PESANTREN: PANDANGAN SEORANG ALUMNI

Terlepas dari ‘keterpaksaan’ saya pada periode awal tinggal di Pesantren, detik ini saya dapat menyatakan bahwa saya adalah salah satu dari sedikit orang yang sangat beruntung berkesempatan mengenyam pendidikan di Pesantren. Jauh di luar batas pendidikan formal, Pesantren telah turut membentuk kepekaan sosial, kepekaan reliji, daya nalar dan kritisisme, kemandirian, determinasi, integritas diri, dan sederet nilai positif lainnya yang dapat saya rasakan manfaatnya saat ini. Tak dinyana memang, lembaga tradisional yang identik dengan perspektif konservatif tersebut bisa memberikan efek edukatif yang (hampir) menyeluruh. Saya akan mencoba menceritakan mengapa dan bagaimana Pesantren bisa mengantarkan saya pada manfaat-manfaat tersebut, namun ada baiknya saya mengawalinya dengan gambaran kesejarahan Pesantren, satu-satunya sistem pendidikan yang – menurut beberapa pihak – asli Indonesia.

Sebagai lembaga pendidikan tertua di Nusantara, perkembangan pertama pesantren dapat dirujuk hingga pada masa pra-kolonial di abad ke-15 Masehi. Tradisi padepokan yang merupakan sistem pendidikan relijius Hindu-Buddha di kala itu bertemu dengan pengaruh budaya sufistik yang dibawa oleh para saudagar Islam ke wilayah Nusantara. Terminologi ‘Pesantren’ sendiri dikembangkan dari kata ‘Santri’ yang lahir dari bahasa Sansekerta ‘Cantrik’ yang berarti ‘orang yang mengikuti guru’. Pada perkembangannya pesantren-pesantren di Nusantara telah menjadi tempat lahirnya ilmuwan-ilmuwan besar yang tidak hanya diakui keilmuannya di wilayah Nusantara, melainkan juga di tataran internasional, sebut saja seperti Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantany, seorang ulama besar dari Serang, Banten, yang sekitar tahun 1800an telah dipercaya menjadi pengajar tamu di Universitas Al-Azhar, Mesir. Di masa kolonial, pesantren-pesantren juga memiliki peran sebagai kantong-kantong pendukung para pejuang, bahkan tak jarang para santri juga ikut berperang di lini depan.

Dari rangkuman sejarah itu tidaklah mengherankan jika eksistensi pesantren di Indonesia memiliki peran sosial yang sangat kental. Para santri yang belajar di pesantren bukanlah sekelompok pembelajar yang terpisah dari problematika sosial di sekitarnya. Tidak seperti kesejarahan ‘Masa Pencerahan’ (sebagai momentum bangkitnya dunia keilmuan di Eropa) yang mencetak ilmuwan-ilmuwan dari kelompok elit-bangsawan, pesantren di Indonesia lahir dari refleksi keinginan masyarakat kecil untuk maju dan mengenyam pendidikan. Karena alasan yang sama pula pesantren-pesantren di jaman dahulu seringkali tidak meminta bayaran apapun dari para santri. Mereka benar-benar berdiri sebagai media pendidikan alternatif yang dapat dijangkau semua golongan dan dilestarikan oleh daya mandiri masyarakat. Sebuah sistem ‘masyarakat madani’ yang sempurna, yang sekarang malah dielu-elukan keberadaannya oleh konteks sosietal kontemporer.

Karena itu pula, pesantren dan sistem pendidikan di dalamnya tidak pernah lepas dari (paling tidak) tiga kultur utama, yakni, persaudaraan, ‘tirakat’, dan ‘barokah’. Kultur persaudaraan memungkinkan para santri untuk mengembangkan kepekaan sosial seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Betapa tidak, di pesantren santri dituntut untuk hidup layaknya di lingkungan sosial yang sebenarnya. ‘Masyarakat’ santri tak lepas dari berbagai perbedaan (teman-teman yang dulu hidup bersama saya di pesantren, tidak hanya berasal dari wilayah Indonesia, melainkan mencakup hampir seluruh kawasan Asia Tenggara), problematika ‘sosial’, fakta struktural, dan sebagainya. Di usia yang masih cukup muda, saya dan kawan-kawan santri dituntut untuk bertumbuh dan berperan menjadi anggota masyarakat yang baik, dan insha Allah, rata-rata dari kami sanggup mengatasinya.

Kultur kedua adalah ‘tirakat’. Menjadi seorang santri tidaklah dilakukan dengan sekedar mengikuti proses pendidikan sampai selesai dan tinggal di pesantren. Menjadi santri berarti gemblengan untuk menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, dan berintegritas. Di usia yang masih dini, kami dituntut untuk membentuk sistem belajar sendiri, dengan cara yang dapat dimodifikasi sesuai dengan individu masing-masing. Selain itu, kami tidak memiliki keluarga dekat di pesantren. Sesama kawan santri, pengurus pondok, dan para ustadz/ustadzah-lah yang menjadi ‘keluarga’ bagi santri. Tidak ada ayah, ibu, maupun saudara, berarti tanggung-jawab keseharian berada di pundak santri sendiri. Lebih jauh, kultur ‘tirakat’ juga mencetak santri menjadi orang-orang yang tangguh. Pesan besarnya adalah, tidak ada jalan yang mudah jika kamu mau mencapai cita-cita yang tinggi. Pengajian yang berjam-jam lamanya, hafalan-hafalan dengan bahasa yang rumit, puasa-puasa sunnah yang ‘diwajibkan’, sampai larangan untuk membawa benda-benda pribadi untuk kenyamanan diri (seperti, kasur, baju yang berlebihan, dll) adalah bentuk-bentuk latihan yang menempa santri untuk memiliki integritas yang kokoh. Pesantren sepertinya meneriakkan pada para santri, “how far can you go with all these difficulties?” (seberapa jauh kamu mau berusaha mencapai cita-cita dengan berbagai kesulitan yang menghadang?). Dampaknya luar biasa, sebagian besar santri (yang saya tahu) tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas dan berkomitmen, mereka bukan pribadi cengeng, tak mudah untuk diombang-ambingkan zaman dan gigih mencapai cita-cita masing-masing.

Kultur ketiga adalah ‘barokah’. Kultur ini tumbuh di kalangan santri yang berkeyakinan bahwa apapun resikonya, selama mereka mematuhi nasehat dan saran-saran Kyai, pada akhirnya mereka akan berhasil. Ada yang mengaitkan kultur ini dengan efek-efek ‘sacred’ yang berasal dari doa Kyai yang sangat tulus untuk para santrinya. Saya tidak akan menyinggung hal tersebut, karena bagaimanapun juga, hal yang bersifat Ketuhanan tak dapat sepenuhnya dinalar. Saya sendiri meyakini konsep ‘barokah’ tersebut dalam perspektif yang agak berbeda, terlepas dari doa Kyai atau bukan, bagi saya selama kita meniru jejak langkah para cendekiawan yang bijaksana (di mana Kyai adalah termasuk di dalamnya) pada akhirnya kita akan menemukan ‘kunci kesuksesan’ itu sendiri. Orang-orang seperti para Kyai di pesantren, adalah orang-orang yang tak hanya berilmu, akan tetapi juga berkepribadian dan memiliki pemahaman yang sangat dalam atas berbagai fenomena kehidupan. Santri sebagai kaum muda yang masih mencari jati dirinya akan tersesat tanpa jalan untuk kembali tanpa adanya ‘role model’ yang dapat menjadi tempat bernaung dan bertanya, dan bagi santri, ‘role model’ itu adalah Kyai. Sehingga jika kita meniru jejak-langkah para alim-bijaksana tersebut, logically speaking, kita juga akan sampai pada titik kesuksesan. Itulah pemahaman saya atas ‘barokah’.

Pesantren, Tradisional? 

Banyak generasi muda (tak terkecuali saya pada beberapa tahun yang lalu) bersikap skeptis terhadap Pesantren. Bagi kaum skeptis ini, pesantren adalah lembaga tradisional yang anti-globalisasi, nilai-nilai kemerdekaan, dan modernitas. Tak dapat dipungkiri, memang terdapat beberapa pesantren yang MEMILIH untuk tetap berada di jalan ‘tradisional’ untuk menjaga komitmen ajarannya, beberapa kalangan menyebutnya sebagai Pesantren Salafi/Salaf. Saya sendiri telah mengenyam pendidikan di Pesantren Salaf maupun Pesantren Modern. Akan tetapi, terlepas dari itu semua, jika kita mencoba menganalisa ketiga kultur utama tadi dengan lebih dalam maka akan kita dapati bahwa pesantren tidaklah se-tradisional yang kita pikirkan.

Pelajaran tentang kepekaan sosial adalah sesuatu yang sedang digalakkan dalam kurikulum pendidikan di Eropa maupun di Amerika Serikat pada saat ini. Nilai-nilai individualis yang lahir sebagai konsekuensi dari liberalisme terbukti telah membentuk generasi apatis yang sangat dirasakan kerugiannya oleh masyarakat Barat pada saat ini. Sementara itu, santri di pesantren telah mendapatkan pelajaran yang sama sejak beberapa abad yang lalu. Tentang kultur ‘tirakat’, pelajaran tentang ‘kemandirian’ dan ‘perjuangan hidup’ juga merupakan sesuatu yang didambakan oleh banyak sistem pendidikan modern. Dengan lahirnya ‘generasi instan’ yang dapat mengunduh semuanya dari internet, sistem pendidikan yang dapat menumbuhkan pemahaman tentang nilai meritokrasi yang sesungguhnya pada generasi muda merupakan PR besar bagi dunia pendidikan non-pesantren saat ini. Dan yang terakhir, kultur ‘barokah’, di dalam perspektif saya kultur tersebut serupa dengan mekanisme ‘Mentoring’ yang telah menjadi bagian dari mekanisme regenerasi korporasi-korporasi besar. ‘Mentoring’ adalah sistem pengajaran peer-to-peer yang menugaskan eksekutif-eksekutif yang berada di puncak karirnya untuk menemukan satu atau dua yunior berbakat yang harus mereka didik untuk menjadi penggantinya. ‘Mentoring’ bersifat sangat personal, di mana tidak ada langkah-langkah khusus yang harus diterapkan ‘Mentor’ (pengajar) kepada ‘Mentee’-nya (yang diajar). Jadi, pada umumnya para Mentor akan mengajarkan langkah-langkah sukses mereka untuk menuju puncak karir kepada Mentee-nya, dan tugas para Mentee hanya satu, yaitu mengikuti apapun langkah yang disarankan oleh sang Mentor kepada mereka. Tariklah deskripsi tersebut pada bahasan saya tentang konsep ‘barokah’ di atas, dan kita dapat melihat komparasinya dengan sangat jelas.

Jadi, pesantren bagi saya adalah institusi yang pada hakikatnya berjiwa sangat kontemporer. Ia bahkan telah menggunakan sistem-sistem pendidikan yang hingga saat ini masih diramu ketepatannya oleh para pendidik modern, secara sangat sempurna. Dan lagi-lagi saya masih saja belum cukup merasa bersyukur telah ditempa oleh lembaga pendidikan ini di dalam salah satu segmen kehidupan saya. Terima kasih, Pesantren🙂

 

*Tulisan ini terinspirasi oleh tarik-menarik opini antara ‘kelompok skeptis’ dan para santri di salah satu alma mater penulis tentang satu isyu tertentu.

About iconoclasticme

sophisticated early 20s girl (?), with much shitty crisis that makes her so...different. and even though she might not get through it well i

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: