala harapan, jawaban dari segala cita-cita.

Hirsi Ali menyatakan bahwa pilihannya terhadap Ateisme merupakan konsekwensi dari kekecewaannya terhadap Islam dan pertemuannya dengan Feminisme. Keputusan tersebut ia ambil beberapa saat setelah ia menonton tayangan runtuhnya menara kembar WTC pada peristiwa 9/11. Sebuah keputusan yang patut disayangkan bagi seseorang dengan kualitas intelektual dan orisinalitas independensi diri seperti Hirsi Ali. Kekecewaannya pada Islam dan momen pengambilan keputusan yang terjadi setelah 9/11 merefleksikan ketergesa-gesaan dan kesimpulan yang prematur.

Pada titik tertentu, kebiadaban yang dilakukan atas nama agama merupakan fakta yang tidak dapat lagi diperdebatkan. Akan tetapi, generalisasi klaim yang hanya didasarkan kepada segenggam fakta yang menampilkan sedikit sisi dari suatu konsep yang luas juga merupakan sesuatu yang tidak dapat dibenarkan. Ini karena, ketika kita berbicara tentang Muslim – sebagai pelaku ritus agama Islam – maka kita sedang berhadapan dengan subyek yang sangat heterogen. Kalaupun sebagian besar Muslim di dunia terbukti memilih sikap pro-kekerasan dan sepakat dengan aksi teror yang mengatasnamakan Islam, asumsi Hirsi Ali terhadap agama ini – yang menurutnya mengandung nilai-nilai keterpurukan yang inheren – masih tidak dapat dibenarkan dan tidak dapat dikatakan adil bagi Muslim yang memegang teguh nilai anti-kekerasan. Prinsip yang akan lebih mudah dipahami dalam bahasa logika: No matter how many instances of white swans we may have observed, this doesn’t justify the conclusion that all swans are white.

The Feminist Muslim

Pokok dari perspektif feminis adalah komitmen terhadap nilai dan sikap emansipatif. (Oxford Advanced Learner’s Dictionary: Emancipate = “to free somebody, especially from legal, political or social restrictions”) Yaitu seperangkat nilai dan sikap yang mendukung pembebasan beragam suara dari berbagai kelompok sosial, budaya, ekonomi, politik, jender, agama dan sistem kepercayaan, seks dan orientasi seksual, maupun ras dan etnis.

Walaupun pada awalnya Feminisme lahir dari gerakan advokasi kesetaraan jender antara laki-laki dan perempuan dalam riuh-rendah ledakan Gerakan Sosial Baru, akan tetapi perkembangan selanjutnya dari perspektif Feminisme tidak hanya menitik-beratkan diskursusnya pada isyu-isyu kesetaraan jender. Dikotomi ‘feminin-maskulin’ yang menjadi poros utama dari paradigma ini digali inti maknanya untuk kemudian diterapkan sebagai alat untuk menjabarkan berbagai bentuk kesenjangan dan kekerasan struktural – tangible maupun tidak – yang ternyata hadir dan dapat ditemui dalam hampir semua sendi kehidupan. Dengan demikian, nilai dan sikap yang terorientasi kepada penghapusan kesenjangan dan kekerasan struktural di seluruh lini kehidupan merupakan nilai dan sikap emansipatif yang merupakan makna dari menjadi feminis di tataran individual.

Kebudayaan, sistem sosial, dan dunia keilmuan Islam, sebagai tiga hal utama yang membentuk peradaban, merupakan dimensi-dimensi yang pernah akrab dengan nilai emansipatif. Hal ini juga merupakan salah satu alasan dibalik luasnya penerimaan peradaban Islam (yang memiliki pengertian SANGAT BERBEDA dengan agama Islam) hampir di seluruh penjuru dunia pada masa yang lalu.

Dari ketiga dimensi tersebut, dimensi keilmuan merupakan peletak batu pertama nilai emansipatif dalam bangunan peradaban Islam. Tradisi keilmuan filsafat dan sains dalam perkembangan awal dari dunia akademik Islam mendapatkan benihnya dari tradisi filsafat Yunani yang datang melalui program penerjemahan karya-karya filsuf Yunani secara masif yang disponsori oleh kekhalifahan Islam antara abad ke-8 sampai ke-9 masehi. Langkah penerjemahan tersebut merupakan bentuk konservasi atas kekayaan intelektual Yunani yang terancam musnah akibat maraknya kebencian antar-agama (religious bigotry) yang kental mewarnai Eropa di abad pertengahan. Sampai kemudian para pemikir rasional awal Eropa meng-klaim kembali pengetahuan tersebut melalui penerjemahan karya-karya berbahasa Arab ke bahasa Latin. Maka, jika kemudian observasi tentang pewaris pertama Socrates, Plato, dan Aristoteles memang perlu untuk dilakukan, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa mereka adalah Al-Farabi (339/950), Ibn Rushd (1126/1198), Ibn Sina (980/1037), Abu Hanifa (699/767) serta sederet ilmuwan dan filsuf muslim lainnya.

Kosmopolit-nya dunia pemikiran Islam saat itu dapat dirasakan pula dari munculnya berbagai aliran filsafat, yang diantaranya, Masha’iyyah, Ishraqiyyah, dan Wujudiyyah. Aliran filsafat Ishraqiyyah (al-ida fat al-ishraqiyyah) merupakan salah satu yang terpopuler dan mendapatkan julukan sebagai Filsafat Iluminasi pada puncak perkembangannya. Aliran Ishraqiyyah membuka ruang luas bagi munculnya pendekatan-pendekatan alternatif dalam aspek ontologi, kosmologi, dan perkembangan ilmu pengetahuan secara keseluruhan.

Suburnya pluralisme pemikiran dan terbukanya ruang diskursus publik di masa itu merupakan bukti kuat dari hadirnya sikap emansipatif di kalangan masyarakat. Tak hanya puas dengan pengetahuan dari Yunani, para ilmuwan Islam di masa itu juga tidak segan untuk melakukan perjalanan jauh dan melelahkan untuk mencari pengetahuan-pengetahuan baru dari India dan Timur Jauh. Demikianlah pada akhirnya peradaban Islam tumbuh menjadi sistem kehidupan yang dielu-elukan oleh berbagai bangsa tanpa harus ‘menjejalkannya’ pada dunia.

 

Sejak semula tulisan ini lebih ditujukan untuk refleksi personal saya dalam mewujudkan pribadi muslim yang lebih baik. Pada prinsipnya, sampai detik ini saya yakin bahwa seluruh agama pasti akan menuju pada muara perdamaian dan bahwa esensi ketuhanan yang menjadi pusat kepatuhan dan sumber kesalihan kita masing-masing adalah esensi yang sama. Agama adalah semacam ‘manual lengkap’ yang kita masing-masing miliki untuk bersentuhan dengan esensi tersebut, dan kembali, hingga saat ini saya masih merasa nyaman dengan ‘manual’ yang saya ikuti dan InshaAllah akan terus saya ikuti.

Mengapa tidak? Setiap upaya yang saya lakukan untuk mempelajari agama ini selalu mempertemukan saya pada pengetahuan-pengetahuan baru tentangnya yang memperkuat visi kemanusiaan saya, mengasah sikap emansipatif saya, dan pada akhirnya memperteguh keyakinan saya tentang Tuhan, bahwa Ia adalah Sang Maha Pengasih dan Penyayang pada seluruh makhluknya, bahwa Ia adalah Sang Feminis.

Untuk menutup tulisan ini saya ingin ber-rendezvous dengan femininitas saya sendiri, karena merasakan dan merayakan keperempuanan saya adalah bagian dari ‘ritus’ syukur saya kepada-Nya.

“Smiling prettily in front of the mirror

Placing a crown of woven flowers

Among carefully combed curls

Attaining a posture that empowers”

 

“Walking into the freshness of the day

Hearing the song that free birds sing

Wearing a dress with ruffles and bows

Enjoying the marvels of a joyous spring”

 

“Returning home…passing a diamond

Enhanced with emerald green grass

Hanging her delicate frock in the closet

Putting on jeans and a T-shirt at last”

 

“A brimmed baseball cap firmly flattens

The girlish traces of feminine familiarity

With enthusiasm she bounds to the field

Soon the crack of the bat rings with clarity”

 

“Girls Will Be Girls”

(Theresa Ann Moore)  

 

Reading List:

Carol R. Ember, Melvin Ember (eds.). 2003. Encyclopedia of Sex and Gender: Men and Women In The World’s Cultures. Kluwer Academic-Plenum Publishers.New York

Abdul Aziz Said, Mohammed Abu-Nimer, Meena Sharify-Funk (eds.). 2006. Contemporary Islam: Dynamic Not Static. Routledge

Ellen T. Armour, Susan M. ST. Ville, (eds.). 2006. Bodily Citations: Religion and Judith Butler. Columbia University Press

About iconoclasticme

sophisticated early 20s girl (?), with much shitty crisis that makes her so...different. and even though she might not get through it well i

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: