Tentang Memanusiakan Manusia

Begitu terpesonanya saya pada cara Kantor Urusan Pasca-Sarjana (Graduate Admissions Office) di Kroc Institute for International Peace Studies, University of Notre Dame, dalam memperlakukan para kandidat mahasiswa-nya (prospective students), sampai-sampai saya terdorong untuk menulis note ini khusus untuk mengapresiasi bantuan mereka. Demi keutuhan pesan moral yang telah saya pelajari dari mereka, maka izinkan saya untuk memulai cerita ini dari awal. 

Saya telah mendengar tentang University of Notre Dame sejak masa kuliah di S1 dari beberapa karya Professor A. Rashied Omar. Akan tetapi, niatan untuk menjadi salah satu bagian dari Notre Dame baru muncul di awal tahun 2011 di tengah usaha saya untuk mendapatkan kesempatan meneruskan pendidikan ke jenjang pasca-sarjana.

University of Notre Dame sendiri merupakan kampus Katolik yang berdiri sejak abad ke-18 di Indiana, U.S.A. Didirikan dan, hingga saat ini, dikelola oleh Congregation of Holy Cross, kampus ini kental dengan nuansa Katolik. Banyak di antara staf pengajarnya yang bertitel ‘Reverend’; dengan basilika super-besar dengan kubah emas dan patung Bunda Maria menjulang tinggi di puncaknya (note: Nama Notre Dame sendiri bermakna ‘Our Lady’. Universitas yang lengkapnya disebut sebagai L’Université de Notre Dame du Lac ini memang didirikan untuk menghormati Bunda Maria); Mural Yesus Kristus setinggi 132 kaki yang menghiasi gedung perpustakaan utama; dan sebuah ‘grotto’ yang ramai dikunjungi peziarah sepanjang tahun.

Pada mulanya, kuatnya kultur Katolik di kampus ini membuat saya merasa ragu untuk mencoba mendaftarkan diri. Bukan karena saya bersikap anti-Kristiani, akan tetapi lebih karena kekhawatiran tak mendasar yang saya biarkan menyelimuti pemikiran. Saya takut latar belakang ‘Islam tradisional’ akan membuat aplikasi saya ter-eliminir bahkan sebelum dewan penyeleksi mempertimbangkannya. Bagaimanapun juga, kombinasi dari kuatnya keinginan untuk bersekolah lagi, dukungan penuh dan tiada akhir dari Prof Omar, dan iming-iming fasilitas finansial yang menggiurkan dari Kroc Institute, membuat saya memantapkan diri untuk mendaftar.

Yang terjadi kemudian adalah bukannya pembuktian atas kekhawatiran prematur saya. Sebaliknya, Kroc Institute, melalui Graduate Admission Office-nya, membuktikan komitmen mereka atas misi utama pendidikan, yakni untuk memanusiakan manusia tanpa memandang latar belakang ataupun siapa dirinya. Sedari awal, para staf di GAO membantu saya melewati proses aplikasi yang sangat melelahkan.

Sebagai orang yang baru pertama kali mendaftarkan diri di universitas di Amerika Serikat (sebelumnya saya pernah melewati jalur independen ini pula, dengan kampus-kampus di Eropa) berkas aplikasi saya lumayan ‘acakadut’. Banyak komponen yang hilang atau terlewatkan TANPA SAYA MENYADARINYA. Dan setiap kali hal itu terjadi, para staf di GAO MENGINGATKAN SAYA untuk melengkapi berkas terkait, bahkan membantu saya untuk memahami instruksi aplikasi yang sangat high-tech dan lumayan ‘mbulet’.

Saya tidak pernah menunggu lama untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seputar aplikasi yang tak ada habisnya. Maksimal, saya menunggu 12 jam untuk mendapatkan jawaban tersebut. Padahal mengingat perbedaan waktu antara U.S.A dan Indonesia (dan mengingat ratusan ribu aplikasi yang mereka tangani saat ini), para staf GAO sangat memiliki alasan untuk memberikan jawaban itu dalam jangka waktu seminggu atau lebih. Saya pun akan sangat memahaminya.

Tak ada habisnya rasanya jika saya mau menyebutkan berbagai dukungan dan bantuan sepenuh hati yang diberikan oleh para staf GAO. Dan jikalau saya tidak berhasil dalam aplikasi kali ini (saya yakin Allah SWT mendengar doa-doa saya), saya tidak menyesal telah berkesempatan untuk mengenal para staf GAO.

Ketika mengingat-ingat dukungan dan bantuan mereka, saya tak dapat menahan untuk mengkomparasikannya dengan staf-staf administratif di alma mater saya dulu. Betapa bukannya menjadi ‘sahabat’ bagi mahasiswa, para staf tersebut bertingkah layaknya ‘sang penguasa takdir’ mahasiswa. Mereka paham betul akan pentingnya peran mereka bagi mahasiswa, mulai dari urusan KTM yang hilang, penundaan pembayaran SPP, sampai pengambilan KRS dan pengurusan ujian skripsi, ditangani oleh para staf ini. Sayangnya, alih-alih memberikan teladan tentang integritas dan profesionalitas kerja kepada mahasiswa, mereka malah menyalahgunakan kewenangan ini untuk menghujamkan krusial-nya eksistensi mereka di mata mahasiswa.

Saya masih mengingat dengan jelas, bagaimana saya dan teman-teman di kala itu membandingkan mereka (staf administratif kampus) dengan beberapa dosen kami yang bertitel Ph.D dan sangat bijaksana. Kami seringkali sampai pada kesimpulan bahwasanya dominasi para staf tersebut (yang rata-rata hanya lulus S1) lebih terasa ‘hegemon’ daripada dosen kami yang Ph.D dan telah bertahun-tahun sekolah di luar negri. Tak jarang, beberapa teman mengambil jalan pintas dengan menyerahkan ‘upeti’ pada mereka demi lancarnya proses administrasi akademik.

Kembali pada para staf berhati lembut di Notre Dame, saya menyadari betapa saya telah berpikiran negatif pada pihak universitas. Saya mencari-cari alasan untuk membenarkan ketakutan pribadi yang sebenarnya bermuara pada inferior complex saya. Lebih jauh, saya mendapatkan pelajaran moral yang sangat berarti dari mereka, yaitu bahwasanya ‘memanusiakan manusia’ bukan lagi hanya menjadi prinsip tertulis dalam institusi pendidikan, akan tetapi, lebih dari itu harus menjadi warna di setiap derap langkah kelembagaannya. Bagi saya pribadi, University of Notre Dame telah berhasil menjadi lembaga pendidikan seutuhnya. Terbukti, institusi ini telah mengajari saya sebuah pelajaran moral berharga, bahkan ketika saya belum resmi menjadi mahasiswanya.

 

Jember, January 24th, 2013

 

With a lot of love and appreciation for the best GA Officers in the world (you guys are cool!!!):

Ms. Diane P. King – Kroc Institute for International Peace Studies, University of Notre Dame

Ms. Inez Suhardjo-University of Notre Dame

Mr. Brad Miller-Josef Korbel School of International Studies, University of Denver

Mr. Michael O’Shannassy-ANU College of Asia and the Pacific, Australian National University

Ms. Veronica Blake-School of Politics and International Relations, University of Nottingham

*Tulisan ini awalnya muncul dalam bentuk note pada laman Facebook penulis, akhir Januari 2013. Pada saat ini penulis telah menerima keputusan dari University of Notre Dame dan diterima pada program Master of Arts untuk Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik. Penulis akan memulai studinya pada Agustus 2013.

About iconoclasticme

sophisticated early 20s girl (?), with much shitty crisis that makes her so...different. and even though she might not get through it well i

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: